Hacker Bobol Superkomputer China, Data Rudal Ikut Bocor
Rudal balistik antarbenua DF-5C saat dipamerkan di parade militer China yang digelar di Beijing, Rabu (3/9/2025).(CCTV via GLOBAL TIMES)
14:06
10 April 2026

Hacker Bobol Superkomputer China, Data Rudal Ikut Bocor

- Insiden peretasan berskala besar mengguncang China. Seorang peretas (hacker) mengeklaim telah membobol salah satu superkomputer milik pemerintah China.

Data yang dicuri mencakup dokumen pertahanan berstatus sangat rahasia, skema rudal, hingga rancangan simulasi militer.

Jika terbukti benar, insiden ini berpotensi menjadi pencurian data terbesar yang pernah diketahui dalam sejarah fasilitas negara China.

Baca juga: 16 Miliar Password Akun Google, Facebook, Apple Bocor, Terbesar Sepanjang Sejarah

Fasilitas yang kebobolan adalah National Supercomputing Center (NSCC) di Tianjin. Pusat superkomputer yang pertama kali dibuka pada 2009 ini bukanlah fasilitas sembarangan.

NSCC Tianjin adalah pusat kendali terpusat yang menyediakan layanan infrastruktur komputasi untuk lebih dari 6.000 klien di seluruh penjuru China, termasuk berbagai lembaga sains dan pertahanan tingkat tinggi.

Dari fasilitas vital inilah, peretas berhasil menyedot sekitar 10 petabyte informasi sensitif.

Sebagai gambaran kasar, satu petabyte itu setara dengan 1.000 terabyte. Bayangkan saja sebuah laptop spesifikasi tinggi saat ini yang rata-rata "hanya" dibekali penyimpanan 1 terabyte. Artinya, data curian ini setara dengan storage 10.000 unit laptop.

Aktor di balik peretasan ini adalah kelompok hacker anonim yang menamakan dirinya FlamingChina. Mereka telah menjual sebagian kecil sampel data tersebut melalui Telegram sejak 6 Februari lalu.

Kelompok ini mengeklaim bahwa data tersebut bersumber dari klien top NSCC, seperti Aviation Industry Corporation of China, Commercial Aircraft Corporation of China, dan Universitas Teknologi Pertahanan Nasional.

Untuk bisa mendapatkan akses penuh ke seluruh direktori rahasia tersebut, FlamingChina mematok harga tebusan ratusan ribu dollar AS, dan transaksi wajib menggunakan mata uang kripto.

Dakota Cary, konsultan di firma keamanan siber SentinelOne yang fokus pada kawasan China, telah menganalisis sampel yang disebar peretas.

Ia mengonfirmasi bahwa sampel tersebut, yang berisi dokumen berlabel "rahasia" dalam bahasa Mandarin, file teknis, hingga simulasi peralatan pertahanan seperti bom dan rudal, tampak asli.

Baca juga: Miliaran Pengguna Android Tak Sadar, Ponselnya Jadi Incaran Hacker

Taktik "siluman" 6 bulan

Bagaimana mungkin sistem keamanan fasilitas superkomputer negara bisa ditembus?

Marc Hofer, peneliti keamanan siber yang sempat berkomunikasi dengan pelaku di Telegram, mengungkap bahwa peretas awalnya berhasil masuk melalui domain VPN (Virtual Private Network) yang sudah disusupi.

Setelah berada di dalam sistem, penyerang tidak langsung menguras data. Mereka menggunakan botnet untuk perlahan-lahan mengekstrak, mengunduh, dan menyimpan data secara diam-diam.

Proses pembobolan 10 petabyte data ini memakan waktu yang sangat lama, yakni sekitar enam bulan, tanpa pernah terdeteksi oleh sistem keamanan NSCC.

Menurut Dakota Cary, taktik ini sebenarnya tidak terlalu canggih secara teknis, tapi sangat pintar secara arsitektur. Dengan memecah ekstraksi data ke banyak server yang berbeda secara bersamaan dalam jumlah kecil, pelaku sukses menghindari peringatan sistem keamanan.

Baca juga: 3 Cara Menghentikan WhatsApp Disadap Jarak Jauh dengan Cepat

Bukan kasus pertama

Kebocoran fatal di NSCC Tianjin ini kembali membuka borok lemahnya infrastruktur keamanan teknologi di China.

Meskipun negara ini tengah bersaing ketat dengan Amerika Serikat untuk menjadi pemimpin inovasi AI global, keamanan siber kerap menjadi titik lemah, baik di sektor swasta maupun pemerintahan.

Statistik kebocoran data di China memang cukup memprihatinkan. Pada tahun 2021 lalu, misalnya, terdapat database berisi informasi pribadi milik 1 miliar warga negara China yang dibiarkan terekspos selama lebih dari setahun.

Data warga tersebut akhirnya baru disadari bocor setelah seorang pengguna anonim menjualnya di forum hacker pada tahun 2022.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Kementerian Sains dan Teknologi China maupun Cyberspace Administration of China (CAC) belum memberikan komentar resmi terkait insiden bobolnya NSCC Tianjin.

Baca juga: Era HP China Murah Segera Berakhir

Tag:  #hacker #bobol #superkomputer #china #data #rudal #ikut #bocor

KOMENTAR