Kasus Dugaan Penipuan Kripto, Jadi Pengingat Risiko Investasi Berbasis Tren
ilustrasi dugaan kasus penipuan investasi kripto.(canva.com)
18:16
13 Januari 2026

Kasus Dugaan Penipuan Kripto, Jadi Pengingat Risiko Investasi Berbasis Tren

- Laporan dugaan penipuan investasi kripto yang melibatkan nama influencer keuangan Timothy Ronald menjadi perhatian publik dan memicu diskusi mengenai kepercayaan masyarakat terhadap figur publik di bidang edukasi keuangan digital.

Perkara ini tidak hanya berkaitan dengan proses hukum yang saat ini tengah berjalan, tetapi juga membuka ruang pembahasan yang lebih luas mengenai pentingnya pemahaman berinvestasi kripto secara tepat agar masyarakat terhindar dari potensi kerugian besar.

Timothy Ronald dilaporkan ke Polda Metro Jaya terkait dugaan penipuan investasi trading aset kripto. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Bhudi Hermanto membenarkan adanya laporan tersebut dan menyatakan kepolisian telah memulai tahapan penyelidikan.

Polisi juga memanggil pihak pelapor untuk mendalami bukti-bukti yang disampaikan guna memperoleh gambaran perkara secara menyeluruh.

“Saat ini terlapor masih dalam proses penyelidikan,” ujar Bhudi saat dikonfirmasi Kompas.com, Minggu (11/1/2026).

Kasus ini mencuat ke publik setelah akun Instagram @skyholic888 mengunggah informasi bahwa sejumlah anggota Akademi Crypto telah melaporkan Timothy Ronald dan rekannya, Kalimasada. Akademi Crypto diketahui merupakan komunitas yang didirikan oleh keduanya.

Dalam unggahan tersebut, pelapor menyampaikan dugaan adanya ajakan investasi pada sejumlah aset kripto yang disebut berujung pada keuntungan sepihak. Akun tersebut juga mengklaim jumlah pihak yang merasa dirugikan mencapai sekitar 3.500 orang, dengan estimasi kerugian lebih dari Rp 200 miliar. Hingga kini, klaim tersebut masih menjadi bagian dari proses pendalaman aparat penegak hukum.

Terlepas dari proses hukum yang berjalan, kasus ini kembali menyoroti dinamika penipuan investasi di era digital. Skema yang ditawarkan tidak lagi tampil sederhana, melainkan kerap dikemas secara profesional, melalui komunitas, narasi edukatif, serta testimoni yang terlihat meyakinkan.

Di tengah meningkatnya popularitas aset kripto pada 2026, risiko investasi pun dinilai semakin kompleks.

Pelapor kasus dugaan penipuan investasi trading mata uang kripto oleh influencer Timothy Ronald saat memberikan keterangan sebelum memakai pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Selasa (13/1/2026).Kompas.com/Dian Erika Pelapor kasus dugaan penipuan investasi trading mata uang kripto oleh influencer Timothy Ronald saat memberikan keterangan sebelum memakai pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Selasa (13/1/2026).

Akar Persoalan

Perencana Keuangan sekaligus Founder Finante.id, Rista Zwestika, menilai akar persoalan bukan terletak pada kripto sebagai instrumen, melainkan pada cara masyarakat memulai investasi.

Menurutnya, banyak orang langsung berfokus pada pembelian koin dan mengejar keuntungan, tanpa terlebih dahulu membangun pola pikir investasi yang benar.

“Kalau mau jujur, investasi kripto itu bukan dimulai dari beli koin, tapi dari belajar cara berpikirnya dulu. Di 2026 ini, kripto sudah bukan barang baru. Tapi justru karena makin populer, risikonya juga makin pintar,” ujar Rista kepada Kompas.com.

Ia menjelaskan bahwa investasi kripto seharusnya dimulai dari tujuan keuangan, bukan dari tren atau dorongan sosial.

Investor perlu memahami untuk apa dana tersebut dialokasikan, berapa lama jangka waktu investasinya, serta seberapa besar kerugian yang secara realistis dapat ditanggung.

Tanpa kejelasan tersebut, keputusan investasi cenderung dikendalikan emosi, bukan perhitungan rasional.

“Mulai dari tujuan keuangan, bukan tren. Jangan mulai karena ‘teman untung’, ‘influencer pamer’, atau ‘takut ketinggalan’. Tanya dulu: uang ini untuk apa? jangka berapa lama? siap rugi berapa?,” paparnya.

Rista juga menekankan pentingnya memahami aset yang dibeli.

Investor idealnya mengetahui fungsi koin, latar belakang tim pengembang, serta persoalan yang ingin diselesaikan oleh proyek tersebut.

Ketika seseorang tidak mampu menjelaskan aset yang dibeli dengan bahasanya sendiri, hal itu menjadi sinyal bahwa keputusan investasi dilakukan tanpa pemahaman yang memadai.

Dalam praktiknya, garis pembatas antara investasi sehat dan penipuan kerap kali sangat tipis.

Menurut Rista, investasi yang sehat umumnya transparan terhadap risiko dan tidak pernah menjanjikan keuntungan pasti, terutama di pasar yang fluktuatif seperti kripto.

Investasi yang wajar juga tidak menekan calon investor untuk segera mengambil keputusan dengan dalih kesempatan terbatas atau iming-iming keuntungan cepat.

“Pahami dasar: apa yang kamu beli. Minimal tahu ini koin apa? dipakai untuk apa? Siapa timnya? Masalah apa yang dia selesaikan? Kalau tidak bisa jelaskan dengan bahasa sendiri, itu tanda belum siap beli,” bebernya.

Ilustrasi kripto.UNSPLASH/TRAXER Ilustrasi kripto.

Pentingnya Platform Resmi dan Literasi Keuangan

Dalam konteks investasi kripto, penggunaan platform resmi yang diawasi regulator menjadi fondasi paling mendasar.

Di Indonesia pada 2026, telah jelas bursa aset kripto mana saja yang legal dan berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pengawasan tersebut tidak sekadar formalitas, melainkan bertujuan memastikan adanya standar perlindungan konsumen, transparansi transaksi, serta mekanisme pengaduan jika terjadi sengketa.

Platform resmi juga diwajibkan menerapkan prosedur keamanan, pencatatan aset, dan tata kelola yang lebih ketat dibandingkan layanan ilegal.

Sebaliknya, memilih jalur belakang demi iming-iming keuntungan lebih besar justru menempatkan investor pada risiko yang sangat tinggi.

“Gunakan platform resmi dan diawasi regulator. Di Indonesia 2026, sudah jelas mana exchange legal. Kalau masih mau jalur belakang demi iming-iming cuan lebih besar, itu bukan investasi, itu judi dengan kemasan teknologi,” lanjut Rista.

Kondisi ini diperparah oleh tingkat literasi investasi masyarakat yang dinilai meningkat secara kuantitas, tetapi belum diikuti oleh kedalaman pemahaman.

Banyak orang sudah mengenal istilah kripto, memiliki aplikasi exchange, dan pernah membeli aset digital.

Namun, pemahaman tentang siklus pasar, perbedaan antara spekulasi dan investasi, serta manajemen risiko masih sangat terbatas.

Menurut Rista, persoalan ini bukan karena masyarakat tidak cerdas, melainkan karena edukasi keuangan kalah cepat dibandingkan pemasaran.

Suara influencer sering lebih dominan daripada edukator, sementara konten viral jauh lebih menarik daripada penjelasan yang benar dan mendalam.

Akibatnya, banyak investor membeli aset lebih dulu dan baru belajar ketika kerugian sudah terjadi.

“Literasi meningkat, tapi kedalaman pemahaman masih dangkal. Banyak orang tahu istilah kripto, punya aplikasi exchange, pernah beli koin, tapi tidak paham siklus pasar, tidak tahu bedanya spekulasi vs investasi, tidak mengerti manajemen risiko,” lanjutnya.

“Masalahnya bukan orang Indonesia bodoh, tapi edukasi keuangan kalah cepat dari marketing. Influencer lebih keras dari edukator, Konten viral lebih menarik daripada konten benar. Akibatnya, banyak orang beli dulu, belajar belakangan, atau tidak belajar sama sekali,” tukas Rista.

Sikap Skeptis dan Rasional Kunci Utama

Dalam situasi seperti ini, sikap skeptis dan rasional menjadi kunci utama.

Investor perlu membiasakan diri untuk bertanya secara kritis tentang sumber keuntungan, mekanisme bisnis, serta skenario terburuk jika pasar bergerak berlawanan.

Keputusan investasi juga perlu dijauhkan dari dorongan emosional seperti rasa takut ketinggalan, iri melihat keuntungan orang lain, atau kebutuhan uang dalam waktu singkat.

Rista mengingatkan tidak ada investasi yang sekaligus aman, memberikan keuntungan besar, cepat, dan konsisten.

Jika ada pihak yang menawarkan semua hal tersebut dalam satu paket, hampir dapat dipastikan ada risiko besar yang disembunyikan.

Investasi seharusnya dipandang sebagai proses jangka panjang, bukan jalan pintas untuk cepat kaya.

Pada akhirnya, investasi yang sehat harus disesuaikan dengan tujuan keuangan, target yang ingin dicapai, jangka waktu, serta kemampuan menyisihkan dana secara rutin.

Evaluasi berkala juga penting untuk memastikan strategi berjalan sesuai rencana.

Kripto, lanjut Rista, hanyalah alat keuangan, bukan solusi hidup.

Ia bisa membantu mempercepat pencapaian tujuan keuangan, tetapi juga dapat mempercepat kehancuran finansial jika dijalani tanpa pengetahuan dan pengendalian diri.

“Kripto bisa mempercepat tujuan keuangan, tapi juga bisa mempercepat kehancuran kalau masuk tanpa ilmu. Di 2026 ini, tantangan terbesar investor bukan lagi teknologi, tapi mengelola keserakahan, emosi, dan ego,” tegas Rista.

Jadi investasi yang baik itu harus disesuaikan dengan tujuan keuangan, targetnya, jangka waktunya, berapa yang bisa disisihkan di awal setiap bulannya.

Setelah itu baru tentukan jenis investasi apa yang akan digunakan untuk mencapai tujuan keuangan tersebut.

“Dan jangan lupa lakukan review untuk melihat apakah investasinya sudah berjalan sesuai target atau belum,” ucapnya.

Tag:  #kasus #dugaan #penipuan #kripto #jadi #pengingat #risiko #investasi #berbasis #tren

KOMENTAR