Studi AI: IPK Mahasiswa Banjir Nilai ''A'', Perusahaan Ketar-ketir
Ilustrasi AI.(Dok. Freepik/DC Studio)
08:33
19 Mei 2026

Studi AI: IPK Mahasiswa Banjir Nilai ''A'', Perusahaan Ketar-ketir

- Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di kalangan mahasiswa kini semakin merajalela.

Di satu sisi, teknologi ini berhasil mendongkrak nilai akademik mereka secara drastis. Namun di sisi lain, sebuah studi terbaru justru memberikan peringatan bagi masa depan dunia kerja.

Menurut sebuah laporan yang diterbitkan University of California, Berkeley, maraknya penggunaan AI oleh mahasiswa telah memicu peningkatan nilai di sejumlah universitas.

Lewat penelitian tersebut, terungkap mahasiswa kini mendapatkan nilai yang jauh lebih tinggi, tapi esensi pembelajaran dan kemampuan yang mereka serap justru semakin merosot.

Dalam studinya, peneliti senior UC Berkeley, Igor Chirikov, membedah tiga cara utama bagaimana mahasiswa menggunakan AI generatif dalam pengerjaan tugas mereka:

  1. Augmentasi: AI bertindak sebagai asisten pendukung, misalnya untuk membantu riset, sementara sebagian besar pekerjaan tetap diselesaikan oleh mahasiswa.
  2. Reinstatement: Penggunaan AI untuk tugas-tugas baru yang memang berbasis teknologi tersebut.
  3. Displacement: AI sepenuhnya mengambil alih dan mengotomatisasi pekerjaan yang seharusnya dilakukan sendiri oleh mahasiswa, seperti menulis esai atau coding.

Ketiga cara di atas terbukti ampuh meningkatkan nilai. Akan tetapi, hanya metode augmentasi dan reinstatement yang memiliki korelasi positif dengan pembelajaran dan pembangunan skill yang sesungguhnya.

Sayangnya, banyak tugas akademik, seperti tugas bawa pulang dan penulisan esai yang tidak diawasi justru menjadi celah bagi mahasiswa untuk melakukan displacement alias menyerahkan seluruh tugasnya kepada AI.

Baca juga: Skandal Kampus Elite Korsel, Ratusan Mahasiswa Ketahuan Curang Pakai AI saat Ujian

Lonjakan nilai "A" 

Sebagai bagian dari studi ini, Chirikov menganalisis lebih dari 500.000 data pendaftaran mata kuliah di 84 departemen pada sebuah universitas besar di Texas dari tahun 2018 hingga 2025.

Hasilnya cukup mengejutkan. Chirikov menemukan bahwa lonjakan nilai paling tajam terpusat pada mata kuliah yang memiliki "porsi tugas menulis dan coding yang tinggi", terutama yang mengandalkan sistem tugas bawa pulang.

Ia menyimpulkan bahwa banyak mahasiswa secara aktif menggunakan AI untuk berbuat curang demi mendapatkan nilai yang lebih baik.

Secara keseluruhan, studi ini menemukan bahwa mata kuliah yang "rentan terpapar AI" mengalami lonjakan pemberian nilai "A" sebesar 30 persen sejak ChatGPT pertama kali meledak di pasaran.

Tingginya nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) memang sangat penting bagi mahasiswa untuk menentukan nasib mereka, baik untuk mendaftar program pascasarjana maupun bersaing di pasar kerja.

Oleh karena itu, rasional jika banyak mahasiswa mencari "jalan pintas" di tengah ketatnya persaingan industri.

Baca juga: Mahasiswa Ketahuan Nitip Absen, Minta Maaf tapi Suratnya Bikin Pakai AI

Dunia kerja yang terancam

Namun, empat tahun setelah AI generatif hadir di tengah-tengah kehidupan kita, studi ini menunjukkan bahwa universitas-universitas di Amerika Serikat masih gagap dalam menangani konsekuensinya.

Inflasi nilai yang didorong oleh AI ini dikhawatirkan akan membuat para perekrut tenaga kerja semakin kesulitan dalam menyaring kandidat lulusan muda yang benar-benar berkompeten.

Lebih parah lagi, ketergantungan akademik pada AI ini diyakini akan menciptakan tenaga kerja masa depan yang tidak kompeten dan lumpuh tanpa bantuan mesin.

"Jika AI menggantikan tugas-tugas pembentukan skill selama masa kuliah, mahasiswa mungkin akan lulus dengan kemampuan yang lemah justru di bidang-bidang di mana AI paling kuat," tulis Chirikov, seperti dihimpun KompasTekno dari Gizmodo.

Masalah ini, menurut Chirikov, dapat mempercepat otomatisasi pekerjaan secara menyeluruh dan mendekatkan kita pada "kiamat pekerjaan AI" yang selama ini ditakutkan oleh para pakar industri.

Baca juga: Mengenal Amanda Askell, Lulusan Filsafat yang Meniupkan Jiwa ke AI Claude

Menyadari ancaman serius ini, sejumlah universitas terkemuka mulai mengambil tindakan untuk memerangi inflasi nilai, meski efektivitasnya masih memicu perdebatan.

Di Universitas Princeton, misalnya. Setelah sekitar 30 persen mahasiswa tingkat akhirnya mengaku berbuat curang menggunakan AI generatif dalam sebuah survei baru-baru ini, pihak fakultas mengambil keputusan ekstrem.

Minggu ini, mereka sepakat untuk mencabut aturan "kode kehormatan" yang telah berusia 133 tahun, sebuah tradisi yang sebelumnya mengizinkan mahasiswa menjalani ujian tatap muka tanpa diawasi oleh dosen.

Sementara itu, di Universitas Harvard, para anggota fakultas dikabarkan tengah melakukan pemungutan suara untuk sebuah proposal kebijakan baru yang tak kalah memicu kontroversi.

Mereka berencana membatasi kuota pemberian nilai "A" menjadi maksimal hanya 20 persen dari total mahasiswa di setiap kelasnya.

Baca juga: AI Mulai Geser Pekerjaan Repetitif, Skill Baru Ini Makin Dicari Perusahaan

Tag:  #studi #mahasiswa #banjir #nilai #perusahaan #ketar #ketir

KOMENTAR