Lesu, Harga Bitcoin Masih di Bawah 90.000 Dollar AS
Harga Bitcoin ()
09:12
24 Januari 2026

Lesu, Harga Bitcoin Masih di Bawah 90.000 Dollar AS

- Harga Bitcoin (BTC) bergerak volatil. BTC sempat menguat tajam dan mendekati level psikologis 91.000 dollar AS, namun berbalik arah dan melemah dalam 24 jam terakhir.

Mengutip CoinMarketCap Sabtu (24/1/2026) pukul 08.00 WIB, harga Bitcoin berada di level 89.341,53 dollar AS, turun 0,13 persen.

Tekanan tidak hanya terlihat dalam jangka pendek saja, dalam sepekan terakhir Bitcoin terkoreksi sekitar 6,36 persen.

Kapitalisasi pasar BTC menyentuh 1,78 triliun dollar AS, dengan volume transaksi harian mencapai 38,67 miliar dollar AS.

Jumlah koin yang beredar sudah mendekati batas maksimal, yakni 19,97 juta BTC dari total suplai maksimum 21 juta BTC.

Dominasi pasar Bitcoin tetap kokoh di kisaran 59,20 persen.

Tekanan serupa juga terlihat pada Ethereum.

Aset kripto terbesar kedua ini diperdagangkan di level 2.947 dollar AS, turun 0,17 persen.

Kapitalisasi pasar Ethereum berada di kisaran 355,91 miliar dollar AS.

Di luar dua aset utama tersebut, stablecoin relatif bergerak stabil.

Tether USDt berada di level 0,9987 dollar AS, turun tipis 0,01 persen, sementara USD Coin diperdagangkan di sekitar 0,9997 dollar AS, melemah 0,03 persen.

Sementara itu, Binance Coin tercatat stagnan di level 888,68 dollar AS dengan perubahan harian mendekati nol persen.

XRP juga bergerak mendatar di kisaran 1,917 dollar AS.

Tekanan paling dalam di antara tujuh besar dialami Solana.

Solana terkoreksi sekitar 0,79 persen dan diperdagangkan di level 127,25 dollar AS.

Bitcoin sempat menghapus seluruh kenaikan yang dibukukan sejak awal tahun, seiring sikap investor yang masih cenderung defensif.

Tekanan ini muncul setelah aset kripto terbesar dunia itu mencatatkan tahun negatif tahunan untuk ketiga kalinya dalam satu dekade terakhir.

Mengutip Bloomberg, BTC kemudian bangkit dari posisi terendah harian setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa AS tidak akan memberlakukan tarif terhadap negara-negara Eropa yang menentang upayanya mengambil alih Greenland.

Trump menyebut telah tercapai kerangka kesepakatan masa depan terkait wilayah tersebut.

Sebelumnya, pernyataan dan tekanan Trump terkait Greenland sempat mengguncang pasar keuangan global pada awal pekan, setelah ia berulang kali menggunakan ancaman ekonomi untuk menekan negara-negara Eropa.

Sikap tersebut memicu aksi jual di berbagai kelas aset, termasuk kripto.

Memudarnya kepercayaan investor tecermin jelas dari arus dana yang keluar dari produk exchange traded fund (ETF) Bitcoin, menyusul aksi jual di pasar keuangan global akibat ketegangan geopolitik yang masih berlangsung.

Data Bloomberg menunjukkan bahwa investor menarik sekitar 490 juta dollar AS dari sekitar selusin ETF Bitcoin yang tercatat di bursa AS pada Selasa. “Arus dana ETF yang positif pekan lalu sejalan dengan kenaikan harga, namun pekan ini justru didominasi arus keluar,” ujar analis riset senior di perusahaan data blockchain Kaiko, Adam Morgan McCarthy.

Menurutnya, kondisi ini menjadi salah satu hambatan bagi Bitcoin untuk bertahan di level harga saat ini.

Bitcoin sempat memantul kembali ke level psikologis 90.000 dollar AS yang banyak dipantau pelaku pasar.

Namun sebelumnya, aset digital tersebut sempat turun hingga 2,4 persen ke level 87.188 dollar AS pada Rabu.

Bitcoin tercatat ditutup di level 87.648 dollar AS pada 31 Desember, menandai penurunan sekitar 6,5 persen sepanjang tahun 2025.

Padahal, pada satu titik pekan lalu, Bitcoin sempat mencatatkan kenaikan hingga 12 persen sejak awal tahun. “Bitcoin melemah seiring aliran modal keluar dari aset-aset berisiko,” ujar kepala analis pasar di FxPro, Alex Kuptsikevich.

Ia menambahkan, pasar perlu bersiap menghadapi potensi pengujian level support jangka menengah di kisaran 80.000 hingga 84.000 dollar AS, area di mana Bitcoin banyak diborong pada November dan Desember lalu.

Fluktuasi harga Bitcoin juga terjadi di tengah runtuhnya strategi perdagangan cash-and-carry.

Dalam strategi ini, investor institusi membeli Bitcoin di pasar spot dan menjual kontrak berjangka untuk memanfaatkan selisih harga.

Namun, data Amberdata menunjukkan bahwa imbal hasil tahunan satu bulan kini berada di kisaran 5 persen, salah satu level terendah dalam beberapa tahun terakhir, sehingga daya tarik strategi tersebut kian menurun.

Selain itu, minat terbuka atau open interest pada kontrak berjangka Bitcoin di Chicago Mercantile Exchange tercatat turun dan untuk pertama kalinya sejak 2023 berada di bawah Binance.

Bursa kripto seperti Binance selama ini menjadi pusat perdagangan perpetual futures, yakni kontrak berjangka tanpa tanggal kedaluwarsa, di mana penyelesaian, penentuan harga, dan perhitungan margin dilakukan secara berkelanjutan, bahkan beberapa kali dalam sehari.

Kontrak perpetual atau perps tersebut menyumbang volume perdagangan terbesar di pasar kripto, sehingga pergeseran minat dari investor institusi turut menjadi sinyal penting bagi arah pergerakan Bitcoin ke depan.

Tag:  #lesu #harga #bitcoin #masih #bawah #90000 #dollar

KOMENTAR