Kisah Lamine Yamal, dari Lapangan Sederhana Menuju Panggung Piala Dunia 2026
Lamine Yamal dibayangi Alberto Moleiro dalam pertandingan sepak bola Liga Spanyol antara FC Barcelona vs Villarreal CF di Stadion Camp Nou di Barcelona pada 28 Februari 2026. (Foto oleh MANAURE QUINTERO / AFP)(AFP/MANAURE QUINTERO)
12:57
2 Juni 2026

Kisah Lamine Yamal, dari Lapangan Sederhana Menuju Panggung Piala Dunia 2026

Piala Dunia 2026 berpotensi menjadi panggung bersejarah bagi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo yang sama-sama memburu penampilan keenam di turnamen tersebut.

Namun, beberapa tahun ke depan, edisi itu bisa saja dikenang dengan cara berbeda, yakni sebagai Piala Dunia pertama Lamine Yamal.

Winger muda Spanyol tersebut baru berusia 18 tahun. Akan tetapi, perjalanan kariernya telah melesat begitu cepat, dari lapangan beton di Mataro, Catalonia, menuju panggung terbesar sepak bola dunia.

Baca juga: Daftar Skuad Kroasia di Piala Dunia 2026, Tarian Terakhir Luka Modric

Di lingkungan Rocafonda, sekitar 32 kilometer dari Barcelona, nama Yamal bukan sekadar kebanggaan. Ia telah menjadi simbol harapan bagi banyak anak muda yang tumbuh di kawasan sederhana tersebut.

Trofi kecil di toko roti sang paman

Kisah Yamal tak bisa dilepaskan dari keluarganya. Pamannya, Abdul Nasraoui, sejak lama menyimpan replika kecil trofi Piala Dunia di toko rotinya di Rocafonda.

Kepada orang-orang, Abdul kerap berkata bahwa trofi itu disiapkan untuk hari ketika keponakannya benar-benar memenangi Piala Dunia.

Keyakinan Abdul muncul bahkan sebelum Yamal menjalani debut bersama timnas Spanyol. Ia percaya ada sesuatu yang berbeda dalam diri sang keponakan.

Di Barcelona, sosok yang lebih dulu melihat potensi itu adalah Jordi Roura. Saat masih menjabat sebagai kepala sepak bola junior Barcelona, Roura mendapat laporan dari pencari bakat mengenai seorang bocah bernama Lamine Yamal.

Roura kemudian datang bersama Aureli Altimira untuk melihat langsung kemampuan Yamal dalam pertandingan uji coba.

Awalnya, Yamal tidak langsung mencuri perhatian secara fisik. Tubuhnya terlihat kecil dan kurus. Gerakannya pun tampak berbeda dari anak-anak lain seusianya.

Namun, ketika bola mulai bergulir, pandangan itu berubah.

Baca juga: Daftar Skuad Irak di Piala Dunia 2026, Persib Bandung Sumbang Satu Nama

Di tengah kerumunan anak-anak yang berlari mengejar bola, Yamal justru menunjukkan cara bermain yang lain. Ia mampu mencari ruang, menunggu momen, menggunakan kaki kirinya, lalu mengeksekusi keputusan dengan cepat.

Bakat menggiring bola yang sulit diajarkan

Roura menyebut kemampuan menggiring bola sebagai salah satu bakat alami Yamal. Menurut dia, tidak semua pemain bisa dilatih menjadi penggiring bola yang istimewa. Yamal sudah memilikinya sejak kecil.

Ia terbiasa bermain di lapangan beton. Di tempat seperti itu, kaki harus bergerak cepat. Jika terlambat menghindari lawan, tubuh bisa langsung jatuh menghantam permukaan keras.

Dari lingkungan itulah kelincahan Yamal terbentuk. Ia belajar mengecoh lawan, bergerak cepat, dan mengambil keputusan dalam ruang sempit.

Barcelona pun bergerak cepat. Pembicaraan dengan kedua orang tua Yamal, Mounir Nasraoui asal Maroko dan Sheila Ebana asal Guinea Ekuatorial, berjalan lancar.

Yamal kemudian masuk ke akademi Barcelona dan mulai menapaki jalan panjang menuju level tertinggi.

Di luar lapangan, Yamal dikenal sebagai anak pendiam, bahkan cenderung pemalu. Ia sangat dekat dengan nenek dari pihak ayahnya, Fatima, yang menjadi anggota keluarga pertama yang pindah ke Spanyol dari Tangier, Maroko, pada 1990.

Setelah orang tuanya bercerai saat ia berusia tiga tahun, Yamal sempat tinggal bersama ibunya di Roca del Valles, utara Mataro. Namun, Rocafonda tetap menjadi rumah yang paling melekat dalam identitasnya.

Baca juga: Haaland Cuma Nonton, Norwegia Libas Swedia 3-1 Jelang Piala Dunia 2026

Rocafonda dan angka 304

Kedekatan Yamal dengan Rocafonda terlihat jelas dalam selebrasi golnya. Ia kerap membentuk angka 304 dengan tangannya, merujuk pada tiga digit terakhir kode pos lingkungan tersebut.

Rocafonda selama ini dikenal sebagai kawasan dengan reputasi sulit karena persoalan kemiskinan dan kriminalitas. Namun, kemunculan Yamal mengubah cara banyak orang memandang tempat itu.

Kini, Rocafonda dikenal luas sebagai kampung halaman salah satu talenta paling terang dalam sepak bola dunia.

Di sana, anak-anak masih bermain di lapangan beton. Mereka berlari, berebut bola, dan menatap mural besar bergambar Yamal yang dilukis pada 2025.

Bagi mereka, Yamal adalah bukti bahwa jalan menuju stadion besar Eropa bisa dimulai dari lapangan sederhana.

Roura menilai pemain-pemain besar memiliki satu ciri penting, yakni mereka mampu mempertahankan kemampuan alami sejak kecil, bahkan ketika level permainan terus meningkat.

Menurut dia, Yamal termasuk dalam kategori tersebut. Ia menikmati tantangan. Semakin sulit pertandingan, semakin besar pula energi yang muncul dari permainannya.

Baca juga: Update Kondisi 7 Pemain Timnas Argentina Jelang Piala Dunia 2026

Menanti mimpi besar di Piala Dunia

Dalam tiga tahun terakhir, Abdul Nasraoui semakin sering mendapat pertanyaan tentang keponakannya. Namun, menjelang Piala Dunia, ia memilih menahan diri.

Di bar miliknya, Familia LY 304, replika trofi Piala Dunia masih tersimpan di rak belakang. Trofi kecil itu menjadi simbol mimpi yang perlahan terasa semakin dekat.

Perjalanan Yamal memang berlangsung sangat cepat. Ia menjalani debut profesional pada usia 15 tahun. Setelah itu, namanya terus naik bersama Barcelona dan timnas Spanyol.

Pada Euro 2024, Yamal masih harus belajar untuk ujian sekolah di tengah perjalanan Spanyol menuju gelar juara. Dalam turnamen itu pula, ia mencuri perhatian dunia lewat gol spektakuler ke gawang Perancis.

Momen tersebut kini diabadikan di salah satu dinding bar keluarga, bersama berbagai kenangan dari karier singkat tetapi gemilang sang pemain.

Bagi Roura, apa yang telah dicapai Yamal pada usia 18 tahun sudah luar biasa. Ia menilai batas pencapaian sang pemain masih belum terlihat.

Abdul pun menyimpan harapan yang sama. Ia berharap suatu hari Yamal benar-benar membawa trofi Piala Dunia ke Rocafonda.

Baca juga: Seberapa Berbahaya Sebenarnya Nonton Piala Dunia 2026 di Meksiko?

“Ojala, saya berharap,” kata Abdul.

Jika mimpi itu terwujud, Rocafonda bukan hanya menjadi tempat asal Lamine Yamal. Lingkungan itu akan menjadi bagian dari kisah besar sepak bola dunia.

Tag:  #kisah #lamine #yamal #dari #lapangan #sederhana #menuju #panggung #piala #dunia #2026

KOMENTAR