Pemilik Restoran di Dubai Pangkas Gaji Karyawan Imbas Perang Timur Tengah
Restoran-restoran hingga hotel-hotel di Dubai dilaporkan sepi pengunjung imbas perang yang terjadi di Timur Tengah.
Dikutip dari BBC, pemilik sekaligus pengelola sebuah restoran di Dubai, Natasha Sideris mengatakan perubahan ini terjadi secara tiba tiba dan drastis.
"Situasi saat ini sangat brutal, saya punya pilihan untuk memecat 30 persen staf saya, atau memotong gaji untuk menyelamatkan pekerjaan. Untuk saat ini, saya memilih yang terakhir," kata Natasha, dikutip dari BBC, Minggu (5/4/2026).
Baca juga: Perang Masih Membara, Singapore Airlines Setop Terbang ke Dubai hingga 30 April 2026
Natasha mengatakan, banyak restorannya di Dubai mengalami penurunan pendapatan lebih dari 50 persen.
Namun, untuk beberapa gerai yang bergantung pada wisatawan, mengalami penurunan pendapatan yang cukup tajam, yakni sekitar 70 hingga 80 persen.
Krisis ini, memaksa Natasha untuk memotong gaji sebesar 30 persen untuk semua staf, termasuk dirinya sendiri.
Baca juga: Daftar Maskapai yang Harganya Melonjak Naik dampak Perang AS-Israel-Iran
Untuk diketahui, Natasha membuka restoran pertamanya di Dubai pada tahun 2014.
Selama dekade terakhir, grup perhotelan Tashas miliknya telah berkembang menjadi 14 gerai di seluruh negeri, dan mempekerjakan lebih dari 1.000 orang.
Namun, perang AS-Israel dengan Iran kini memberikan dampak buruk yang besar pada bisnisnya.
Nastaha menuturkan, dampak situasi ini akan jauh lebih buruk terhadap gerai-gerai yang jauh dari pusat perbelanjaan warga lokal.
Baca juga: Empat Situs Warisan Iran Rusak Akibat Perang, UNESCO Khawatir
Sebab, di tengah situasi saat ini, yang menjadi tumpuan harapan ialah pelanggan lokal.
Pasalnya jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Dunai turut berkurang karena khawatir dengan situasi yang terjadi saat ini.
Serupa, seorang eksekutif senior di sebuah jaringan restoran, yang meminta namanya dirahasiakan, mengatakan jumlah pengunjung di gerai mereka telah turun menjadi hanya 15 hingga 20 persen dari biasanya.
Baca juga: Cerita Haru Turis Singapura, Selamat dari Perang AS-Israel dan Iran
Siituasi ini memaksa mereka untuk menempatkan lebih dari setengah staf dalam kondisi cuti tanpa gaji.
"Kami tidak punya pilihan. Kami sudah menutup beberapa gerai untuk sementara waktu, dan sisanya beroperasi dengan staf minimal," katanya.
Dampaknya tidak hanya terbatas pada restoran, tetapi di seluruh ekosistem pariwisata. Mulai dari hotel dan agen perjalanan, hingga perusahaan transportasi dan maskapai penerbangan.
Selama dua dekade terakhir, Dubai telah membangun dirinya menjadi salah satu pusat pariwisata terkemuka di dunia.
Baca juga: 58.873 Jemaah Umrah Indonesia Terdampak Perang AS-Israel dan Iran
Tahun lalu, Dubai menyambut 19,59 juta pengunjung internasional, ini menjadikannya sebagai salah satu kota yang paling banyak dikunjungi di dunia.
Namun sejak perang dimulai, situasi berubah. Wilayah Uni Emirat Arab (UEA) secara luas telah berulang kali menjadi sasaran serangan.
Pihak berwenang mengatakan lebih dari 2.400 rudal dan drone telah diluncurkan ke arah UEA, menargetkan bandara, pelabuhan, dan area sipil, termasuk hotel dan bangunan tempat tinggal.
Menurut para pejabat, lebih dari 90 persen di antaranya berhasil dicegat dan dihancurkan.
Baca juga: Setelah Perang Israel, Elharamain Wisata Kembali Berangkatkan Jamaah ke Aqso
Namun, beberapa puing berjatuhan di berbagai bagian Dubai, termasuk area perumahan utama, hotel, dan bandara.
Hingga saat ini, 11 orang tewas dan lebih dari 185 orang terluka di seluruh UEA, menurut pihak berwenang di negara tersebut.
Dampak ke penerbangan
Konflik yang dimulai pada 28 Februari ini telah mengganggu perjalanan udara di seluruh wilayah Dubai.
Pada minggu-minggu awal, puluhan ribu pengunjung terdampar sebelum dievakuasi dengan penerbangan khusus.
Ribuan penerbangan reguler dan terjadwal telah dibatalkan sejak konflik dimulai. Hal ini menyebabkan Bandara Internasional Dubai terhenti beberapa waktu.
Tahun lalu, Bandara Internasional Dubai, sebagai bandara tersibuk di dunia untuk penumpang internasional, tercatat menangani sekitar 95,2 juta penumpang.
Saat ini, sebagian operasional di bandara tersebut telah dilanjutkan, dengan maskapai penerbangan nasional Emirates.
Maskapai ini beroperasi dengan jadwal penerbangan yang dikurangi, sambil berupaya memulihkan operasional jaringan penuh.
Baca juga: Perang Iran-Israel, Singapore Airlines Batalkan Seluruh Penerbangan ke Dubai
Okupansi hotel di Dubai turun
Dengan kepergian wisatawan dan anjloknya jumlah pendatang baru, tingkat hunian hotel di Dubai telah turun tajam.
Kepala bagian bisnis di perusahaan pemesanan perjalanan Wego, Mamoun Hmiden mengatakan bahwa tingkat hunian di seluruh hotel Dubai turun menjadi antara 15 persen dan 20 persen dari tingkat normal.
Mengahadapi situasi ini, hotel-hotel merespons dengan memberikan diskon besar-besaran, terutama selama periode Idul Fitri yang lalu.Tujuannya, untuk menarik perhatian warga.
Beberapa properti mewah di Palm Jumeirah, salah satu pusat hotel premium di kota ini, juga telah memangkas harga hingga setengahnya.
"Ketidakpastian ini mengganggu semua orang saat ini," kata Hmiden.
Beberapa jaringan perhotelan di Dunai juga telah menutup sementara beberapa properti atau bagian tertentu.Alasan penutupannya yaitu renovasi yang telah dijadwalkan.
Seorang eksekutif senior di sebuah grup perhotelan internasional mengatakan tingkat hunian di beberapa properti telah turun hingga di bawah 10 persen.
"Masuk akal untuk memangkas biaya operasional dengan menutup sementara selama beberapa minggu dan meninjau situasinya kemudian," katanya.
Bahkan hotel bisnis pun berada di bawah tekanan. Dubai, pusat utama konferensi dan acara, telah menyaksikan penyelenggara membatalkan atau menunda pertemuan besar dalam beberapa bulan mendatang.
Seperti Majestic Hotels, yang mengoperasikan sekitar 450 kamar di tiga properti, mengatakan tingkat hunian telah turun ke titik terendah sepanjang sejarah.
"Kami melihat pembatalan hingga setelah bulan April," kata Varun Raj, direktur penjualan dan pemasaran klaster.
Sebab, katanya, banyak acara telah dibatalkan, sehingga menyulitkan para pelancong untuk merencanakan perjalanan.
Tag: #pemilik #restoran #dubai #pangkas #gaji #karyawan #imbas #perang #timur #tengah