Striker Lokal Minim Bersinar di Super League, Pengamat Soroti Satu Hal
Pemain Persebaya Surabaya Dejan Tumbas dan pemain Malut United David da Silva mengejar bola saat laga pekan ke-17 Super League 2025-2026 yang berakhir dengan skor 2-1 di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya, Sabtu (10/1/2026) sore.(KOMPAS.COM/SUCI RAHAYU)
11:21
26 Mei 2026

Striker Lokal Minim Bersinar di Super League, Pengamat Soroti Satu Hal

- Super League 2025-2026 resmi berakhir dengan Persib Bandung keluar sebagai juara.

Di balik ketatnya persaingan perebutan gelar, muncul satu sorotan yang kembali menjadi pembahasan publik sepak bola Indonesia.

Pembahasan tersebut adalah minimnya striker lokal Indonesia yang mampu bersaing di daftar pencetak gol terbanyak.

Dominasi penyerang asing terlihat jelas dalam daftar top skor musim ini. Striker Malut United, David da Silva, berhasil keluar sebagai pencetak gol terbanyak dengan torehan 23 gol.

Baca juga: Potret Fasilitas Megah Pendatang Baru Super League Garudayaksa FC

Pemain asal Brasil itu unggul atas Mariano Peralta (Borneo FC) yang mengemas 20 gol.

Di bawah mereka ada Alex Martins (Dewa United) dan Dalberto (Arema FC) dengan masing-masing 19 gol.

Sementara, striker lokal Indonesia nyaris tidak terlihat dalam persaingan papan atas daftar top skor musim ini.

Gelar pencetak gol terbanyak lokal musim ini dipegang bersama oleh Eksel Runtukahu (Persija Jakarta) dan Ezra Walian (Persik Kediri) dengan torehan enam gol.

Situasi tersebut kembali memunculkan pertanyaan besar soal perkembangan striker lokal di Liga Indonesia.

Fenomena tersebut mendapat perhatian dari pengamat sepak bola nasional, Erwin Fitriansyah.

Ia menilai masalah utama striker lokal saat ini bukan soal kualitas, melainkan minimnya kesempatan bermain yang diberikan klub-klub saat ini.

Baca juga: Bojan Hodak Singung Dampak Pemain Asing ke Persaingan Super League

“Kurang jam terbang, kurang dikasih kesempatan main. Kalau misalnya mindset klub jaman sekarang terus jaman dulu itu sudah pakai jaman sekarang, belum tentu striker-striker Indonesia muncul juga kaya Bambang Pamungkas, Budi Sudarsono, Boaz Solossa, Gendut Doni, Kurniawan Dwi,” tuturnya kepada Kompas.com.

Perubahan Formasi Dinilai Pengaruhi Perkembangan Striker Lokal

Menurutnya, perkembangan sepak bola modern saat ini membuat klub lebih banyak menggunakan formasi yang hanya menyediakan satu posisi penyerang utama.

Berbeda dengan era sebelumnya yang masih sering memakai pola dua striker, sehingga pemain lokal dan asing bisa bermain bersama di lini depan.

“Tapi kan yang ada di mindset jaman sekarang mengutamakan pemain asing dan secara formasi kalau dulu misalnya 3-5-2 dan 4-4-2, ada dua striker satu asing dan satu lokal nah itu yang bikin pemain lokal kita muncul,” ujar Erwin Fitriansyah.

Penjaga gawang Arema FC Lucas Frigeri menggagalkan tendangan pemain Malut United David da Silva saat laga pekan ke-26 Super League 2025-2026 yang berakhir dengan skor 1-1 di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jumat (3/4/2026) sore.KOMPAS.COM/SUCI RAHAYU Penjaga gawang Arema FC Lucas Frigeri menggagalkan tendangan pemain Malut United David da Silva saat laga pekan ke-26 Super League 2025-2026 yang berakhir dengan skor 1-1 di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jumat (3/4/2026) sore.

“Sekarang kan pakai 4-2-3-1 dan 4-3-3 jadi ada dua, karena formasi yang tidak mengakomodir pemain asing dan lokal bermain bareng di posisi striker terus yang kedua mindsetnya klub-klub ini jujur harus diakui mengutamakan pemain asing,” imbuhnya.

Sehingga situasi itu membuat banyak striker lokal kesulitan mendapatkan menit bermain reguler di kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Padahal ia menegaskan bahwa jam terbang menjadi faktor paling penting untuk membentuk mental dan kualitas seorang striker.

Striker Lokal Dinilai Sulit Berkembang

Erwin Fitriansyah menyebut banyak pemain muda Indonesia sebenarnya memiliki potensi.

Namun, mereka kesulitan berkembang karena lebih sering berada di bangku cadangan dibanding mendapat kesempatan bermain penuh.

Baca juga: Finis Keenam di Super League Musim Ini, Malut United Petik Banyak Pelajaran

“Sehingga kalau ditanya kenapa pemain lokal posisi striker tidak ada? Ya karena tidak diberi kesempatan main banyak gimana mau muncul, wong latihan tok,” kata pengamat asal Surabaya itu.

“Paling dimainkan di babak kedua waktunya 15 menit paling lama 20 menit, contoh Eksel aja tuh, lumayan kalau dimainkan,” sambungnya.

Termasuk pada Super League 2025-2026 ini kembali memperlihatkan dominasi penyerang asing dalam urusan mencetak gol.

David da Silva menjadi top skor dengan 23 gol bersama Malut United.

Torehan tersebut sekaligus menjadi gelar top skor keduanya di Liga Indonesia setelah sukses bersama Persib Bandung pada musim 2023-2024.

Untuk itu minimnya nama striker lokal di papan atas statistik tersebut semakin mempertegas tantangan besar yang sedang dihadapi sepak bola Indonesia dalam melahirkan penyerang tajam untuk masa depan timnas Indonesia.

Tag:  #striker #lokal #minim #bersinar #super #league #pengamat #soroti #satu

KOMENTAR