Keren, Menlu Singapura Rakit AI Sendiri Pakai NanoClaw dan Raspberry Pi
Ilustrasi AI.(Dok. Freepik/rawpixel.com)
14:09
29 April 2026

Keren, Menlu Singapura Rakit AI Sendiri Pakai NanoClaw dan Raspberry Pi

- Banyak politisi dunia saat ini baru sebatas berwacana soal regulasi kecerdasan buatan (AI). Namun, Menteri Luar Negeri Singapura, Dr. Vivian Balakrishnan justru mengambil langkah yang jauh berbeda.

Balakrishnan secara terbuka memamerkan asisten AI pribadi yang ia bangun sendiri untuk membantu pekerjaan sehari-harinya.

Asisten pintar tersebut ia deskripsikan sebagai "otak kedua" bagi seorang diplomat.

AI racikannya ini mampu menjawab setiap pertanyaan teknis, meriset topik, menyusun draf pidato, hingga memberikan pengarahan (briefing) harian.

"Sistem ini telah menjadi sesuatu yang tak ternilai harganya, saya bahkan tidak berani mematikannya!" tulis Balakrishnan, dikutip KompasTekno dari unggahannya di Facebook.

Balakrishnan sendiri bukanlah politisi sembarangan yang sekadar ikut-ikutan tren teknologi.

Ia adalah mantan dokter mata didikan Anglo-Chinese School dan National Junior College, serta peraih Beasiswa Presiden untuk studi kedokteran di National University of Singapore pada 1980.

Sistem asisten virtual ini dibangun di atas dua fondasi open-source.

Pertama adalah NanoClaw, asisten AI mandiri berbasis model Claude buatan developer Gavriel Cohen. Sistem ini berjalan secara lokal di Raspberry Pi dan langsung terhubung ke aplikasi perpesanan sang menteri, seperti WhatsApp, Telegram, Slack, dan Discord.

Kedua, Balakrishnan menerapkan pola "LLM Wiki" yang digagas mantan Direktur AI Tesla, Andrej Karpathy. Pola ini mengatasi masalah "amnesia" pada AI yang kerap melupakan konteks obrolan setiap kali sesi baru dimulai.

Baca juga: Menkeu hingga Bankir Ketar-ketir dengan AI Mythos Anthropic

AI tersebut akan menelan semua draf pidato, artikel, dan kliping web milik Balakrishnan, lalu mengekstraknya menjadi grafik pengetahuan terstruktur.

Menteri Luar Negeri Singapura, Dr. Vivian Balakrishnan.MFA SG Menteri Luar Negeri Singapura, Dr. Vivian Balakrishnan.Hasilnya, setiap kali ditanya, AI akan melakukan kueri semantik dan menyuntikkan fakta relevan, menjadikan asisten ini semakin pintar seiring berjalannya waktu.

Bagi Balakrishnan, AI adalah teknologi yang harus dirakit dan digunakan, bukan sekadar diperdebatkan sebagai kebijakan abstrak.

"Diplomat yang belajar bekerja sama dengan AI akan memiliki keunggulan yang sangat berarti, dan saya rasa keunggulan itu dimulai dari sekarang," pungkas Balakrishnan.

Privasi tingkat tinggi anti-bocor

Sebagai pejabat negara, privasi data menjadi prioritas utama.

Arsitektur teknis yang diunggahnya di platform GitHub menunjukkan sistem ini menggunakan tiga lapisan desain yang sangat tertutup.

Tools khusus bernama Mnemon menyimpan informasi dalam database SQLite, yang kemudian diubah menjadi halaman wiki untuk dibaca di aplikasi Obsidian pada macOS dan iOS.

Proses pencarian semantik berjalan secara lokal menggunakan platform Ollama di Raspberry Pi 5.

Pemrosesan pesan suara juga dilakukan langsung di dalam perangkat menggunakan whisper.cpp, memastikan obrolan rahasia tidak pernah menyentuh server eksternal.

Setiap grup chat bahkan memiliki wadah Docker dan memori lokalnya masing-masing, sehingga data antar-grup tetap terisolasi dengan aman.

Grup utama pada sistem ini bahkan bisa memunculkan agen AI turunan (child agents) untuk mengerjakan tugas paralel, seperti riset web atau ekstraksi data secara bersamaan.

Baca juga: Badan Keamanan AS Pakai Model AI Kontroversial yang Dilarang Pentagon

Tren AI di pemerintahan global

Dalam praktiknya, Balakrishnan tercatat aktif menggunakan sistem ini untuk membaca dan mengirim e-mail via Gmail, memproses foto, hingga portal web untuk percakapan panjang di luar WhatsApp.

Adopsi AI di ranah pemerintahan global belakangan ini memang mulai marak dan diwujudkan dalam bentuk yang nyata.

Sebelumnya, Albania dilaporkan telah memberikan asisten AI pribadi kepada seluruh anggota parlemennya. Albania juga menunjuk bot AI bernama Daella sebagai Menteri Kabinet khusus untuk mencegah korupsi tender pemerintah.

Di Eropa, pemerintah Polandia juga gencar mengunggah kumpulan data dan model bahasa lokal mereka di platform open-source HuggingFace.

Baca juga: Ramalan 2028: AI Makin Pintar, Krisis dan Pengangguran Meningkat

Tag:  #keren #menlu #singapura #rakit #sendiri #pakai #nanoclaw #raspberry

KOMENTAR