Beasiswa F.I.R.E Jaring Talenta Muda Blockchain dari Berbagai Kampus
Program Beasiswa F.I.R.E (Future Innovators in Rising Economy) yang diinisiasi Triv Foundation dan berkolaborasi dengan MEXC Foundation mendapat sambutan luas dari mahasiswa di berbagai daerah di Indonesia.
Antusiasme tersebut tercermin dari jumlah pendaftar yang melampaui ekspektasi awal sejak program diumumkan pada November 2025.
“Minat mahasiswa jauh melebihi ekspektasi awal. Antusiasme ini menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia memiliki rasa ingin tahu dan kesiapan tinggi untuk terlibat lebih dalam di industri blockchain, tidak hanya sebagai pengguna, tetapi juga sebagai builder dan innovator,” ujar CEO & Founder Triv Gabriel Rey dalam siaran pers, Jumat (16/1/2026).
Ilustrasi blockchain, teknologi blockchain.
Beasiswa F.I.R.E dirancang sebagai inisiatif pengembangan talenta untuk menumbuhkan calon pemimpin blockchain dan Web3 Indonesia melalui pendekatan pendidikan terstruktur, pendampingan (mentorship), serta paparan langsung terhadap praktik industri.
Program ini menitikberatkan pada pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan industri (industry driven), mulai dari pengenalan fundamental blockchain dan Web3 hingga penerapan use case nyata.
Sejak tahap awal peluncuran, Beasiswa F.I.R.E telah memasuki fase seleksi dan onboarding peserta.
Para peserta terpilih saat ini mengikuti rangkaian awal program, termasuk pengenalan kurikulum, sesi foundational blockchain, serta persiapan menuju fase pendampingan intensif melalui F.I.R.E Mentorship Lab.
Dari ratusan pendaftar yang berasal dari perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia, program ini telah menjaring delapan mahasiswa berprestasi.
Mereka terdiri dari dua mahasiswa Universitas Indonesia, tiga mahasiswa Universitas Bina Nusantara, dan tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Ilustrasi blockchain, teknologi blockchain.
Jumlah peserta tersebut masih berpotensi bertambah seiring berjalannya proses seleksi lanjutan.
Profil peserta menunjukkan keragaman latar belakang akademik. Mereka berasal dari jurusan Teknik Informatika atau Ilmu Komputer, Sistem Informasi, Teknik Elektro, Data Science, Ekonomi, Bisnis, hingga Manajemen.
Sejumlah peserta juga datang dari latar belakang non-teknis yang memiliki minat kuat pada pengembangan teknologi blockchain dan Web3.
“Hal ini menunjukkan bahwa ekosistem blockchain semakin diminati lintas disiplin,” kata Gabriel.
Ia menjelaskan, kurikulum Beasiswa F.I.R.E dirancang dengan pendekatan industry driven yang mencakup penguatan fundamental blockchain dan Web3, pemahaman use case industri nyata, serta pengembangan keterampilan teknis dan non-teknis seperti problem solving, critical thinking, dan kolaborasi.
Melalui F.I.R.E Mentorship Lab, peserta dibimbing langsung oleh praktisi industri untuk mengerjakan studi kasus serta simulasi permasalahan riil.
Dengan pendekatan tersebut, proses pembelajaran tidak berhenti pada tataran teori, melainkan diarahkan agar langsung aplikatif dan relevan dengan kebutuhan industri.
Sebagai pelaku industri blockchain di Indonesia, Triv Foundation memosisikan diri sebagai penghubung antara dunia akademik dan industri.
Gabriel menyebutkan, pihaknya memastikan materi pembelajaran selaras dengan kebutuhan industri terkini, mentor berasal dari praktisi aktif, serta peserta memperoleh pemahaman menyeluruh mengenai realitas dunia kerja blockchain, termasuk aspek regulasi, kepatuhan (compliance), dan best practices.
“Tujuannya adalah mencetak talenta yang tidak hanya pintar secara teknis, tetapi juga siap secara profesional,” ujar dia.
Ilustrasi teknologi blockchain.
Ia menambahkan, pesan utama yang ingin disampaikan melalui Program Beasiswa F.I.R.E adalah besarnya potensi Indonesia untuk berperan sebagai pemain global di industri blockchain.
Menurutnya, kolaborasi ini mendorong mahasiswa agar berani mempelajari teknologi masa depan dan tidak sekadar menjadi konsumen, melainkan kontributor dalam ekosistem global.
Sementara itu, Indonesia Country Manager MEXC Foundation, Excelsior, menyampaikan Indonesia ditempatkan sebagai prioritas strategis MEXC Foundation di Asia Tenggara.
Pertimbangan tersebut didasarkan pada besarnya populasi muda, tingginya tingkat adopsi teknologi digital, serta komunitas kripto dan blockchain yang dinilai sangat aktif.
“Hal ini menjadikan Indonesia sebagai talent pool strategis untuk pengembangan ekosistem blockchain di Asia Tenggara dan global,” kata Excelsior.
Menurutnya, Beasiswa F.I.R.E menjadi platform yang relevan untuk memperkenalkan talenta Indonesia pada standar global.
Dengan kurikulum dan mentorship berkelas internasional, program ini dinilai mampu menyiapkan mahasiswa Indonesia agar dapat berkontribusi pada proyek global, bersaing di perusahaan Web3 internasional, serta berkembang sebagai founder atau developer blockchain.
Excelsior juga menegaskan, MEXC Foundation memandang Beasiswa F.I.R.E sebagai inisiatif jangka panjang.
“Jika dampak dan hasilnya sesuai dengan visi yang diharapkan, program ini sangat berpotensi untuk diperluas ke batch berikutnya dengan cakupan yang lebih besar,” ujarnya.
Sebagai informasi, kolaborasi Beasiswa F.I.R.E memanfaatkan pengalaman Triv yang telah beroperasi di Indonesia selama satu dekade dan melayani lebih dari 3 juta pengguna sejak 2015, serta jaringan global MEXC Foundation dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan ekosistem blockchain dan Web3.
Tag: #beasiswa #fire #jaring #talenta #muda #blockchain #dari #berbagai #kampus