Pengembangan Teknologi Bakal Jadi Kunci Percepatan Dekarbonisasi Industri di Masa Depan
–Memasuki 2026, transformasi industri menuju operasional rendah karbon bukan lagi pilihan melainkan syarat untuk menjaga daya saing di pasar global. Implementasi penuh Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa tahun ini merupakan salah satu contoh yang mendorong pelaku industri di Indonesia mempercepat langkah dekarbonisasi secara terukur dan berkelanjutan.
Menjawab dinamika tersebut, SUN Energy menegaskan arah bisnis pada 2026 dengan memperkuat solusi keberlanjutan terintegrasi bagi sektor industri. Sepanjang 2025, perusahaan telah memfokuskan pengembangan bisnis pada penguatan kapabilitas teknis, operasional, dan digital untuk membantu industri mengelola energi, emisi, dan efisiensi operasional secara lebih sistematis lintas lokasi dan jangka panjang.
Adopsi energi terbarukan di sektor industri terus menunjukkan tren pertumbuhan. Data PLN mencatat jumlah pelanggan PLTS Atap mencapai 11.392 pelanggan dengan kapasitas terpasang sekitar 772,9 MW.
SUN Energy akan memperluas kolaborasi bersama dengan kawasan industri. Hingga kini, perusahaan telah memasang PLTS untuk lebih dari 20 tenant di tiga kawasan industri strategis, yakni Karawang International Industrial City (KIIC), Greenland International Industrial Center (GIIC), serta Kawasan Industri Jababeka melalui kerja sama dengan Bekasi Power.
CEO SUN Energy Emmanuel Jefferson Kuesar menegaskan, pengembangan teknologi akan menjadi kunci utama dalam mempercepat dekarbonisasi industri ke depan. Memasuki 2026, pihaknya tidak hanya fokus pada proyek energi surya, tetapi juga pada pengembangan teknologi penyimpanan energi seperti Battery Energy Storage System (BESS), khususnya untuk sektor industri dengan kebutuhan energi tinggi dan operasional kompleks.
”Seperti pertambangan, manufaktur berat, serta sektor-sektor potensial lainnya. Integrasi antara pembangkitan, penyimpanan, dan sistem manajemen energi menjadi pondasi penting untuk memastikan keandalan pasokan sekaligus efisiensi emisi,” ujar Emmanuel Jefferson Kuesar.
Dia menambahkan, kolaborasi lintas ekosistem akan semakin diperluas. Pihaknya membuka kerja sama yang lebih erat dengan kawasan industri untuk membangun sistem energi terintegrasi, termasuk integrasi dengan elektrifikasi armada kendaraan operasional dan infrastruktur kendaraan listrik.
”Pendekatan ini memungkinkan industri mengelola energi dan emisi secara menyeluruh, dari sumber energi, penyimpanan, hingga mobilitas, sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang,” terang Emmanuel Jefferson Kuesar.
Memasuki 2026, Emmanuel Jefferson Kuesar menyatakan akan melanjutkan penguatan peran di sektor industri sekaligus memperluas keterlibatan di segmen Independent Power Producer (IPP). Hal itu guna mendukung pengembangan proyek energi surya berskala lebih besar. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat kontribusi terhadap bauran energi nasional serta memperluas jangkauan solusi energi surya.
Sejalan dengan perluasan segmen tersebut, lanjut dia, pihaknya juga memperkuat ekosistem bisnis melalui integrasi SUN Mobility sebagai solusi elektrifikasi transportasi dan infrastruktur kendaraan Listrik, serta SUN Terra yang berfokus pada pengelolaan dan optimalisasi sistem energi surya.
”Integrasi ini dirancang untuk menghadirkan solusi keberlanjutan yang mencakup energi, mobilitas, dan pengelolaan sumber daya secara terpadu, sehingga dapat mendukung agenda dekarbonisasi industri secara lebih menyeluruh,” ungkap Emmanuel Jefferson Kuesar.
Tag: #pengembangan #teknologi #bakal #jadi #kunci #percepatan #dekarbonisasi #industri #masa #depan