Jaga Rupiah dan Inflasi, LPEM UI Sarankan BI Rate Dipertahankan
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menyarankan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2026.
Saran tersebut mempertimbangkan inflasi yang cenderung meningkat dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan, inflasi cenderung meningkat pada akhir tahun lalu sehingga BI disarankan mengerem penurunan suku bunga acuan atau BI rate.
Pada Desember 2025 inflasi mencapai level tertinggi sepanjang tahun itu, yakni sebesar 2,92 persen secara tahunan (yoy), meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 2,72 persen (yoy). Peningkatan inflasi ini sebagian besar mencerminkan tekanan sisi penawaran pada komoditas pangan serta adanya gangguan pasokan akibat bencana banjir di Sumatera.
Kendati demikian, infasi akhir tahun lalu masih berada dalam kisaran target BI sebesar 1,5-3,5 persen.
"Inflasi utama tetap berada dalam kisaran target BI, meskipun posisinya lebih dekat ke batas atas, mencerminkan tekanan permintaan musiman di akhir tahun dan sensitivitas yang berkelanjutan terhadap harga pangan dan harga yang diatur pemerintah," ujarnya dalam hasil riset LPEM FEB UI, dikutip Rabu (21/1/2026).
Dari sisi eksternal juga dinilai kurang mendukung karena nilai tukar rupiah terus melemah mendekati level Rp 17.000 per dollar AS akibat penguatan dollar AS di tengah pergeseran ekspektasi kebijakan moneter AS dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Bahkan arus masuk portofolio yang cukup besar ke Indonesia setelah pemotongan suku bunga acuan AS (Fed Funds Rate) pada Desember 2025, dinilai tidak cukup kuat untuk mengimbangi tekanan eksternal terhadap rupiah.
Secara kumulatif hingga pertengahan Januari 2026, rupiah terdepresiasi sebesar 1,26 persen secara year to date, lebih rendah dibandingkan sebagian besar mata uang regional dan global lainnya.
Untuk itu, menurutnya, BI perlu mempertahankan suku bunga acuan karena dalam kondisi saat ini stabilitas nilai tukar rupiah menjadi prioritas.
Sebab BI rate yang tidak berubah akan membantu menjaga perbedaan suku bunga, mendukung kepercayaan pasar, dan menahan volatilitas mata uang di tengah ketidakpastian global yang terus berlanjut.
"Oleh karena itu, mempertahankan suku bunga kebijakan di 4,75 persen akan memungkinkan BI untuk menyeimbangkan pengendalian inflasi dengan stabilitas eksternal, sementara intervensi yang berkelanjutan dan terarah di pasar valuta asing tetap diperlukan untuk mengurangi fluktuasi rupiah yang berlebihan," tuturnya.
Kendati demikian, posisi cadangan devisa yang pada akhir Desember meningkat menjadi US$ 156,5 miliar dinilai akan menjadi penyangga yang kuat terhadap volatilitas eksternal dan mendukung stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian keuangan global.
Tag: #jaga #rupiah #inflasi #lpem #sarankan #rate #dipertahankan