Data Center Diam-diam Sedot 30 Juta Galon Air Saat Warga Dilanda Kekeringan
Ilustrasi data center AI.(Imaginima via SlashGear)
17:09
18 Mei 2026

Data Center Diam-diam Sedot 30 Juta Galon Air Saat Warga Dilanda Kekeringan

- Sebuah fasilitas data center di Georgia, Amerika Serikat (AS) menjadi sorotan setelah ketahuan menyedot hampir 30 juta galon air selama berbulan-bulan tanpa terpantau oleh pemerintah setempat.

Fasilitas tersebut dimiliki Quality Technology Services (QTS), salah satu perusahaan penyedia infrastruktur data center yang saat ini membangun proyek pusat data terbesar di wilayah Fayette County

Sebagai gambaran, 30 juta galon air setara dengan 113 juta liter air, yang bisa mengisi 45 kolam renang ukuran Olimpiade (1 kolam renang sekitar 2,5 juta liter).

Baca juga: Microsoft Mau Bangun Data Center AI di Kenya, Listrik Separuh Negara Bisa Mati

Kasus ini menuai kritik karena penggunaan air dalam jumlah besar tersebut terjadi saat warga sekitar tengah dilanda kekeringan dan malah diminta membatasi penggunaan air pribadi mereka. 

Menurut laporan Politico, pemerintah Fayette County baru menyadari ada lonjakan penggunaan air ini setelah melakukan investigasi terhadap sistem utilitas air di kawasan itu. 

Air dipakai diam-diam 

Hasil investigasi menemukan bahwa fasilitas data center QTS memiliki dua sambungan air industri yang tidak dipantau dengan benar oleh otoritas setempat. 

Satu sambungan disebut dipasang tanpa diketahui pihak pengelola utilitas air, sementara sambungan lainnya tidak terhubung ke akun perusahaan sehingga penggunaan airnya tidak pernah tercatat dalam sistem penagihan. 

Akibat masalah ini, penggunaan hampir 30 juta galon air itu luput dari pengawasan pemerintah selama berbulan-bulan. 

QTS sendiri akhirnya memang membayar sekitar 150.000 dollar AS (sekitar Rp 2,6 miliar) untuk penggunaan air tersebut.

Namun, perusahaan tidak dikenai denda meski penggunaan airnya melampaui batas yang sudah ditetapkan pemerintah setempat. 

Direktur sistem air Fayette County, Vanessa Tigert mengatakan, pemerintah tidak memberikan sanksi karena masalah tersebut juga dipicu kesalahan dari sistem internal mereka sendiri. 

Menurut Tigert, penggunaan air itu luput dari pengawasan karena Fayette County masih dalam proses mengganti meteran air lama mereka ke sistem smart meter berbasis cloud. 

Baca juga: Hacker Iran Mengamuk Serang Amerika, Sistem Air dan Energi Jadi Target

Selain itu, pemerintah daerah (pemda) juga disebut kekurangan staf untuk memeriksa air secara rutin. Tigert menyebut, hanya ada satu staf saja yang tersedia dan ia kewalahan menangani banyak tugas.

Pada akhirnya, pemerintah daerah menganggap kelebihan penggunaan air oleh QTS ini merupakan "kesalahan prosedural". Pemda Fayette hanya mengenakan tarif konstruksi yang lebih tinggi secara retroaktif kepada QTS. 

QTS bantah lakukan pelanggaran

Saat diminta memberikan komentar oleh outlet media Ars Technica, QTS membantah telah menggunakan air secara tidak semestinya. 

Perusahaan menyatakan bahwa begitu masalah penagihan ini diketahui, QTS segera membayar seluruh tagihan mereka. Mereka juga mengeklaim penggunaan air dilakukan sesuai regulasi yang beraku. 

QTS juga menunjuk pernyataan pejabat daerah Fayette terkait klaim warga yang menuduh penggunaan air berlebih oleh perusahaan menyebabkan penurunan tekanan air di seluruh sistem county.

Menurut pejabat tersebut, warga yang mengeluhkan tekanan air menggunakan sumur pribadi, sementara itu, QTS tidak mengambil air dari sumur ataupun air tanah.

Ke depan, pemerintah Fayette County memastikan seluruh sambungan air milik QTS akan dipantau lebih ketat agar kejadian serupa tidak terulang.

Perusahaan juga mengatakan kebutuhan air fasilitas tersebut akan turun drastis setelah tahap konstruksi selesai, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari ArsTechnica.

Ambisi Baru Elon Musk, 1 Juta Satelit untuk Data Center AI ke Luar Angkasa

Industri AI makin "haus" air

Kasus di Georgia ini kembali memunculkan sorotan terhadap industri AI dan data center yang kini berkembang pesat di AS. 

Data center sendiri merupakan fasilitas berisi ribuan server komputer yang digunakan untuk menjalankan layanan digital, termasuk komputasi AI. 

Server-server tersebut menghasilkan panas tinggi sehingga membutuhkan sistem pendingin besar agar tetap bisa beroperasi secara stabil.

Nah, proses pendinginan inilah yang membuat data center membutuhkan air dalam jumlah sangat besar. Namun, kebutuhan air industri AI ternyata bukan hanya berasal dari data center.

Laporan The Information menyebut, konsumsi air juga datang dari pabrik semikonduktor dan pembangkit listrik yang memasok energi untuk operasional AI. 

Perusahaan teknologi air Xylem memperkirakan penggunaan air untuk mendukung kebutuhan teknologi AI akan meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 25 tahun ke depan. 

Xylem juga melaporkan bahwa sekitar 40 persen data center global dan 29 persen pabrik chip dunia berada di wilayah yang mengalami tekanan air tinggi. 

Tag:  #data #center #diam #diam #sedot #juta #galon #saat #warga #dilanda #kekeringan

KOMENTAR