Angka Kelahiran China Turun, Anak Muda Tunda Nikah karena Ekonomi?
Ilustrasi: Salah satu sudut Kota Beijing di malam hari.(KOMPAS.com/Bill Clinten)
21:16
21 Januari 2026

Angka Kelahiran China Turun, Anak Muda Tunda Nikah karena Ekonomi?

Angka kelahiran di China tahun lalu merosot ke rekor terendah sepanjang masa. Hal ini menandakan krisis demografis yang semakin dalam di negeri Tirai Bambu tersebut.

Sementara, anak muda disebut menunda rencana pernikahan dan memiliki anak karena tekanan ekonomi yang meningkat.

Padahal pemerintah tengah berupaya untuk membalikan tren penurunan tersebut.

Data Wind Information mennjukkan, angka kelahiran di China tercatat menjadi 5,6 per 1.000 orang pada tahun 2025, atau turun dari 6,4 pada tahun 2023.

Laporan tersebut menandai tingkat terendah yang pernah tercatat, sejak tahun 1950-an.

Data Biro Statistik China melaporkan, terdapat sekitar 7,9 juta bayi lahir tahun lalu, atau jauh lebih sedikit daripada 9,5 juta pada tahun sebelumnya.

Hal itu terjadi, meskipun pemerintah China telah berupaya mendorong keluarga besar melalui perluasan subsidi dan cuti orang tua yang lebih panjang.

Sebagai catatan, China mulai melonggarkan kebijakan satu anak yang ketat hampir satu dekade lalu, angka kelahiran terus merosot, kecuali lonjakan singkat pada tahun 2024, ketika naik menjadi 6,77 per 1.000 orang.

Kepala ekonom di Economist Intelligence Unit Yue Su mengatakan, peningkatan tersebut secara luas dikaitkan dengan Tahun Naga, yang secara tradisional dianggap sebagai waktu yang baik untuk memiliki anak.

“Laju penurunan ini sangat mencolok, terutama tanpa adanya guncangan besar,” kata Su, dikutip dari CNBC, Rabu (21/1/2026).

Dia menambahkan bahwa dorongan dari langkah-langkah stimulus kesuburan telah memudar.

Ilustrasi pemandangan di Nanjing Road, Shanghai, China. UNSPLASH/HANNY NAIBAHO Ilustrasi pemandangan di Nanjing Road, Shanghai, China. Kaum muda China tunda punya anak karena tekanan ekonomi

Kaum muda China menunda rencana pernikahan dan memiliki anak karena tekanan ekonomi yang meningkat dan persaingan yang semakin ketat di tempat kerja.

Pemerintah China telah meluncurkan berbagai insentif, termasuk hadiah uang tunai dan pengurangan pajak untuk rumah tangga dengan anak di bawah usia 3 tahun.

Pemerintah juga telah memperpanjang cuti melahirkan menjadi 158 hari, dari 98 hari pada 2024.

China menghadapi krisis populasi yang mengkhawatirkan seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia.

Proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas meningkat menjadi 23 persen pada tahun 2025, naik dari 22 persen pada 2024.

Jumlah penduduk menurun untuk tahun keempat berturut-turut, berkurang sebesar 3,4 juta menjadi 1,405 miliar tahun lalu, menurut biro statistik.

Risiko ekonomi mengintai

Para ekonom memperingatkan bahwa menyusutnya angkatan kerja dan penuaan populasi menimbulkan risiko ekonomi yang besar bagi China.

Jumlah bayi yang lahir lebih sedikit berarti menyusutnya angkatan kerja di masa depan untuk menopang kelompok pensiunan yang berkembang pesat.

Ketika itu terjadi, China akan menghadapi tekanan pada sistem pensiun yang sudah terbebani.

Hal ini juga dapat memaksa peningkatan iuran jaminan sosial, sehingga mengurangi pendapatan yang dapat dibelanjakan bagi pekerja muda.

“Penurunan jumlah penduduk berarti basis konsumen yang lebih kecil di masa depan, sehingga meningkatkan risiko ketidakseimbangan penawaran dan permintaan yang lebih luas,” kata Su.

Ilustrasi bendera China.SHUTTERSTOCK/CRYSTAL51 Ilustrasi bendera China.

Sebagai catatan, data Bank Dunia menunjukkan bahwa angka kesuburan, yang didefinisikan sebagai jumlah kelahiran per wanita, turun menjadi 1 di China pada 2023. Angka tersebut berada di bawah tingkat rata-rata global yaitu 2,2.

Angka kelahiran di China turun 17 persen

Populasi China menurun untuk tahun keempat berturut-turut pada 2025 karena angka kelahiran anjlok ke rekor terendah.

Dikutip dari The Guardian, jumlah kelahiran yang terdaftar turun menjadi 7,92 juta pada 2025, sebesar atau 5,63 untuk setiap 1.000 penduduk.

Jumlah ini turun 17 persen dari 9,54 juta pada tahun 2024, dan merupakan angka terendah sejak pencatatan dimulai pada 1949.

Biro Statistik Nasional China (NBS) melaporkan, populasi China turun sebesar 3,39 juta menjadi 1,405 miliar.

Sementara kematian meningkat menjadi 11,31 juta dari 10,93 juta pada 2024.

Ahli demografi Universitas Wisconsin-Madison Yi Fuxian, mengatakan bahwa angka kelahiran pada 2025 kira-kira sama dengan angka kelahiran pada tahun 1738.

"Ketika populasi China hanya sekitar 150 juta jiwa," ujar dia.

Penurunan ini terjadi meskipun selama bertahun-tahun pemerintah China telah menerapkan kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan angka kelahiran yang lesu.

Tahun ini, pemerintah mengalokasikan 90 miliar yuan China untuk program subsidi perawatan anak nasional pertama, untuk anak-anak berusia di bawah tiga tahun.

Tak hanya itu, ada juga rencana untuk memperluas asuransi kesehatan nasional untuk mencakup semua biaya terkait persalinan.

Namun, kaum muda masih merasa bahwa memiliki anak terlalu mahal, terutama di tengah tingginya angka pengangguran dan melambatnya pertumbuhan ekonomi.

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.THINKSTOCKS Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi China

Pertumbuhan ekonomi China memang melambat ke laju terendah dalam hampir tiga tahun pada kuartal IV-2025, di tengah lemahnya permintaan domestik dan tekanan berkepanjangan dari sektor properti.

Kendati demikian, pertumbuhan ekonomi China pada 2025 masih sejalan dengan target resmi pemerintah Beijing, meskipun ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) terus meningkat.

Dikutip dari CNBC, data Biro Statistik Nasional China yang dirilis Senin menunjukkan produk domestik bruto (PDB) China tumbuh 4,5 persen pada periode Oktober–Desember 2025.

Capaian tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi 4,8 persen pada kuartal III 2025 dan menjadi yang terlemah sejak kuartal I 2023, ketika ekonomi juga tumbuh 4,5 persen.

Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi China sepanjang tahun 2025 mencapai 5 persen.

Angka ini memenuhi target resmi pemerintah yang dipatok sekitar 5 persen, di tengah perlambatan global dan tekanan eksternal yang masih membayangi perekonomian negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.

Sejumlah indikator ekonomi pada Desember 2025 menunjukkan kontras yang cukup tajam antara sektor konsumsi, investasi, dan manufaktur.

Penjualan ritel, yang merupakan indikator utama konsumsi rumah tangga, tumbuh 0,9 persen secara tahunan pada Desember 2025.

China mulai diversifikasi pasar di luar AS

Pada 2025, ekonomi China dinilai masih menunjukkan ketahanan tertentu. Ketahanan ini terutama ditopang oleh tarif yang lebih rendah dari perkiraan serta upaya para eksportir untuk mendiversifikasi pasar di luar AS.

Kondisi tersebut memberi ruang bagi pemerintah untuk menunda peluncuran stimulus fiskal dan moneter dalam skala besar.

China juga mencatatkan surplus perdagangan rekor hampir 1,2 triliun dollar AS tahun lalu. Surplus ini didorong lonjakan ekspor ke pasar non-AS, seiring produsen mengalihkan jalur pengiriman guna menghindari tarif AS yang lebih tinggi.

Direktur Pelaksana OCBC Bank Tommy Xie menilai, dampak negatif yang diperkirakan dari pengiriman barang di awal tahun, pengetatan kontrol transshipment, serta apresiasi mata uang masih relatif terbatas.

“Dampak negatif yang diperkirakan dari pengiriman di awal tahun, kontrol transshipment yang lebih ketat, dan apresiasi mata uang masih terbatas,” kata Xie.

Ia memperkirakan ekspor China masih akan tumbuh sekitar 3 persen pada 2026, meskipun lingkungan perdagangan global tetap menantang.

Tag:  #angka #kelahiran #china #turun #anak #muda #tunda #nikah #karena #ekonomi

KOMENTAR