Belajar dari India, Indonesia Siapkan Fondasi AI yang Terbuka dan Berdaulat
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria. (Istimewa).
22:36
21 Januari 2026

Belajar dari India, Indonesia Siapkan Fondasi AI yang Terbuka dan Berdaulat

- Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menegaskan komitmennya agar teknologi kecerdasan artifisial (AI) dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat dan tidak dimonopoli oleh kelompok tertentu.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menyatakan bahwa negara memilih untuk terlibat sejak tahap awal melalui perumusan kebijakan, penanaman investasi publik, serta penguatan kolaborasi strategis guna memastikan AI memberikan dampak nyata bagi warga.

“Revolusi digital, yang didukung oleh kecerdasan artifisial, harus berfungsi sebagai kekuatan untuk kesetaraan, keberlanjutan, dan pertumbuhan inklusif,” ujar Nezar saat menghadiri Official Pre-Summit Event: India-AI Impact Summit 2026 di Jakarta Pusat, Rabu (21/1).

Ia menilai Indonesia dan India memiliki peran penting karena sama-sama tengah berada dalam fase pertumbuhan pesat ekonomi digital. Kondisi tersebut menciptakan peluang besar bagi pemanfaatan AI untuk menjawab berbagai persoalan publik, bukan sekadar mengejar kemajuan teknologi semata.

“Pertumbuhan paralel ini bukan hanya masalah skala, tetapi juga mewakili peluang besar bersama untuk menerapkan solusi AI yang mengatasi tantangan nasional kita yang paling mendesak, mulai dari inklusi keuangan hingga ketahanan iklim,” jelasnya.

Nezar menekankan bahwa manfaat AI hanya dapat dirasakan secara merata apabila pemerintah menyiapkan fondasi yang kuat. Indonesia saat ini tengah menyusun Peta Jalan Nasional Kecerdasan Artifisial yang menempatkan etika, pendekatan berpusat pada manusia, serta pengembangan talenta sebagai prioritas utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Di sisi lain, ia menilai pengalaman India melalui program Misi IndiaAI dapat menjadi rujukan penting, khususnya dalam membuka akses terhadap kapasitas komputasi dan data berkualitas agar inovasi AI tidak bersifat mahal maupun eksklusif.

“Pendekatan holistik ini merupakan model yang ampuh bagi Indonesia,” tandasnya.

Ia kembali menegaskan bahwa investasi publik pada infrastruktur AI sangat krusial agar startup, peneliti, serta talenta dari berbagai daerah memiliki kesempatan yang setara untuk berkontribusi.

“Pelajaran bagi Indonesia jelas, yaitu investasi publik strategis dalam infrastruktur AI fundamental adalah kunci untuk membuka inovasi AI yang luas dan inklusif,” tegas Nezar.

Lebih lanjut, Nezar menyoroti pentingnya konsep AI Berdaulat sebagai upaya melindungi kepentingan nasional dan keamanan data masyarakat. Menurutnya, pengembangan dan penerapan AI harus bertumpu pada data, sumber daya manusia, serta infrastruktur nasional agar solusi yang dihasilkan relevan secara budaya dan aman digunakan.

“Nota Kesepahaman ini adalah cetak biru kita untuk bertindak,” ungkapnya, merujuk pada kerja sama antara Indonesia dan India yang menempatkan AI serta Infrastruktur Publik Digital sebagai agenda prioritas.

Selain pengembangan perangkat lunak, Nezar juga menekankan perlunya memperkuat rantai pasok teknologi dasar. Ia menilai Indonesia dan India memiliki potensi saling melengkapi dalam pengembangan industri semikonduktor.

“Indonesia, dengan kekayaan sumber daya mineralnya, dan India, dengan misi semikonduktornya yang ambisius, memiliki posisi unik untuk membangun rantai pasokan ujung-ke-ujung yang tangguh,” jelasnya.

Sebagai penutup, Nezar menegaskan bahwa arah kebijakan yang diambil saat ini akan menentukan siapa saja yang dapat menikmati manfaat AI di masa depan.

“Masa depan AI sedang ditulis di Asia, dan kemitraan antara India dan Indonesia akan menjadi babak yang menentukan,” tandasnya.

 

Editor: Nurul Adriyana Salbiah

Tag:  #belajar #dari #india #indonesia #siapkan #fondasi #yang #terbuka #berdaulat

KOMENTAR