Rupiah Dibuka Tertekan ke Posisi Rp 16.848 per Dollar AS Hari Ini
- Nilai tukar rupiah di pasar spot melemah pada awal perdagangan Senin (12/1/2026).
Rupiah dibuka di level Rp 16.848 per dollar AS, turun 0,17 persen dibandingkan penutupan perdagangan Jumat pekan kemarin, yang berada di posisi Rp 16.819 per dollar AS.
Pergerakan mata uang Asia terpantau bervariasi dengan kecenderungan menguat terhadap mata uang Paman Sam. Baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan Asia atau melonjak 0,28 persen.
Lalu, dollar Singapura naik 0,13 persen, yen Jepang dan ringgit Malaysia sama-sama menguat 0,09 persen, peso Filipina naik 0,07 persen, yuan China menguat tipis 0,03 persen.
Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah turun 0,20 persen. Pelemahan juga dialami dollar Taiwan yang melemah 0,05 persen, serta dollar Hong Kong yang turun tipis 0,006 persen terhadap dollar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan rupiah diperkirakan sempat berada di bawah tekanan dan berpotensi melemah terhadap dollar AS, seiring masih kuatnya mata uang Negeri Paman Sam.
Penguatan dollar AS dipicu oleh rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat pada Jumat lalu yang secara umum tercatat lebih kuat dari perkiraan pasar. Data-data itu memperkuat ekspektasi bahwa perekonomian AS masih solid, sehingga menopang dollar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar juga mencermati rilis data penjualan ritel Indonesia yang dijadwalkan keluar pada pagi hari ini. Data tersebut dinilai penting untuk memberikan gambaran mengenai daya beli masyarakat dan kondisi konsumsi domestik. Jika hasilnya lebih lemah dari perkiraan, rupiah berpotensi kembali tertekan.
Secara teknikal, pergerakan rupiah diperkirakan berada dalam kisaran 16.750 hingga 16.850 per dollar AS.
“Rupiah diperkirakan berpotensi melemah terhadap dollar AS yang masih menguat merespon data-data ekonomi AS pada hari Jumat, yang secara umum lebih kuat dari perkiraan. Investor juga menantikan data penjualan ritel Indonesia pagi ini. Adapun Range (pergerakan rupiah) Rp 16.750- Rp 16.850,” ujar Lukman kepada Kompas.com.
Namun demikian, sentimen pasar mengalami perubahan seiring dengan perkembangan terbaru dari Amerika Serikat. Presiden Donald Trump dilaporkan membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua The Fed Jerome Powell.
Langkah tersebut dapat memicu kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral AS dan stabilitas kebijakan moneter ke depan. Dampaknya indeks dollar AS bisa terkoreksi.
Pelemahan dollar AS tersebut membuka ruang bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah, untuk berbalik menguat.
“Perkembangan terbaru, Trump membuka penyelidikan kriminal atas Powell, ini membuat indeks dolar AS turun cukup tajam sehingga rupiah berpotensi menguat,” paparnya.