Dibayang-bayangi Tekanan Global, Rupiah Ditutup Melemah Mendekati Rp 17.000 per Dolar Sore ini
Pegawai menunjukan mata uang Dolar Amerika dan Rupiah di salah satu kantor cabang Bank Mandiri di Jakarta, Selasa (22/7/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
16:09
19 Januari 2026

Dibayang-bayangi Tekanan Global, Rupiah Ditutup Melemah Mendekati Rp 17.000 per Dolar Sore ini

 

- Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada penutupan perdagangan Senin (19/1) sore ini. Mata uang Garuda ditutup melemah seiring meningkatnya sentimen negatif global, terutama dari Amerika Serikat dan Eropa, serta kekhawatiran domestik terkait kondisi fiskal Indonesia.

Pada perdagangan Senin (19/1) sore ini, rupiah ditutup melemah 68 poin ke level Rp 16.955 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat tertekan hingga 75 poin. Posisi ini lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 16.896 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah tidak lepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik dan perdagangan global. Salah satu pemicunya adalah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan memberlakukan tarif baru terhadap delapan negara Eropa yang menentang rencana AS mengakuisisi Greenland.

“Trump menyatakan tarif sebesar 10 persen akan mulai diberlakukan pada 1 Februari, dan berpotensi naik hingga 25 persen pada Juni apabila tidak tercapai kesepakatan. Negara-negara besar seperti Prancis, Jerman, dan Inggris menjadi sasaran. Ini memicu kekhawatiran sengketa perdagangan transatlantik yang lebih luas,” ujar Ibrahim dalam keterangannya.

Selain itu, tekanan terhadap rupiah juga diperkuat oleh data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan pasar tenaga kerja masih solid. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar semakin ragu bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga secara agresif tahun ini.

“Kontrak berjangka dana Fed kini menunda ekspektasi pemotongan suku bunga ke Juni dan September, dari sebelumnya Januari dan April. Ini memperkuat pandangan bahwa suku bunga tinggi akan dipertahankan lebih lama, sehingga dolar AS kembali menguat,” jelasnya.

Dari kawasan Asia, data terbaru menunjukkan ekonomi China tumbuh 5,0 persen sepanjang tahun lalu, sesuai target pemerintah. Meski demikian, pertumbuhan tersebut lebih banyak ditopang oleh ekspor, sementara konsumsi domestik masih lemah.

Sementara dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah juga tertekan oleh kekhawatiran fiskal. Ibrahim menyoroti upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen pada 2029 di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, yang dinilai berpotensi menimbulkan risiko jangka menengah.

“Kebijakan yang relatif tidak lazim berisiko memicu sentimen negatif terhadap rupiah, terlebih setelah terungkap defisit anggaran tahun lalu mendekati batas hukum 3 persen, sementara penerimaan negara masih lemah,” jelasnya.

Meski Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar DNDF dan NDF untuk menahan volatilitas, ruang kebijakan dinilai semakin terbatas. Toleransi BI terhadap pelemahan rupiah yang moderat juga membatasi efektivitas intervensi.

Untuk menopang rupiah, BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan pada rapat kebijakan Rabu mendatang. Selain itu, bank sentral telah mengoptimalkan berbagai instrumen, mulai dari intervensi valas, penyesuaian penerbitan surat berharga, hingga pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder.

Di sisi lain, rencana pemerintah memperketat pengelolaan devisa hasil ekspor (DHE) dinilai dapat menjadi bantalan bagi rupiah. Namun, kekhawatiran tetap ada karena defisit fiskal tahun ini berpotensi melebar melampaui 3 persen seiring meningkatnya belanja negara di tengah lemahnya penerimaan pajak.

"Untuk perdagangan besok, Ibrahim memproyeksikan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah, berada di kisaran Rp 16.950 hingga Rp 16.980 per dolar AS," tukasnya.

Editor: Estu Suryowati

Tag:  #dibayang #bayangi #tekanan #global #rupiah #ditutup #melemah #mendekati #17000 #dolar #sore

KOMENTAR