Jabar, Jatim, dan Jateng Puncaki Konsumsi Daging Sapi Nasional 2025
Harga daging di Pasar Pondok Bambu Jakarta Timur mencapai Rp 150.000 per Kg.(KOMPAS.com/ SHINTA DWI AYU)
15:16
13 Januari 2026

Jabar, Jatim, dan Jateng Puncaki Konsumsi Daging Sapi Nasional 2025

- Konsumsi daging sapi dan kerbau Indonesia pada 2025 mencapai 787,42 ribu ton, naik 3,65 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 759,69 ribu ton.

Dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 284,44 juta jiwa, konsumsi rata-rata daging sapi dan kerbau nasional berada pada 2,77 kilogram per kapita per tahun.

Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat bahwa konsumsi daging sapi dan kerbau secara nasional tersebut sangat terkonsentrasi di beberapa provinsi besar, khususnya di Pulau Jawa.

Ilustrasi daging sapi. UNSPLASH/DAVID FOODPHOTOTASTY Ilustrasi daging sapi.

Dalam laporan Peternakan dalam Angka 2025, ditegaskan bahwa konsumsi daging sapi dan kerbau tertinggi di Indonesia didominasi oleh provinsi-provinsi di Pulau Jawa.

Dari seluruh provinsi di Indonesia, sepuluh daerah berikut menjadi penyumbang terbesar konsumsi daging sapi dan kerbau nasional sepanjang tahun 2025.

1. Jawa Barat: 178.105 ton

Jawa Barat menjadi provinsi dengan konsumsi daging sapi dan kerbau terbesar di Indonesia pada 2025. Total konsumsi mencapai 178.105 ton, atau sekitar 22,62 persen dari total konsumsi nasional.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 50 juta jiwa, kebutuhan daging sapi dan kerbau Jawa Barat jauh melampaui kapasitas produksi lokalnya.

BPS mencatat bahwa provinsi ini mengalami defisit tertinggi secara nasional, yakni 97,38 ribu ton, karena produksi hanya mencapai 80.729 ton.

2. Jawa Timur: 147.700 ton

Ilustrasi daging sapi. SHUTTERSTOCK/K_SAMURKAS Ilustrasi daging sapi.

Posisi kedua ditempati Jawa Timur dengan konsumsi 147.700 ton. Angka ini menempatkan provinsi tersebut sebagai pasar daging sapi dan kerbau terbesar kedua setelah Jawa Barat.

Jawa Timur juga merupakan produsen terbesar nasional, dengan produksi mencapai 100.875 ton. Meski demikian, tingginya konsumsi membuat provinsi ini tetap mengalami defisit 46.825 ton.

3. Jawa Tengah: 99.255 ton

Di peringkat ketiga terdapat Jawa Tengah dengan konsumsi 99.255 ton pada 2025. Produksi daging sapi dan kerbau lokal provinsi ini tercatat 81.831 ton, sehingga masih terdapat defisit sekitar 17.424 ton.

Kombinasi jumlah penduduk yang besar dan posisi sebagai salah satu pusat industri makanan menjadikan Jawa Tengah sebagai salah satu pasar utama daging sapi dan kerbau di Indonesia.

4. DKI Jakarta: 68.050 ton

DKI Jakarta menempati posisi keempat dengan konsumsi 68.050 ton. Dengan populasi sekitar 11 juta jiwa dan peran sebagai pusat jasa, perdagangan, dan industri makanan, kebutuhan daging sapi dan kerbau Jakarta jauh melampaui produksinya.

Produksi daging sapi dan kerbau DKI Jakarta hanya 16.416 ton, sehingga defisit mencapai 51.634 ton.

5. Banten: 42.544 ton

Peringkat kelima ditempati Banten dengan konsumsi 42.544 ton. Produksi lokal hanya 14.761 ton, sehingga provinsi ini mengalami defisit 27.783 ton.

6. Sulawesi Selatan: 27.006 ton

Di luar Jawa, Sulawesi Selatan menjadi provinsi dengan konsumsi terbesar, yakni 27.006 ton. Angka ini menempatkan Sulawesi Selatan di peringkat keenam nasional.

Ilustrasi daging sapi. Terdapat beberapa kelompok orang yang sebaiknya menghindari konsumsi daging merah seperti daging sapi.shutterstock/Ilia Nesolenyi Ilustrasi daging sapi. Terdapat beberapa kelompok orang yang sebaiknya menghindari konsumsi daging merah seperti daging sapi.

Provinsi ini memproduksi 18.364 ton, sehingga masih mencatat defisit sekitar 8.642 ton.

7. Nusa Tenggara Barat (NTB): 26.623 ton

Nusa Tenggara Barat (NTB) mengonsumsi 26.623 ton daging sapi dan kerbau sepanjang tahun 2025. Dengan produksi 11.768 ton, NTB mengalami defisit 14.855 ton.

8. Lampung: 26.492 ton

Lampung menjadi salah satu provinsi di Sumatera dengan konsumsi daging sapi dan kerbau terbesar, yakni 26.492 ton. Produksi lokal tercatat 18.523 ton, sehingga masih terjadi defisit 7.969 ton.

9. Sumatera Barat: 18.518 ton

Sumatera Barat mencatat konsumsi 18.518 ton pada 2025. Provinsi ini termasuk wilayah dengan konsumsi per kapita tinggi di Sumatera, mencapai 3,13 kg per orang per tahun.

Produksi daging sapi dan kerbau Sumatera Barat sebesar 21.848 ton pada 2025, sehingga provinsi ini justru mengalami surplus sekitar 3.330 ton.

10. Sumatera Selatan: 14.896 ton

Posisi kesepuluh ditempati Sumatera Selatan dengan konsumsi 14.896 ton. Produksi lokal tercatat 13.665 ton, sehingga defisit relatif kecil, yakni 1.231 ton.

Provinsi-provinsi dengan konsumsi daging sapi dan kerbau terendah 2025

Kelompok provinsi dengan konsumsi terendah hampir seluruhnya berasal dari kawasan Indonesia timur dan provinsi hasil pemekaran baru.

Provinsi dengan konsumsi terendah secara nasional adalah Papua Selatan, yang pada 2025 hanya mengonsumsi 555 ton daging sapi dan kerbau. Angka ini bahkan lebih rendah dibandingkan produksinya sendiri yang mencapai 641 ton, sehingga Papua Selatan mencatat surplus sekitar 86 ton.

Harga daging sapi di Pasar Jaya Tomang Barat, Tanjung Duren Selatan, Jakarta Barat, naik menjadi Rp 150.000 per kilogram menjelang Lebaran 2025 atau Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah. Foto diambil Senin (24/3/2025).KOMPAS.com/NIRMALA MAULANA A Harga daging sapi di Pasar Jaya Tomang Barat, Tanjung Duren Selatan, Jakarta Barat, naik menjadi Rp 150.000 per kilogram menjelang Lebaran 2025 atau Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah. Foto diambil Senin (24/3/2025).

Di bawahnya terdapat Papua Barat dengan konsumsi 1.098 ton dan Papua Pegunungan 1.119 ton, sementara Papua Tengah mencatat konsumsi 1.313 ton dan Papua Barat Daya 1.183 ton.

Seluruh provinsi di Tanah Papua tersebut memiliki tingkat konsumsi yang sangat kecil jika dibandingkan dengan provinsi di Jawa, yang masing-masing menyerap puluhan hingga ratusan ribu ton per tahun.

Di kawasan Maluku, provinsi Maluku mencatat konsumsi 1.800 ton, sedangkan Maluku Utara 1.520 ton.

Kedua provinsi ini juga termasuk dalam kelompok dengan konsumsi terendah nasional, sejalan dengan jumlah penduduk yang lebih kecil serta keterbatasan jaringan distribusi daging sapi dan kerbau.

Di Sulawesi, konsumsi terendah tercatat di Gorontalo sebesar 1.695 ton dan Sulawesi Barat 2.327 ton, jauh di bawah konsumsi Sulawesi Selatan yang mencapai 27.006 ton.

Kondisi ini menegaskan bahwa bahkan di dalam satu pulau, pola konsumsi daging sapi dan kerbau dapat berbeda sangat tajam antarprovinsi.

Secara regional, BPS dan Bapanas mencatat bahwa Maluku dan Papua secara agregat hanya mengonsumsi 9,57 ribu ton daging sapi dan kerbau pada 2025, menjadi wilayah dengan konsumsi terendah di Indonesia, dibandingkan dengan Jawa yang mencapai 547,19 ribu ton.

Dominasi Jawa dalam peta konsumsi daging sapi dan kerbau nasional

Jika dilihat secara regional, Pulau Jawa menyerap 547,19 ribu ton, atau sekitar 69,5 persen dari total konsumsi nasional.

Sumatera berada di posisi kedua dengan 107,96 ribu ton, disusul Bali dan Nusa Tenggara 48,00 ribu ton, Sulawesi 40,20 ribu ton, Kalimantan 34,50 ribu ton, serta Maluku dan Papua 9,57 ribu ton.

Ilustrasi harga daging naik di pasar.Rachel Farahdiba R Ilustrasi harga daging naik di pasar.

BPS dalam laporannya menyebutkan bahwa konsumsi terbesar pada tahun 2025 berada di wilayah Jawa, sementara wilayah dengan konsumsi terendah adalah Maluku dan Papua.

Konsumsi dan ketimpangan antarprovinsi

Konsentrasi konsumsi daging sapi dan kerbau di sepuluh provinsi terbesar tersebut juga tercermin dalam neraca pasokan.

Hanya beberapa provinsi seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Riau yang mencatat surplus, sementara hampir seluruh provinsi dengan konsumsi besar berada dalam kondisi defisit.

BPS mencatat bahwa Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Tengah merupakan provinsi dengan defisit terbesar karena konsumsi yang jauh lebih tinggi dibandingkan produksi.

Produksi daging sapi dan kerbau nasional 2025

Dalam laporannya, BPS menyatakan produksi daging sapi dan kerbau Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai 515,60 ribu ton, naik 5,61 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 488,22 ribu ton.

Secara spasial, Pulau Jawa tetap menjadi tulang punggung produksi, dengan kontribusi 59,01 persen atau sekitar 304,23 ribu ton dari total nasional. Sumatera menyumbang 23,78 persen, disusul Sulawesi 6,95 persen dan Bali–Nusa Tenggara 5,22 persen.

Wilayah lain memberikan kontribusi di bawah 5 persen. Namun, BPS juga mencatat bahwa tingginya konsumsi di Jawa menyebabkan defisit struktural.

Produksi Jawa sebesar 304,23 ribu ton hanya mampu memenuhi sebagian dari kebutuhan yang mencapai 547,19 ribu ton, sehingga terjadi defisit 242,96 ribu ton pada 2025.

Tag:  #jabar #jatim #jateng #puncaki #konsumsi #daging #sapi #nasional #2025

KOMENTAR