Trend Micro Rebranding Jadi Trend AI, Respons Maraknya AI di Industri Siber
Logo TrendAI.(Kompas.com/Bill Clinten)
17:30
21 Mei 2026

Trend Micro Rebranding Jadi Trend AI, Respons Maraknya AI di Industri Siber

- Perusahaan keamanan siber Trend Micro Indonesia kini mulai memperkenalkan identitas baru bernama “TrendAI” untuk segmen bisnis enterprise. Perubahan nama tersebut ternyata bukan sekadar rebranding biasa.

Di baliknya, ada perubahan besar yang sedang terjadi di dunia keamanan siber global, terutama setelah kecerdasan buatan (AI) mulai digunakan secara masif dalam berbagai aktivitas digital.

Kini, AI tak lagi sekadar dipakai untuk menjawab pertanyaan, membuat gambar atau video, hingga merangkum dokumen.

Teknologi tersebut juga mulai dimanfaatkan untuk mengotomatisasi serangan siber, mulai dari mencari celah keamanan hingga melancarkan ransomware dalam waktu jauh lebih cepat.

Baca juga: Trend Micro Sebut Ancaman Siber Makin Canggih, Tak Bisa Lagi Pakai Cara Lama

Country Manager TrendAI Indonesia, Fetra Syahbana, mengatakan ransomware yang sebelumnya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menyerang target, kini bisa bergerak jauh lebih cepat berkat AI.

“Kalau sebelum zaman AI, ransomware attack itu butuh 8 bulan paling cepat untuk menyerang korban. Setelah AI, ransomware bisa terjadi dalam hitungan paling cepat 15 menit,” ujar Fetra dalam wawancara eksklusif bersama KompasTekno di kantor TrendAI Indonesia di The Plaza, Menteng, Jakarta Pusat.

Menurut Fetra, percepatan tersebut mengubah lanskap keamanan siber secara drastis. Jika sebelumnya serangan dilakukan manusia secara manual, kini AI memungkinkan proses eksploitasi berjalan otomatis dan dalam skala besar.

AI mengubah pola serangan siber

Dalam beberapa tahun terakhir, AI sebenarnya sudah mulai digunakan di industri keamanan siber.

Namun sebelumnya, teknologi itu umumnya hanya dipakai untuk membantu fase tertentu, seperti pengintaian atau pembuatan tools otomatis.

Kini, kemampuan AI berkembang jauh lebih agresif. AI disebut mampu mengambil alih hampir seluruh siklus serangan siber secara otomatis, mulai dari tahap pencarian target hingga proses eksploitasi.

Perubahan itu membuat ancaman siber menjadi jauh lebih sulit diprediksi. Sebab, AI kini dapat melakukan simulasi serangan, mengombinasikan beberapa vulnerability, hingga mencari pola eksploitasi baru dalam waktu sangat singkat.

Baca juga: Trend Micro Bangun Data Center di Indonesia untuk Dukung Vision One

AI juga dinilai mampu menemukan celah keamanan lama yang selama ini tidak terdeteksi manusia.

Salah satu contohnya adalah vulnerability Linux bernama “Copy Fail” yang disebut sudah ada lebih dari satu dekade tetapi baru ditemukan belakangan ini.

Fetra sendiri menilai dalam pola serangan siber, AI sebenarnya bukan menemukan ancaman baru, melainkan mengungkap celah yang selama ini sudah ada tetapi tidak terlihat atau dianggap tidak berbahaya.

“AI kini bisa mengombinasikan berbagai celah keamanan yang terlihat aman menjadi satu serangan siber berbahaya yang sebelumnya tidak terdeteksi,” kata Fetra.

Indonesia ikut mengalami ledakan AI

Country Manager TrendAI Indonesia, Fetra Syahbana dalam wawancara eksklusif bersama KompasTekno di kantor TrendAI Indonesia di The Plaza, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (20/5/2026).Kompas.com/Bill Clinten Country Manager TrendAI Indonesia, Fetra Syahbana dalam wawancara eksklusif bersama KompasTekno di kantor TrendAI Indonesia di The Plaza, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (20/5/2026).

Fetra melanjutkan bahwa perkembangan serangan siber berbasis AI cukup mengkhawatirkan, terutama jika melihat tingginya adopsi AI di Indonesia saat ini.

Berdasarkan data internal TrendAI, Indonesia berada di posisi kedua setelah Singapura dalam hal traffic layanan AI di Asia Tenggara.

Selain penggunaan AI yang terus meningkat, Indonesia juga mulai aktif mengembangkan AI lokal sendiri yang tentunya perlu diamankan dari berbagai potensi ancaman siber.

Baca juga: Trend Micro Bangun Data Center di Indonesia untuk Dukung Vision One

Perkembangan infrastruktur cloud dan GPU dari perusahaan global seperti Amazon Web Services (AWS) dan Nvidia juga disebut ikut mempercepat adopsi AI di Indonesia.

Nah, Fetra menilai kondisi seperti ini menjadi "pedang dua sisi". Di satu sisi, AI dianggap mampu mempermudah kehidupan dan aktivitas sehari-hari.

Oleh karena itu, Fetra mengatakan perusahaan saat ini tidak hanya perlu memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga harus memastikan AI yang digunakan tetap aman dan terkontrol.

Sebab, pendekatan keamanan siber lama yang bersifat reaktif dinilai sudah tidak lagi cukup menghadapi serangan berbasis AI yang bergerak otomatis.

Perlu pendekatan proaktif

Berangkat dari kebutuhan ini, TrendAI mulai mengembangkan pendekatan proaktif lewat platform “Vision One” dan model AI internal bernama “Cybertron”.

Cybertron dikembangkan menggunakan basis pengetahuan keamanan siber milik Trend Micro selama lebih dari 35 tahun untuk membantu mendeteksi ancaman lebih cepat.

Salah satu teknologi yang dipakai adalah “Digital Twin”, yakni membuat replika virtual lingkungan digital perusahaan untuk diuji dan disimulasikan oleh AI selama 24 jam nonstop.

Melalui simulasi itu, sistem dapat memprediksi potensi ancaman, menghitung tingkat risiko, hingga memberikan rekomendasi mitigasi sebelum serangan benar-benar terjadi.

“TrendAI Vision One menghasilkan pendekatan ‘AI melawan AI’, di mana AI yang kami kembangkan dipakai untuk memprediksi berbagai serangan siber yang juga digerakkan oleh AI,” tutur Fetra.

Baca juga: Bos Trend Micro: Cybertron, Model AI Pertama Pengadang Serangan Siber

Layanan ini juga diklaim mampu membantu perusahaan memetakan perangkat, aplikasi, hingga aktivitas digital yang berpotensi menjadi celah keamanan.

Dengan begitu, perusahaan dapat mendeteksi ancaman lebih awal sebelum berkembang menjadi serangan yang lebih besar.

Menurut Fetra, pendekatan seperti ini mulai dibutuhkan karena pola serangan siber kini bergerak jauh lebih cepat dibanding sebelumnya.

Selain itu, pengujian keamanan yang dilakukan beberapa bulan sekali dinilai sudah tidak lagi cukup ketika AI dapat mencari celah keamanan setiap hari secara otomatis.

Oleh karena itu, perusahaan dinilai perlu mulai membangun governance AI, melakukan inventarisasi tools AI yang digunakan karyawan, hingga memperkuat pengamanan data internal.

"Pada akhirnya, AI bukan lagi sekadar teknologi tambahan, melainkan fondasi baru yang akan menjadi bagian dari berbagai sistem digital di masa depan," pungkas Fetra.

Tag:  #trend #micro #rebranding #jadi #trend #respons #maraknya #industri #siber

KOMENTAR