Rupiah Melemah, Tetap Bisa Liburan ke Luar Negeri? Ini Kata Pakar
Ilustrasi rupiah. Kasus dugaan arisan bodong di Desa Keleyan, Bangkalan, memicu kericuhan warga. Korban mencapai 83 orang dengan total kerugian mencapai Rp 10 miliar. Simak kronologinya.(Shutterstock/Melimey)
17:24
18 Mei 2026

Rupiah Melemah, Tetap Bisa Liburan ke Luar Negeri? Ini Kata Pakar

Masyarakat yang ingin pergi atau liburan ke luar negeri diharapkan memiliki strategi keuangan yang matang.

Hal tersebut perlu diperhatikan terutama di tengah situasi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Pada penutupan pasar spot awal pekan ini, nilai tukar rupiah telah menyentuh level terendah sepanjang masa.

Baca juga: Bos BI Optimistis Rupiah Bakal Menguat ke Kisaran 16.000 pada Juli-Agustus

Ilustrasi dampak pelemahan rupiah terhadap dollar AS.SHUTTERSTOCK/MELIMEY Ilustrasi dampak pelemahan rupiah terhadap dollar AS.

Perencana keuangan sekaligus Founder Finante.id, Rista Zwestika mengatakan, di tengah pelemahan kurs dollar AS masyarakat tetap bisa berlibur ke luar negeri.

Namun, masyarakat perlu memastikan kondisi keuangan sehat dan tidak mengganggu prioritas utama seperti dana darurat, cicilan, maupun kebutuhan keluarga.

"Jadi, keputusan menunda atau tetap berangkat sebaiknya dilihat dari kesiapan finansial, bukan hanya dari kurs semata," kata dia kepada Kompas.com, Senin (18/5/2026).

Ia menambahkan, agar liburan tidak membebani kantong, ada beberapa hal yang bisa dilakukan terutama membuat anggaran perjalanan yang lebih realistis.

Baca juga: Rupiah Melemah, Daya Beli Masyarakat Berisiko Turun

Masyarakat yang ingin bepergian ke luar negeri juga dapat membeli valuta asing secara bertahap jauh hari sebelum keberangkatan.

Ia berpandangan, masyarakat juga perlu memilih destinasi dengan nilai tukar mata uang atau kurs yang lebih ramah dan mencari promo tiket dan penginapan.

"Serta mengurangi pengeluaran impulsif selama traveling," tegas Rista.

Ilustrasi liburan.Dok. Shutterstock Ilustrasi liburan.

Rista berpesan, ketika setelah dihitung ternyata biaya liburan membuat kondisi arus kas (cashflow) menjadi berat atau harus berutang konsumtif, maka menunda perjalanan bisa menjadi keputusan yang lebih bijak.

Baca juga: IHSG Ditutup Anjlok 1,85 Persen, Rupiah Tembus Rekor Terlemah Baru

"Yang paling penting, jangan sampai liburan yang seharusnya menjadi hiburan justru menimbulkan tekanan finansial setelah pulang," ungkap dia.

Menabung dollar AS di tengah pelemahan rupiah

Masyarakat kerap berpikir, liburan ke luar negeri dapat dipersiapkan dengan menabung dollar AS.

Tren pelemahan nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dollar AS menambah keinginan masyarakat untuk memiliki tabungan dalam kurs dollar AS.

Kendati demikian, strategi keuangan tersebut tidak selalu cocok pada setiap keluarga.

Baca juga: Purbaya: Prabowo Paham Rupiah, Jangan Salah Tafsir

Masyarakat harus mengetahui dengan jelas apa manfaat memiliki tabungan dalam dollar AS.

Rista bilang, memiliki sebagian tabungan dalam dollar AS bisa menjadi langkah diversifikasi yang baik.

"Terutama untuk masyarakat yang memiliki rencana pendidikan luar negeri atau kebutuhan perjalanan internasional," kata Rista.

Selain itu, tabungan dalam bentuk dollar AS juga penting dimiliki bagi masyarakat yang memiliki bisnis impor atau tujuan investasi global.

Baca juga: Rupiah Ditutup Melemah di Level 17.668, Ini Penyebabnya Menurut Analis

"Namun, bukan berarti semua orang harus memindahkan seluruh tabungannya ke dollar AS," ujar dia.

Tentukan tujuan memiliki tabungan dollar AS

Menurut dia, tabungan dollar AS idealnya disesuaikan dengan kebutuhan dan profil keuangan masing-masing.

Ilustrasi uang dollar AS. FREEPIK/PVPRODUCTIONS Ilustrasi uang dollar AS.

Salah satu langkah awal yang bisa dilakukan adalah memastikan dana darurat dan kebutuhan rutin tetap aman dalam rupiah.

"Tentukan tujuan memiliki tabungan dollar, apakah untuk proteksi nilai aset, traveling, pendidikan, atau investasi," terang dia.

Baca juga: Ekonom: Tak Pakai Dollar, Warga Desa Tetap Terdampak Pelemahan Rupiah

Langkah memiliki simpanan dollar AS dapat dilakukan dengan mulai menabung dollar AS secara rutin dan bertahap, tidak perlu langsung besar.

Rekening dan deposito valas jadi pilihan

Rista menyarankan, masyarakat dapat menggunakan instrumen resmi seperti rekening valuta asing (valas), deposito valas, atau investasi berbasis dollar sesuai profil risiko.

"Prinsipnya, tabungan dollar lebih cocok dijadikan alat diversifikasi dan persiapan kebutuhan masa depan, bukan semata-mata untuk mengejar keuntungan dari selisih kurs," ucap Rista.

Ia mengimbau, masyarakat sebaiknya tidak panik ataupun buru-buru mengambil keputusan ekstrem saat dollar AS naik.

Baca juga: Rupiah dan IHSG Melemah, Purbaya Tegaskan Beda dengan Krisis 1998, Ajak Investor Saham Serok Bawah

"Fokus utama tetap pada tujuan keuangan dan kebutuhan masing-masing," tutur dia.

Rista menjelaskan, ketika kebutuhan sehari-hari dan dana darurat sudah aman, maka kenaikan dollar AS bisa menjadi momentum untuk mulai diversifikasi aset.

"Termasuk mempertimbangkan instrumen berbasis dollar AS secara bertahap," imbuh dia.

Dana darurat dan kebutuhan pokok harus tetap aman

Perencana keuangan Andi Nugroho mengatakan, di tengah kondisi pelemahan kurs rupiah, yang perlu dilakukan masyarakat adalah memastikan dana darurat dan kebutuhan pokok tetap aman, serta berinvestasi pada instrumen yang likuid dan rendah risiko.

Baca juga: OJK: Risiko Perbankan Tetap Terkendali Meski Rupiah Tertekan

Dana darurat adalah dana yang disisihkan atau dialokasikan untuk situasi darurat atau genting seperti kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, kecelakaan, atau kerusakan rumah SHUTTERSTOCK/PRAPAN MANUCHON Dana darurat adalah dana yang disisihkan atau dialokasikan untuk situasi darurat atau genting seperti kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, kecelakaan, atau kerusakan rumah

"Kalau memang penghasilan terbatas, kita mesti memanajemen pengeluaran yang benar-benar penting dan bersifat wajib dulu, prioritaskan di situ," ujar dia kepada Kompas.com.

"Kalau belum ada kepentingan ataupun keterdesakan, sebaiknya ditunda dulu. Jadi lebih banyak memang kita saving money (tabung) lah," imbuh Andi.

Ia menuturkan, bagi masyarakat yang memiliki dana lebih untuk berinvestasi, bisa memilih instrumen seperti Surat Berharga Negara ritel (SBN), termasuk ORI dan Sukuk Ritel, yang dinilai lebih stabil dibandingkan instrumen lainnya.

"Dalam kondisi sekarang sih, kalau saya melihat surat utang negara kayak ORI maupun Sukuk Ritel itu justru yang paling aman, karena dia volatilitasnya enggak seekstrem kayak di pasar saham," ucap dia.

Baca juga: Rupiah Melemah Lagi, Harga Minyak dan Sentimen Global Jadi Beban

Selain itu, reksa dana pasar uang juga disebut sebagai pilihan yang cukup aman untuk investor pemula atau masyarakat yang menginginkan likuiditas tinggi.

Instrumen ini menempatkan dana pada deposito dan surat utang jangka pendek, sehingga risikonya relatif rendah dibanding saham.

"Alternatif lain misalnya yang enggak sabaran dengan pergerakan di obligasi kayak ORI, bisa pilih di reksadana yang berbasis pendapatan tetap ataupun di pasar uang. Yang cuan kan sekarang dua itu, terutama yang pasar uang," jelas dia.

Kurs rupiah catat level terendah sepanjang masa

Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah ke level terendah sepanjang masa pada perdagangan Senin (18/5/2026).

Baca juga: Rupiah Anjlok ke Level Terendah, Apa Penyebabnya?

Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda turun 71 poin atau 0,40 persen ke level Rp 17.668 per dollar Amerika Serikat (AS).

Sementara Kurs JISDOR di Bank Indonesia hari ini, rupiah berada di posisi Rp 17.666 per dollar AS, melemah dibandingkan sebelumnya pada Rp 17.496 per dollar AS.

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah sejalan dengan penguatan mata uang Amerika Serikat.

Nilai tukar rupiah kembali tertekan menembus level Rp 17.600 per dollar AS ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan Nilai tukar rupiah kembali tertekan menembus level Rp 17.600 per dollar AS

Pelemahan terjadi seiring meningkatnya risiko inflasi akibat tingginya harga minyak dunia.

Baca juga: DPR Tanya BI: Semua Instrumen Dipakai, Rupiah Kok Melemah?

Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

“Penguatan dollar AS terjadi karena meningkatnya risiko inflasi yang didorong oleh tingginya harga minyak yang memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama,” ujar Ibrahim.

Menurut dia, prospek kebijakan moneter ketat The Fed semakin menguat karena kenaikan harga energi dinilai memperlambat proses disinflasi di Amerika Serikat.

Hal itu membuat laju inflasi semakin menjauh dari target 2 persen yang ditetapkan The Fed.

Tag:  #rupiah #melemah #tetap #bisa #liburan #luar #negeri #kata #pakar

KOMENTAR