Harga Emas Cetak Rekor di 2025, Proyeksi 2026 Masih ''Bullish''
- World Gold Council (WGC) dalam laporan terbarunya, Gold Market Commentary, menyatakan bahwa 2025 menjadi salah satu tahun terkuat bagi emas dalam sejarah pasar logam mulia.
Harga emas dunia mencatatkan imbal hasil tahunan sebesar 67 persen sepanjang tahun lalu dan menembus rekor tertinggi sepanjang masa di level 4.449 dollar AS per troy ons pada Desember 2025.
Capaian tersebut tidak hanya terjadi dalam denominasi dollar AS, tetapi juga di hampir seluruh mata uang utama dunia.
Ilustrasi emas batangan. Harga emas dunia pada Kamis (18/12/2025) menguat dan bergerak mendekati rekor tertinggi. Kenaikan ini terjadi di tengah sikap investor yang menanti rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) serta mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Venezuela.
WGC mencatat variasi imbal hasil tahunan antarnegara dipengaruhi oleh volatilitas nilai tukar, tetapi secara global tren harga emas menunjukkan kekuatan yang seragam.
Kenaikan tajam itu mencerminkan meningkatnya peran emas sebagai aset lindung nilai di tengah lingkungan global yang penuh ketidakpastian.
Secara historis, dollar AS kerap menjadi tujuan utama investor ketika risiko geopolitik meningkat.
Namun demikian, sepanjang 2025, emas justru tampil sebagai safe haven pilihan, seiring memburuknya lanskap geopolitik dan kebijakan ekonomi yang sulit diprediksi.
"Kenaikan harga emas sepanjang 2025 tidak hanya dipicu oleh faktor jangka pendek, tetapi juga oleh permintaan struktural yang berkelanjutan, khususnya dari bank sentral serta peran makro emas dalam diversifikasi portofolio," tulis WGC dalam laporan yang diterima Kompas.com, dikutip pada Selasa (13/1/2026).
Dalam kondisi harga emas naik sepanjang 2025, bank sentral kembali menjadi pemain kunci.
Ilustrasi emas. Harga emas hari ini pada Minggu (4/1/2026)
Di tengah fragmentasi geopolitik dan meningkatnya ketegangan antara blok ekonomi utama, emas semakin dipandang sebagai instrumen netral yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap mata uang tertentu.
Permintaan dari otoritas moneter inilah yang disebut WGC sebagai salah satu fondasi utama ketahanan harga emas menjelang 2026.
Harga emas masih menguat memasuki 2026
Tren kuat emas tidak berhenti ketika kalender berganti. Memasuki Januari 2026, harga emas global justru kembali mencetak rekor baru.
Reuters melaporkan bahwa pada Senin (12/1/2026), harga emas spot sempat menembus kisaran 4.560 hingga 4.600 dollar AS per ons, didorong oleh lonjakan permintaan safe haven akibat meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian arah kebijakan moneter AS.
Reuters menyebut, reli tersebut terjadi bersamaan dengan melemahnya dollar AS dan meningkatnya spekulasi bahwa bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) akan menurunkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan sebelumnya, menyusul perlambatan ekonomi AS.
Kondisi tersebut membuat emas tetap menarik bagi investor global. FXStreet mencatat bahwa pasar juga bereaksi terhadap meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas kebijakan dan independensi bank sentral AS, yang mendorong arus modal mengalir ke aset lindung nilai seperti emas.
Arus masuk dana ke produk investasi berbasis emas juga menunjukkan penguatan.
Produk Exchange Traded Fund (ETF) dan instrumen investasi berbasis emas di Amerika Utara dan Asia mencatat arus dana masuk tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, seiring investor institusional meningkatkan eksposur terhadap emas sebagai perlindungan portofolio.
Permintaan struktural dan peran bank sentral
Dalam laporannya, WGC menekankan bahwa reli emas sepanjang 2025 tidak semata didorong oleh sentimen jangka pendek, melainkan juga oleh perubahan struktural di pasar keuangan global.
Ilustrasi emas. Berikut daftar harga emas batangan Antam yang tercatat di laman Logam Mulia
“Permintaan bank sentral dan fungsi emas dalam diversifikasi portofolio menjadi fondasi yang memberikan daya tahan bagi pasar emas memasuki 2026,” tulis WGC.
Dalam beberapa tahun terakhir, bank sentral di berbagai negara berkembang dan negara maju terus menambah cadangan emas mereka.
Langkah ini mencerminkan upaya mengurangi eksposur terhadap dollar AS dan obligasi pemerintah negara tertentu di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan penggunaan sanksi finansial dalam konflik internasional.
Emas, dalam konteks tersebut, berperan sebagai aset yang bebas risiko kredit dan tidak terikat pada kebijakan satu negara, sehingga menjadi komponen penting dalam strategi manajemen cadangan devisa.
Faktor kebijakan yang menjadi perhatian pasar
Memasuki 2026, World Gold Council menilai bahwa dinamika kebijakan di AS akan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi arah harga emas.
Putusan Mahkamah Agung AS terkait kebijakan tarif serta perubahan ekspektasi terhadap jalur suku bunga acuan The Fed disebut sebagai variabel penting yang terus dipantau pelaku pasar.
Ketidakpastian arah kebijakan fiskal dan moneter di ekonomi terbesar dunia tersebut memiliki dampak langsung terhadap dollar AS dan imbal hasil obligasi, dua faktor yang sangat berpengaruh terhadap harga emas.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik yang masih berlangsung, termasuk konflik di Eropa Timur serta dinamika di Amerika Latin dan Timur Tengah, tetap menjadi sumber permintaan safe haven bagi emas.
World Gold Council menilai kondisi ini menjadi latar belakang yang terus menopang minat investor terhadap logam mulia tersebut.
Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.
Emas di tengah dinamika logam mulia lain
Dalam lanskap pasar logam mulia yang lebih luas, WGC juga menyoroti pergeseran pada perak dan platinum.
Seiring meredanya tekanan pasokan pada kedua logam tersebut, emas diperkirakan akan semakin menegaskan posisinya sebagai jangkar utama sektor logam mulia.
Likuiditas pasar emas yang lebih dalam, ditambah perannya sebagai instrumen diversifikasi, membuat emas tetap menjadi referensi utama investor global ketika ketidakpastian meningkat.
Produksi global dan pasokan emas
Di sisi pasokan, produksi emas global juga menunjukkan penguatan. World Gold Council mencatat bahwa output emas dunia diperkirakan mencapai rekor tertinggi pada 2025.
Ini seiring mulai beroperasinya sejumlah proyek pertambangan baru dan ekspansi kapasitas di berbagai negara produsen utama.
Peningkatan pasokan tersebut, meskipun signifikan, belum mampu mengimbangi lonjakan permintaan dari investor dan bank sentral, sehingga tekanan ke atas pada harga tetap kuat sepanjang tahun lalu dan berlanjut ke awal 2026.
Proyeksi harga emas 2026 dari lembaga keuangan global
Sejumlah lembaga keuangan internasional telah merilis proyeksi harga emas untuk 2026.
Morgan Stanley, sebagaimana dikutip Reuters, memproyeksikan harga emas bisa mencapai 4.800 dollar AS per ons pada kuartal IV 2026, dengan alasan melemahnya dollar AS, potensi perubahan kepemimpinan di The Fed, serta ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi.
Di sisi lain, beberapa analis pasar juga memperingatkan bahwa pergerakan harga emas pada 2026 sangat bergantung pada arah suku bunga global dan stabilitas ekonomi dunia.
Jika tekanan geopolitik mereda dan ekonomi global pulih lebih cepat, volatilitas emas tetap berpotensi meningkat.
World Gold Council sendiri menggambarkan 2026 sebagai tahun dengan berbagai skenario, di mana harga emas bisa tetap tinggi atau mengalami koreksi, bergantung pada interaksi antara kebijakan moneter, pergerakan dollar AS, dan dinamika risiko global.
Tag: #harga #emas #cetak #rekor #2025 #proyeksi #2026 #masih #bullish