Piala Dunia 2026 Jadi yang Terbesar tapi Juga Paling Berpolusi, Ini Penyebabnya
Interior Stadion Mercedes Benz di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, yang akan menjadi salah satu venue Piala Dunia 2026.(PSSI)
08:13
23 Mei 2026

Piala Dunia 2026 Jadi yang Terbesar tapi Juga Paling Berpolusi, Ini Penyebabnya

Piala Dunia 2026 diprediksi menjadi turnamen sepak bola terbesar dan paling menguntungkan dalam sejarah FIFA.

Tetapi ajang ini juga berpotensi mencatat rekor baru sebagai acara olahraga dengan emisi karbon tertinggi.

Para ahli lingkungan menilai perluasan jumlah peserta, jarak antarkota tuan rumah, serta tingginya mobilitas tim dan penonton akan membuat jejak karbon Piala Dunia 2026 melonjak tajam.

Baca juga: Cole Palmer dan Phil Foden Tak Masuk Daftar Skuad Inggris untuk Piala Dunia 2026

“Tidak seperti Olimpiade, di mana jejak karbon telah berkurang selama beberapa edisi terakhir, hal ini benar-benar berlawanan dalam kasus Piala Dunia pria FIFA,” kata ahli geografi dari Universitas Lausanne (Unil), David Gogishvili, dikutip dari AFP, Sabtu (23/5/2026).

Piala Dunia 2026 melibatkan 48 tim di tiga negara

Piala Dunia 2026 menjadi edisi pertama yang diikuti 48 tim, meningkat dari format sebelumnya yang melibatkan 32 peserta.

Turnamen ini juga untuk pertama kalinya digelar di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Perluasan skala tersebut diperkirakan mendongkrak pendapatan FIFA ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Namun, penelitian Unil menyebut turnamen ini juga akan menghasilkan jejak karbon terbesar dalam sejarah olahraga internasional.

Gogishvili memperkirakan emisi karbon Piala Dunia 2026 berkisar antara 5 juta hingga 9 juta ton CO2.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Olimpiade Paris 2024, yang disebut menghasilkan sekitar 1,75 juta ton CO2.

Emisi Piala Dunia 2026 juga diperkirakan melampaui Piala Dunia Rusia 2018, yang menghasilkan sekitar 2,17 juta ton CO2.

Jumlah itu juga lebih besar dibandingkan Piala Dunia Qatar 2022, yang diperkirakan menghasilkan 3,17 juta ton CO2.

Piala Dunia 2026 menggunakan 16 stadion yang sudah berdiri ketika turnamen tersebut diberikan kepada tiga negara tuan rumah.

Stadion terkecil berada di Toronto, Kanada, dengan kapasitas sekitar 45.000 kursi.

Stadion terbesar berada di Arlington, Texas, Amerika Serikat, dengan kapasitas sekitar 94.000 kursi.

Keberadaan stadion yang sudah ada sebelumnya sempat menjadi salah satu poin utama dalam proposal “United 2026” pada 2018.

Baca juga: 5 Bintang yang Siap Bersinar di Piala Dunia 2026, Siapa Saja?

Jarak antarkota tuan rumah jadi sumber emisi terbesar

Eksterior Stadion Mercedes Benz di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, yang akan menjadi salah satu venue Piala Dunia 2026.FIFA Eksterior Stadion Mercedes Benz di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, yang akan menjadi salah satu venue Piala Dunia 2026.

Masalah utama Piala Dunia 2026 bukan terletak pada pembangunan stadion, melainkan jarak yang sangat jauh antarlokasi pertandingan.

Jarak antara Miami dan Vancouver, misalnya, mencapai lebih dari 4.500 kilometer.

Kondisi tersebut akan meningkatkan perjalanan udara bagi tim, ofisial, media, serta jutaan suporter yang datang ke lokasi pertandingan. FIFA menargetkan lebih dari lima juta penggemar hadir langsung dalam Piala Dunia 2026.

Perjalanan udara selama turnamen diperkirakan menjadi salah satu sumber emisi CO2 terbesar dalam penyelenggaraan ajang olahraga internasional.

Bosnia dan Herzegovina, misalnya, disebut akan menempuh perjalanan sekitar 5.040 kilometer apabila memainkan laga fase grup di Toronto, Los Angeles, dan Seattle.

Beban iklim dari pertandingan internasional juga jauh lebih besar dibandingkan pertandingan elite di tingkat nasional.

Laporan New Weather Institute pada 2025 menyebut biaya iklim dari setiap pertandingan internasional dapat 26 hingga 42 kali lebih besar dibandingkan pertandingan elite domestik.

Penulis laporan dari Scientists for Global Responsibility yang berbasis di Inggris menyebut satu pertandingan di putaran final Piala Dunia pria dapat menghasilkan 44.000 hingga 72.000 ton CO2.

Jumlah tersebut setara dengan emisi sekitar 31.500 hingga 51.500 mobil di Inggris selama satu tahun penuh.

Gogishvili menilai dorongan FIFA untuk terus memperbesar skala turnamen menciptakan siklus yang sulit dihentikan.

Baca juga: Daftar Resmi 26 Pemain Inggris untuk Piala Dunia 2026

“Nafsu FIFA yang tak pernah puas akan pertumbuhan,” kata Gogishvili, menyebabkan lebih banyak pertandingan, lebih banyak atlet, lebih banyak penggemar, lebih banyak infrastruktur hotel, dan lebih banyak penerbangan.

FIFA disorot soal komitmen lingkungan

Presiden FIFA Gianni Infantino sebelumnya menyatakan tekad untuk memerangi perubahan iklim dalam COP26 di Glasgow.

Ia juga pernah berjanji bahwa FIFA akan mengukur, mengurangi, dan mengimbangi emisi yang terkait dengan Piala Dunia.

Namun, FIFA mendapat teguran dari Komisi Keadilan Swiss (CSL) pada Juni 2023 karena dinilai menyesatkan dalam mempromosikan klaim “netralitas iklim” Piala Dunia 2022. Sejak saat itu, FIFA disebut tidak lagi memberikan jaminan serupa untuk Piala Dunia 2026.

Para analis lingkungan menilai cara paling efektif mengurangi dampak kompetisi besar adalah membatasi skalanya.

Gogishvili mencontohkan Komite Olimpiade Internasional yang menerapkan kuota 10.500 atlet untuk Olimpiade Musim Panas.

FIFA justru mengambil arah berbeda dengan memperluas Piala Dunia pria dari 32 menjadi 48 tim.

Federasi sepak bola dunia itu juga memperluas Piala Dunia Antarklub dari tujuh menjadi 32 tim setahun sebelumnya.

Kekhawatiran terhadap dampak lingkungan FIFA diperkirakan berlanjut pada edisi-edisi berikutnya.

Piala Dunia 2030 akan digelar di enam negara dan tiga benua, dengan tiga pertandingan pembuka di Argentina, Uruguay, dan Paraguay sebelum turnamen berlanjut di Maroko, Spanyol, dan Portugal.

Piala Dunia 2034 akan digelar di Arab Saudi, negara dengan iklim mirip Qatar tetapi memiliki wilayah jauh lebih besar dan jumlah pertandingan lebih banyak.

Baca juga: Eks Bintang Afrika Beda Pandangan soal Peluang Juara Piala Dunia 2026

Perusahaan minyak terbesar di dunia, Aramco, juga menjadi sponsor utama FIFA sejak 2024.

“Tampaknya penolakan FIFA terhadap isu lingkungan akan terus berlanjut,” tulis profesor Universitas Aix-Marseille, Gilles Pache, dalam Journal of Management Research pada 2024.

Tag:  #piala #dunia #2026 #jadi #yang #terbesar #tapi #juga #paling #berpolusi #penyebabnya

KOMENTAR