Startup Pengurusan Visa Berbasis AI SPUN Kantongi Pendanaan Rp 30,4 M
SPUN, startup layanan pendukung perjalanan yang membangun infrastruktur visa berbasis kecerdasan buatan (AI), menutup putaran pendanaan tahap awal senilai 1,8 juta dollar AS atau sekitar Rp 30,4 miliar.
Dana tersebut akan digunakan untuk memulai ekspansi ke sejumlah pasar utama di Asia Tenggara, wilayah yang masih menghadapi proses pengurusan visa yang kompleks dan belum terintegrasi antarnegara.
Putaran pendanaan ini dipimpin oleh Genesia Ventures, dengan partisipasi dari Antler, Spiral Ventures, Iterative, Kopital Ventures, serta angel investor Kum Hong Siew, mantan Managing Director Airbnb China.
Ilustrasi paspor.
SPUN memulai layanannya dari pengurusan visa masuk (inbound) dan visa keluar (outbound) sebagai fondasi layanan mobilitas lintas negara.
Berbeda dengan agen visa konvensional, perusahaan ini mengandalkan sistem AI yang dirancang untuk membantu pemohon dan mitra usaha mengelola persyaratan visa yang kerap berubah dan berbeda antarnegara, dengan proses yang lebih terstruktur dan dapat diandalkan.
“Visa sering dianggap sekadar urusan administratif, padahal justru menjadi sumber kecemasan terbesar dalam perjalanan internasional,” ujar Christa Sabathaly, CEO dan Co-Founder SPUN dalam keterangan tertulis, Senin (19/1/2026).
“Baik pemohon individu maupun perusahaan yang mengurus visa dalam jumlah besar mengalami masalah yang serupa. Lewat satu sistem yang bisa digunakan oleh keduanya, kami ingin membuat proses pengurusan visa jadi lebih pasti dan mudah dikembangkan ke berbagai negara. Terbukti, dalam waktu kurang dari satu tahun, kami telah membantu lebih dari 200 perusahaan serta ribuan pemohon individu memproses visa dengan mudah dan andal," imbuhnya.
Kinerja SPUN dan pertumbuhan layanan
Dalam 12 bulan pertama beroperasi, SPUN menangani ribuan pengajuan visa inbound dan outbound dengan tingkat persetujuan mencapai 99 persen.
Ilustrasi paspor Indonesia.
Seluruh layanan digunakan oleh pelanggan berbayar dengan harga pasar, baik pemohon individu maupun mitra usaha.
Dengan fokus pada pengurusan visa sebagai layanan utama, SPUN memperluas jangkauan ke berbagai negara tanpa membangun proses baru dari nol di setiap pasar.
Pendekatan ini ditujukan untuk menciptakan alur pengurusan visa yang lebih konsisten dan mudah diprediksi, di tengah meningkatnya perjalanan dan aktivitas kerja lintas negara.
Saat ini, platform SPUN mendukung lebih dari 300 jenis visa di 90 negara, melayani pemohon individu maupun pelanggan B2B, termasuk 200 lebih agen perjalanan dan reseller.
Layanannya juga telah terintegrasi dengan sejumlah platform perjalanan utama di Asia Tenggara seperti Klook, Traveloka, Tiket, dan Nusatrip.
Pendanaan dan peta jalan ekspansi SPUN
Pendanaan tahap awal ini akan dimanfaatkan untuk memperluas kehadiran SPUN di pasar-pasar utama Asia Tenggara, memperkuat sistem otomasi berbasis AI, serta meningkatkan kerja sama dengan platform perjalanan dan mitra B2B.
Menurut investor, SPUN menjawab persoalan mendasar yang masih terjadi di banyak negara Asia Tenggara, di mana proses pengurusan visa belum optimal meski kebutuhan perjalanan dan kerja lintas negara terus meningkat.
“Kebanyakan orang masih memandang visa sebagai bisnis layanan manual. Kami melihatnya sebagai masalah infrastruktur,” ujar Takahiro Suzuki, General Partner Genesia Ventures.
“Proses pembuatan visa sudah masuk ke era digitalisasi, namun belum sepenuhnya mempermudah pengguna. SPUN membangun suatu sistem dan alur kerja yang membantu melakukan standardisasi proses visa di Asia Tenggara. Kombinasi perspektif jangka panjang dan traksi awal inilah yang membuat kami yakin untuk memimpin putaran ini," terang Suzuki.
Ilustrasi paspor. Seorang warga Aceh TImur diduga direkrut ke Kamboja secara ilegal. Di sana ia diduga disiksa dan menjadi korban TPPO.
Sementara itu, Agung Hadinegoro, Partner Antler Indonesia, menyebutkan tim SPUN sejak awal menunjukkan ambisi global dengan pendekatan eksekusi yang praktis.
“Mereka membuktikan sejak hari pertama bahwa hambatan visa bukan hanya persoalan di Indonesia, terlihat dari banyaknya permintaan dan tingkat retensi pengguna di berbagai pasar,” ujarnya.
Kompleksitas visa di tengah pemulihan perjalanan
Seiring pulihnya perjalanan internasional dari Indonesia, kompleksitas visa masih menjadi hambatan besar. Setiap tahun, lebih dari 20 juta penumpang melalui sekitar 100.000 penerbangan internasional yang menghubungkan Indonesia dengan berbagai destinasi global.
Persyaratan visa yang kerap berubah dan tidak selalu jelas menciptakan ketidakpastian bagi individu sekaligus menyulitkan perencanaan bagi pelaku usaha.
Berdasarkan Henley Passport Index, pemegang paspor Indonesia memerlukan visa untuk 106 dari 195 negara.
Kondisi serupa juga terjadi pada proses visa masuk dan keluar di berbagai negara Asia Tenggara, mencerminkan kebutuhan akan sistem yang lebih rapi seiring meningkatnya perjalanan dan aktivitas kerja lintas negara.
Ke depan, SPUN menargetkan diri sebagai layanan pendukung perjalanan yang esensial, dimulai dari visa, dengan memanfaatkan teknologi untuk menghadirkan proses yang lebih jelas, efisien, dan dapat diandalkan di Asia Tenggara.
Tag: #startup #pengurusan #visa #berbasis #spun #kantongi #pendanaan