Penumpang KAI via Manggarai Capai 5,4 Juta pada 2025
– Data internal PT Kereta Api Indonesia (Persero) menunjukkan pertumbuhan jumlah penumpang sejak 2023. Angka penumpang tercatat naik dari 5,1 juta pada 2023 menjadi 5,4 juta pada 2025.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyebut Stasiun Manggarai menjadi salah satu simpul utama pergerakan komuter dengan volume penumpang yang konsisten tinggi.
“Selama periode 2023–2025, jumlah penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) yang melalui simpul Manggarai tercatat 5,1 juta penumpang pada 2023, meningkat menjadi 5,5 juta penumpang pada 2024, dan berada pada 5,4 juta penumpang pada 2025,” kata Anne dalam keterangan resmi, Minggu (25/1/2026).
“Konsistensi ini mencerminkan peran Manggarai sebagai titik temu perjalanan masyarakat dari kawasan tempat tinggal menuju pusat kegiatan ekonomi Jakarta dan sekitarnya,” lanjut Anne.
Pertumbuhan jumlah penumpang tersebut turut ditopang keterhubungan Stasiun Manggarai dengan layanan menuju Bandara Soekarno-Hatta.
Layanan Commuter Line Bandara mencatat peningkatan jumlah penumpang dari 1,9 juta orang pada 2023 menjadi 2,2 juta orang pada 2024. Angka tersebut kembali naik menjadi 2,3 juta orang pada 2025.
Tren tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap konektivitas antarsimpul transportasi utama yang terhubung langsung dengan pusat aktivitas ekonomi dan jasa.
“Integrasi Stasiun Manggarai dirancang untuk mendukung mobilitas masyarakat yang mengutamakan kemudahan akses dan efisiensi waktu. Dengan keterhubungan antarlintas, aktivitas harian dapat dijalani secara lebih ringkas,” ujar Anne.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2024 menunjukkan kawasan perkotaan didominasi penduduk usia produktif. Kelompok ini memiliki intensitas perjalanan harian lintas wilayah yang tinggi, terutama untuk bekerja dan mengakses layanan publik.
Pola tersebut menegaskan kebutuhan terhadap transportasi massal terintegrasi dengan kapasitas besar di wilayah metropolitan. BPS juga mencatat konsentrasi penduduk perkotaan berkembang pada wilayah dengan akses transportasi publik yang baik.
Keterbatasan lahan menjadikan aksesibilitas sebagai faktor penting dalam membentuk preferensi tempat tinggal. Kemudahan menjangkau tempat kerja, layanan publik, dan aktivitas harian dengan waktu tempuh efisien menjadi pertimbangan utama.
Pemanfaatan ruang secara optimal di sekitar simpul transportasi mulai membentuk pola hidup masyarakat. Kedekatan hunian dengan pusat mobilitas memberi kemudahan tanpa perlu perpindahan jarak jauh.
Perkembangan kawasan perkotaan dengan ruang yang kian terbatas memperkuat peran integrasi transportasi. Kedekatan kawasan tinggal dengan simpul mobilitas membantu menjaga efisiensi perjalanan dan keterjangkauan aktivitas sehari-hari.
“Stasiun Manggarai berperan sebagai pusat konektivitas yang memungkinkan masyarakat menjalani aktivitas dengan akses yang lebih ringkas dan saling terhubung melalui layanan KRL serta Commuter Line Bandara,” tegas Anne.