Mengapa Perlintasan Sebidang Rawan Kecelakaan? Ini Penjelasan Pakar
Ilustrasi kereta api.(Dok. PT KAI Daop 5 Purwokerto)
18:35
3 Mei 2026

Mengapa Perlintasan Sebidang Rawan Kecelakaan? Ini Penjelasan Pakar

Kecelakaan kereta seperti insiden kereta Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Bekasi Timur kembali menyoroti persoalan keselamatan di perlintasan sebidang.

Dilansir Kompas dari laman resmi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Minggu (3/5/2026) Prof Ir Hera Widyastuti MT PhD menilai, bahwa kondisi perlintasan sebidang masih menyimpan risiko tinggi terhadap pengendara dan transportasi kereta api.

Lantas, bagaimana perlintasan kereta api yang ideal dan aman untuk pengendara? Guru Besar Departemen Teknik Sipil ITS beri penjelasan selengkapnya.

Baca juga: Perjalanan Kereta Api Jarak Jauh Kembali Normal usai Kecelakaan di Bekasi Timur

Kekurangan perlintasan sebidang

Prof Ir Hera Widyastuti MT PhD menjelaskan bahwa perlintasan sebidang memiliki kekurangan dari sisi geometrik.

Umumnya, posisi rel kereta api yang dibangun sedikit lebih tinggi dari permukaan jalan raya membuat pengendara harus melintas dalam posisi menanjak. Hal ini membuat pengendara bisa mengalami kesalahan dalam teknis mengemudi.

“Kepanikan saat menanjak membuat pengendara kadang salah pindah gigi, sehingga beresiko mesin mobil mati tepat di atas rel” ujarnya.

Selain faktor geometrik, Hera juga menyoroti kelemahan perlintasan sebidang yang sangat bergantung dengan palang pintu dan kepatuhan manusia.

Kereta api yang masuk dalam kategori heavy train dapat melaju hingga 110 kilometer per jam dan tidak dapat berhenti secara mendadak.

Sehingga perlintasan sebidang ini akan menjadi titik rawan selama pertemuan langsung antara arus kendaraan dan laju kereta api terjadi.

Baca juga: Jadi Tempat Rawan Kecelakaan, Apa Itu Perlintasan Sebidang Kereta Api?

Perlintasan tidak sebidang jadi solusi efektif

Hera kembali menekankan bahwa perlintasan tidak sebidang merupakan solusi teknis paling efektif untuk mengeliminasi risiko kecelakan di jalur kereta.

Ia mendorong pemerintah untuk segera merealisasikan pembangunan infrastruktur perlintasan tidak sebidang baik berupa jalan layang atau jalan bawah tanah.

Infrastruktur ini dianggap efektif karena memutuskan titik pertemuan antara kendaraan bermotor dan kereta api secara total.

“Jika kita ingin menghindari benturan langsung, maka perlintasan tidak sebidang adalah jawaban utamanya” tegas Hera.

Baca juga: KAI Lakukan Penyesuaian Jadwal Perjalanan Kereta Api, Begini Cara Ceknya!

Tag:  #mengapa #perlintasan #sebidang #rawan #kecelakaan #penjelasan #pakar

KOMENTAR