HSBC: Konsumsi Masyarakat Mulai Pulih, tapi Masih ''Makan'' Tabungan
Ilustrasi tabungan. (Dok. PIXABAY)
07:52
13 Januari 2026

HSBC: Konsumsi Masyarakat Mulai Pulih, tapi Masih ''Makan'' Tabungan

- The Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC) mengungkapkan konsumsi masyarakat Indonesia menunjukkan perbaikan.

Namun, pemulihan tersebut dinilai belum sepenuhnya sehat karena disebabkan oleh maraknya fenomena 'makan' tabungan.

Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist Asean Economist Pranjul Bhandari mengatakan, sejumlah indikator konsumsi masyarakat Indonesia menunjukkan perbaikan di pengujung tahun 2025.

Berdasarkan data Bank Indonesia, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) relatif meningkat sejak Oktober 2025, setelah sempat menyentuh titik terendah pada September 2025.

Sementara data PMI Manufaktur Indonesia pulih dan berada pada zona ekspansi sejak Agustus hingga akhir tahun lalu.

Setelah sempat berada dalam zona kontraksi selama April-Juli 2025.

"Beberapa data kepercayaan konsumen yang saya pantau menunjukkan peningkatan. Jadi secara umum saya akan mengatakan bahwa tahun 2025 berakhir dengan baik," ujarnya dalam media briefing, Senin (12/1/2026).

Pulihnya konsumsi domestik menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional, mengingat hingga saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga.

HSBC memperkirakan konsumsi domestik pada 2025 akan tumbuh sekitar 5 persen secara tahunan (yoy). Namun kontribusinya ke Produk Domestik Bruto (PDB) masih lebih rendah dibandingkan ekspor yang bakal tumbuh sekitar 8 persen (yoy). Dengan membaiknya konsumsi pada akhir tahun lalu, pertumbuhan konsumsi domestik diperkirakan akan lebih tinggi menjadi 6 persen.

Bahkan pertumbuhan konsumsi bakal menyalip ekspor yang tumbuh terkontraksi menjadi 2 persen.

Dengan demikian, konsumsi masyarakat diperkirakan kembali menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, sekaligus mengimbangi pelemahan sektor eksternal.

Meski demikian, Pranjul mengingatkan, kenaikan konsumsi tersebut masih memiliki kelemahan.

Menurut dia, banyak belanja masyarakat masih berasal dari 'makan' tabungan, bukan dari pertumbuhan pendapatan riil.

Fenomena 'makan' tabungan ini disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan hidup masyarakat tapi pendapatan yang dihasilkan tidak dapat mencukupi.

Alhasil mereka terpaksa menggunakan uang tabungan untuk memenuhi kebutuhan. "Banyak pengeluaran konsumen didasarkan pada tabungan mereka. Jadi orang-orang menghabiskan tabungan mereka untuk membeli barang-barang," ungkapnya.

Menurutnya, kondisi ini menjadi tantangan utama bagi Indonesia pada 2026, terutama dalam menjaga keberlanjutan pemulihan konsumsi demi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Sebab jika tidak diiringi dengan penciptaan lapangan kerja yang dan peningkatan pendapatan, ruang pertumbuhan konsumsi berisiko menyempit ketika tabungan masyarakat berangsur habis untuk belanja.

"Saya pikir ini akan menjadi tantangan berikutnya yang dapat diatasi Indonesia pada 2026, bagaimana meningkatkan pertumbuhan jangka menengah karena itulah yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan pendapatan yang lebih baik," kata dia.

Tag:  #hsbc #konsumsi #masyarakat #mulai #pulih #tapi #masih #makan #tabungan

KOMENTAR