Trump Tunda Serangan Besar ke Iran, Turuti Permintaan Negara Teluk
- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda serangan besar-besaran ke Iran untuk menuruti permintaan para pemimpin negara-negara Teluk.
Serangan militer AS semula dijadwalkan pada Selasa (19/5/2026), tetapi Trump diminta menundanya untuk memberi ruang bagi negosiasi dengan Teheran.
Penundaan serangan disampaikan mendadak oleh Trump melalui platform Truth Social miliknya pada Senin (18/5/2026), tak lama setelah Iran menanggapi proposal baru AS untuk mengakhiri perang.
Baca juga: Tak Puas dengan Tawaran Iran, Trump Disebut Akan Bahas Opsi Militer
Menurut presiden ke-45 dan 47 AS itu, permintaan penundaan datang dari para pemimpin Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Ia menambahkan, sekutu-sekutu Teluk yakin kesepakatan akan dibuat dengan syarat mencakup tidak ada senjata nuklir untuk Iran.
Trump lalu memberi tahu militer AS, "Kita tidak akan melakukan serangan yang dijadwalkan terhadap Iran besok."
Meski demikian, politisi Partai Republik itu menegaskan, militer AS tetap diminta dalam posisi siap jika perundingan tidak menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima.
"Lebih lanjut (saya) menginstruksikan mereka bersiap melakukan serangan skala besar terhadap Iran, kapan saja, jika kesepakatan tidak tercapai," imbuhnya, dikutip dari AFP.
Trump dalam beberapa hari terakhir melontarkan serangkaian peringatan keras kepada Iran, seusai kembali dari lawatan ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping.
Pada Minggu (17/5/2026) malam Trump mengatakan, waktu terus berjalan dan tidak akan ada yang tersisa dari Iran apabila kesepakatan damai tidak tercapai.
Baca juga: Media Iran Sebut AS Cabut Sanksi Minyak Selama Periode Negosiasi
Negosiasi alot AS-Iran
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif (tengah) saat memimpin pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (kelima dari kiri) mengenai perang Timur tengah, di rumah dinas PM Pakistan di Islamabad, 25 April 2026.AS dan Israel terlibat perang melawan Iran sejak mereka menyerang Teheran pada akhir Februari 2026.
Trump sejauh ini berupaya memecah kebuntuan dalam negosiasi, berjibaku mengakhiri konflik yang mengguncang Timur Tengah serta membuat harga energi melonjak.
Kedua pihak baru menggelar satu putaran pembicaraan di Pakistan, di tengah berlangsungnya gencatan senjata yang rapuh sejak April.
Pada 17 Mei, kantor berita Iran Fars melaporkan bahwa Washington mengajukan daftar lima poin, yang mencakup tuntutan agar Iran hanya mempertahankan operasional satu situs nuklir, dan mentransfer persediaan uranium yang diperkaya tinggi ke Amerika.
Fars juga melaporkan, proposal Iran menekankan Teheran akan tetap mengelola Selat Hormuz, jalur energi strategis yang sebagian besar masih ditutup Iran sejak awal perang.
Pada Senin, Otoritas Selat Teluk Persia atau PGSA, badan baru yang dibentuk Iran untuk mengelola Selat Hormuz, akan memberikan pembaruan secara real-time terkait operasi dan perkembangan di jalur air tersebut.
Adapun Trump menegaskan, Iran harus membuka selat tersebut sebagai bagian dari kesepakatan apa pun.
Baca juga: Iran Tanggapi Proposal Perdamaian Terbaru AS, Siap Akhiri Perang?
Tag: #trump #tunda #serangan #besar #iran #turuti #permintaan #negara #teluk