Bali Jadi Model Kolaborasi Olahraga dan Ekonomi, Erick Thohir Minta Daerah Lain Ikuti Jejak
- Turnamen sepak bola internasional di Bali kembali membuktikan bahwa sepak bola usia dini tidak sekadar soal kompetisi tetapi juga tentang masa depan olahraga, ekonomi, dan pariwisata Indonesia.
Salah satunya adalah Bali 7's 2026 yang digelar di Bali United Training Center Pantai Purnama, Gianyar mulai 2-5 April 2025.
Turnamen yang terus berkembang ini menjadi salah satu event sepak bola muda dari U8, U10, U12, U14, U16, Pro dan Women terbesar di kawasan Asia.
Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi penyelenggaraan turnamen yang kini memasuki tahun ketiga.
Baginya, turnamen ini merupakan contoh nyata bagaimana kolaborasi antara swasta dan pemerintah mampu menciptakan ekosistem olahraga yang berkelanjutan.
“Turnamen ini menjaga kesempatan talenta muda untuk mewujudkan mimpi mereka menjadi pesepak bola profesional. Mereka tidak hanya bermain, tetapi juga membangun karakter dan persahabatan lintas negara,” tuturnya melalui rekaman suara yang diterima Kompas.com.
Peran Pihak Swasta
Menurutnya, kesuksesan turnamen internasional ini tidak lepas dari keberanian pihak swasta dalam berinvestasi. Ia menyoroti peran besar Bali United Group yang terus mengembangkan fasilitas dan kualitas penyelenggaraan dari tahun ke tahun.
Dari yang awalnya hanya beberapa lapangan, kini fasilitas pertandingan berkembang pesat menjadi pusat kegiatan sepak bola usia dini berskala internasional.
Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan olahraga tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah.
“Event seperti ini terjadi karena investasi luar biasa. Infrastruktur dibangun, fasilitas terus ditambah. Pemerintah harus mendukung, bukan mempersulit,” kata menteri yang juga Ketua Umum PSSI itu.
Untuk itu ia juga mengingatkan agar proses perizinan tidak menjadi hambatan. Sebab dengan kemudahan regulasi justru akan mendorong lahirnya lebih banyak event serupa di berbagai daerah.
Jadi Inspirasi bagi Daerah Lain
Erick Thohir berharap keberhasilan turnamen ini bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia. Namun, ia menekankan bahwa kunci utamanya tetap ada pada keberanian pelaku usaha lokal untuk mengambil peran.
"Di sini mereka bukan sekadar mengasah bakat dan merasakan atmosfer pertandingan di lapangan, tapi juga membentuk karakter sportif, menjalin persahabatan dan persaudaraan dengan para peserta lintas negara dan budaya,” imbuhnya.
Selain itu, kesiapan infrastruktur juga menjadi faktor penting. Ia mencontohkan sejumlah kota seperti Palembang, Solo, Surabaya, dan Jakarta yang sudah memiliki fasilitas olahraga hasil pembangunan event besar sebelumnya.
Dengan kombinasi antara investor, fasilitas, dan dukungan pemerintah, ia optimistis event serupa bisa digelar secara merata di berbagai wilayah.
“Kalau semua elemen itu ada, sangat mungkin daerah lain menciptakan event seperti ini,” kata Erick Thohir.
Dampak Nyata bagi Ekonomi dan Pariwisata
Seperti diketahui kegiatan ini tidak hanya berdampak pada pembinaan pemain muda saja. Sebab turnamen ini juga memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian lokal.
Kehadiran 500 tim dari tujuh negara dengan total 8.000 peserta membawa efek berganda bagi sektor pariwisata dan UMKM.
Saat ini sebanyak 42 tenant UMKM terlibat langsung dalam event ini, menciptakan perputaran ekonomi yang terasa hingga ke masyarakat sekitar.
Kawasan Gianyar pun semakin dikenal sebagai destinasi baru yang menggabungkan olahraga dan wisata.
Erick Thohir menilai perkembangan ini sebagai bagian dari transformasi Bali yang kini tidak hanya mengandalkan wisata budaya, tetapi juga sport tourism.
“Sekarang Bali tidak hanya soal pantai dan budaya, tapi juga olahraga. Ini membuka peluang ekonomi baru,” kata menteri berusia 55 tahun itu.
Turnamen sepak bola internsional, Bali 7s yang kembali digelar di Bali United Training Center Pantai Purnama, Gianyar, Jumat (3/4/2026) sore.
Lonjakan Peserta dan Skala Turnamen
Sementara itu, CEO Bali United, Yabes Tanuri, memaparkan pertumbuhan signifikan Bali 7s dari tahun ke tahun.
Pada edisi 2026, turnamen ini diikuti sekitar 500 tim dengan total lebih dari 8.000 peserta dari tujuh negara. Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan edisi pertama yang hanya diikuti 225 tim, lalu 329 tim pada tahun kedua.
"Dengan dukungan dari Kemenpora dan Perkumpulan telah membuat kita sukses untuk melakukan turnamen grass foot yang telah didukung. Kami sangat berterima kasih sekali dengan hal itu," tuturnya
Tidak hanya itu, jumlah lapangan pertandingan juga terus bertambah untuk mengakomodasi besarnya partisipasi.
Menurutnya, pertumbuhan ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan internasional terhadap Bali sebagai tuan rumah turnamen sepak bola usia dini.
Selain aspek olahraga, Yabes menekankan bahwa Bali 7s juga memberikan dampak ekonomi yang nyata. Saat ini, sekitar 42 tenant UMKM terlibat langsung dalam event tersebut.
“Kita ada 42 tenant UMKM. Selain itu juga melibatkan konsorsium lokal dan mahasiswa dari Bali,” kata Yabes Tanuri.
Keterlibatan masyarakat lokal ini tidak hanya menciptakan perputaran ekonomi, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan pengalaman kerja bagi generasi muda.
Dengan ribuan peserta dan pendamping yang datang, sektor kuliner, transportasi, hingga akomodasi ikut merasakan dampaknya.
Menjaga Nilai Sportivitas Sejak Dini
Untuk itu ia juga menyoroti pentingnya membangun budaya sepak bola yang sehat sejak usia dini. Ia menegaskan bahwa turnamen ini dirancang untuk menciptakan lingkungan kompetisi yang positif.
Sebab nilai sportivitas ini dapat membentuk karakter pemain muda, tidak hanya sebagai atlet, tetapi juga sebagai individu yang menghargai sesama.
“Di sini tidak perlu ada keributan. Orang tua juga saling respek," kata Yabes Tanuri.
"Harapannya, turnamen ini bisa menjadi ajang pengembangan generasi muda untuk menjadi pesepak bola profesional di masa depan, salah satunya mencetak pemain timnas
Indonesia di masa mendatang,” pungkasnya.
Tag: #bali #jadi #model #kolaborasi #olahraga #ekonomi #erick #thohir #minta #daerah #lain #ikuti #jejak