Stasiun Jatake Beroperasi Akhir Januari 2026, Jadi Nilai Plus KRL Tanah Abang-Rangkasbitung
Ilustrasi KRL Tanah Abang.(DOK. ISTIMEWA)
12:32
22 Januari 2026

Stasiun Jatake Beroperasi Akhir Januari 2026, Jadi Nilai Plus KRL Tanah Abang-Rangkasbitung


- Operasional Stasiun Jatake dijadwalkan akan dimulai pada akir Januari 2026. Saat ini, PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus mematangkan kesiapan operasional Stasiun Jatake yang berada di lintas Commuter Line Tanah Abang–Rangkasbitung.

Berlokasi di Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Stasiun Jatake merupakan koridor utama pergerakan harian masyarakat antara wilayah penyangga dan pusat aktivitas ekonomi Jakarta.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan bahwa peningkatan kebutuhan transportasi massal berkorelasi erat dengan karakter demografi dan struktur aktivitas ekonomi Kabupaten Tangerang.

“Kehadiran Stasiun Jatake memperpendek akses dari kantong-kantong permukiman dan kegiatan di Pagedangan dan sekitarnya, sehingga mendukung kelancaran aktivitas perdagangan dan produktivitas ekonomi harian,” kata Anne dalam keterangan resmi, Kamis (22/1/2026).

Manfaat Stasiun Jatake di rute KRL Tanah Abang-Rangkasbitung

Anne mengatakan, moda transportasi tersebut banyak digunakan oleh pekerja di berbagai sektor. Mulai dari sektor industri, jasa, logistik, hingga pelaku UMKM dan perdagangan yang membutuhkan akses cepat, terjangkau, dan terjadwal.

Di sisi lain, kawasan Tanah Abang sebagai pusat perdagangan tekstil dan grosir nasional memiliki keterkaitan ekonomi yang kuat dengan wilayah penyangga.

“Pedagang, pekerja sektor perdagangan, serta pelaku UMKM dari Kabupaten Tangerang melakukan perjalanan rutin menuju kawasan tersebut,” jelas Anne.

Bagi pekerja formal, Stasiun Jatake memperkuat pilihan tinggal di kawasan hunian penyangga yang lebih terjangkau dibandingkan pusat kota Jakarta, tanpa mengorbankan kepastian perjalanan.

Hal ini relevan dengan karakter Kabupaten Tangerang yang memiliki luas wilayah 959,61 kilometer persegi dan terbagi dalam 29 kecamatan, sehingga membutuhkan simpul transportasi yang mampu mengonsolidasikan pergerakan masyarakat dari berbagai kawasan permukiman menuju koridor layanan massal.

Pembangunan stasiun Jatake

Sebagai informasi, Stasiun Jatake dibangun melalui skema creative financing antara KAI dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (Sinar Mas Land) dengan konsep Transit Oriented Development (TOD).

Stasiun ini berdiri di atas lahan seluas 2.435 meter persegi, memiliki bangunan tiga lantai, dan dirancang melayani hingga 20.000 penumpang per hari.

Area parkir kendaraan roda dua, roda empat, dan sepeda telah disiapkan, serta tersedia lahan pengembangan lanjutan seluas sekitar 4.000 meter persegi untuk mendukung integrasi antarmoda.

Dari sisi desain, Stasiun Jatake mengusung konsep modern tropis dengan sirkulasi udara alami di area publik serta pemanfaatan panel surya untuk mendukung efisiensi energi.

Pendekatan ini sejalan dengan kebutuhan stasiun yang tidak hanya fungsional, namun juga adaptif terhadap kenyamanan pelanggan.

Saat ini, Stasiun Jatake memasuki tahap uji fungsi dan simulasi operasional bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.

“Tahap ini dilakukan untuk memastikan seluruh aspek keselamatan, keamanan, dan kesiapan layanan memenuhi standar sebelum stasiun mulai beroperasi,” kata Anne.

“Kami optimistis kehadiran stasiun ini meningkatkan efisiensi mobilitas dan produktivitas masyarakat secara berkelanjutan,” tutup Anne.

Berdasarkan data BPS Januari 2026 Kabupaten Tangerang, wilayah ini dihuni sekitar 3,46 juta jiwa, dengan 67,82 persen penduduk berada pada usia produktif (15–59 tahun).

Komposisi demografi tersebut membentuk pola mobilitas harian yang tinggi, khususnya bagi pekerja dan pelaku usaha yang beraktivitas lintas wilayah menuju Jakarta.

Pada 2025, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Tangerang tercatat 76,74 dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,94 persen, mencerminkan dinamika pasar kerja yang aktif dan kebutuhan akses transportasi yang efisien.

“Dari sisi ekonomi, Kabupaten Tangerang merupakan salah satu mesin aktivitas kawasan metropolitan. Struktur ekonomi daerah menunjukkan basis kegiatan yang erat dengan mobilitas komuter,” jelas Anne.

Adapun kegiatan yang erat dengan mobilitas komuter, diantaranya industri pengolahan menjadi kontributor terbesar perekonomian (33,74 persen), konstruksi (16,36 persen) dan perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor (11,35 persen) pada 2024.

Sejalan dengan itu, produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita Kabupaten Tangerang pada 2024 tercatat Rp 54,73 juta (angka sangat sementara), menandakan skala aktivitas ekonomi yang besar serta kebutuhan konektivitas yang andal untuk menopang produktivitas harian.

Kondisi tersebut tercermin pada tren peningkatan jumlah pengguna Commuter Line Tanah Abang–Rangkasbitung dalam jangka panjang. Pada 2018, jumlah pengguna tercatat sebesar 54,17 juta orang, meningkat menjadi 55,63 juta orang pada 2019.

Tag:  #stasiun #jatake #beroperasi #akhir #januari #2026 #jadi #nilai #plus #tanah #abang #rangkasbitung

KOMENTAR