Madrid dan MU Juga Tersapu Sepak Bola Instan
DENGAN latar tanpa trofi di musim lalu, 2024/2025, Carlo Ancelotti terpental dari Real Madrid. Don Carlo segera memulai lembaran baru--untuk kali pertama mengarsiteki tim nasional.
Yang menggaet Ancelotti bukan kaleng-kaleng, tapi Brasil, juara lima kali Piala Dunia.
Real Madrid membuka pintu kepada Xabi Alonso. Ia seorang yang dekat Madrid: Pernah merumput bersama Raja Eropa itu antara 2009-2015, dan memberi satu trofi La Liga dan satu trofi Liga Champions Eropa.
Belum lagi kisah suksesnya bareng Liverpool, Bayern Munchen serta timnas Spanyol.
Sebagai pemain (gelandang) atribusi Alonso lengkap: Juara liga di Spanyol, Jerman (3 kali Bundesliga), Liga Champions Eropa dua kali, Juara Piala Eropa atau Euro bareng Spanyol (2 kali) serta Piala Dunia (level negara).
Bandingkan dengan Ronaldo Nazario (Brasil), pengoleksi trofi La Liga serta dua trofi Piala Dunia (1994 dan 2002), tapi tak sekalipun juara Liga Champions Eropa.
Sedangkan Cristiano Ronaldo (Portugal) menghimpun trofi Liga Premier Inggris (3 kali), La Liga (2 kali), Serie A (2 kali), Liga Champions Eropa (5 kali) serta juara Euro level negara.
Satu hal minus dari pria yang emoh meninggalkan sepak bola menjelang usia ke-41 ini: Belum menggenggam trofi Piala Dunia.
Dan tahun ini adalah kesempatan terakhir Ronaldo membawa negaranya, Portugal, kampiun dunia. Sebuah trofi yang bikin komparasinya dengan Lionel Messi jadi minor.
Alonso menukangi Madrid sejak 1 Juni 2025 dan langsung berkiprah di Piala Dunia Antarklub yang digelar di Amerika Serikat.
Di ajang ini, Madrid melangkah hingga semifinal--secara menyakitkan dibungkam Paris Saint-Germain, 0-4. Benih ketaksuksesan Alonso telah ditanam di turnamen format anyar FIFA itu.
Madrid tergoda pada Alonso bukan tanpa alasan. Ia sukses di Bundesliga ketika mengarsiteki Bayern Leverkusen.
Di musim 2023/2024, ia mengantar Leverkusen merontokkan dominasi Munchen selama 11 tahun. Die Werkself, julukan klub ini, juara Bundesliga tanpa tersentuh kekalahan---mirip episode emas Arsenal di Liga Premier Inggris musim 2023/2024.
Di musim sama, Leverkusen jadi jawara DFB Pokal alias Piala Jerman. Sejarah treble nyaris dipetik andai saja Leverkusen menang di final Liga Euro musim itu.
Namun, dengan dua trofi pun, Alonso telah menggemparkan Jerman dan Eropa. Sebab bukan perkara gampang mematahkan superioritas Munchen yang bikin Bundesliga jadi "liga petani"--juaranya itu-itu saja.
Dalam politik Indonesia era Orde Baru serupa Golkar yang "dianggap" menang pemilihan umum sebelum perhelatan dimulai.
Sebagai pelatih, Alonso dinilai sebagai pembelajar yang baik. Saat aktif bermain, Alonso pernah diasuh Jose Mourinho, Carlo Ancelotti, Pep Guardiola hingga Rafael Benitez.
Empat manajer/pelatih ini kelas Eropa karena sanggup memberi trofi Liga Champions kepada klub yang ditukangi mereka.
Jadi, tak ada keraguan tatkala Alonso meneruskan tongkat estafet kepelatihan dari sang guru, Ancelotti.
Alonso tahu dengan pasti di mana ia menginjakkan kaki: Klub yang mengoleksi 15 trofi Liga Champions (dulu Piala Champions), penguasa Spanyol dan karena itu banyak menuntut.
Saking menuntutnya, hingga ke level hampir tak masuk akal--menargetkan juara La Liga atau Liga Champions saban musim.
Secara matematis, itu agak seperti tuntutan yang pantas. Dengan kemampuan finansial, Madrid bisa membeli pemain level bintang satu dari seluruh dunia.
Real Madrid adalah kumpulan talenta bola global. Dengan begitu pede--dan sedikit congkak--tak ada pemain di bawah kolong langit ini yang tidak ingin berseragam "putih-putih" yang jadi identitas Los Blancos.
Iya, termasuk Xabi Alonso yang berpindah dari Liverpool ke Madrid di musim 2009/2010. Ia menjadi benteng lapangan tengah klub dari ibu kota Spanyol itu hingga 2014/2015.
Dan sepuluh tahun selepas meninggalkan Madrid sebagai pemain, Alonso kembali ke El Real berstatus nakhoda tim.
Mengurus Real Madrid seperti gampang. Tapi, ternyata tidak. Hal pertama dan pokok adalah mengendalikan kamar ganti--tempat manajer/pelatih menjelaskan taktik hingga memompa motivasi pemain untuk setia dengan pendekatan atau gaya bermain yang dipilih.
Di sana ada Kylian Mbappe, Vinicius Junior hingga David Alaba dan Thibaut Courtois. Musim panas lalu Madrid mengangkut Tren Alexander-Arnold serta Dean Huijsen untuk memperkuat skuad.
Ruang ganti yang seharusnya ia kendalikan, ternyata jadi masalah. Bukan di ruang ganti saja, Alonso dilaporkan diprotes Vinicius di pinggir lapangan dalam laga Madrid versus Real Betis yang berakhir 5-1 untuk El Real. Vinicius mengeluhkan minusnya operan ke dia dalam laga itu.
Kuputusan taktik Alonso di final Supercopa de Espana menembak dengan telak situasi pelatih yang sudah goyah itu. Ia mengganti Vinicius di menit ke-85 ketika Madrid perlu menyamakan skor atas Barcelona.
Belum lagi keputusannya membangku cadangkan Mbappe. Striker ini baru diturunkan di menit 67. Alonso lebih memilih Gonzalo Garcia sebagai starter.
Hasilnya Piala Super Spanyol itu dimenangkan Barcelona, 3-2. Garcia dan Vinicius menyumbang dua gol El Real.
Tapi Barca melesakkan gol lebih banyak: Dua gol dari Raphinha serta satu gol dari Robert Lewandowski bikin Barca berjaya dalam duel di Arab Saudi itu.
Padahal di pekan kesepuluh La Liga, 26 Oktober 2025, Alonso sukses membawa El Real menekuk Barcelona 2-1 di stadion Santiago Bernabeu. Mbappe yang saat itu jadi starter melesakkan satu gol untuk membantu tim menang.
Nasib tak bisa ditolak. Pada 12 Januari 2026 (waktu Spanyol) atau sehari setelah keok 2-3 dari Barcelona, Alonso dipecat oleh Real Madrid.
Ini duel dalam perebutan trofi kasta ketiga di Spanyol, tapi anehnya sudah cukup menguatkan manajemen Madrid untuk berpisah dengan pelatih yang dilamarnya tujuh bulan silam.
Di paruh musim La Liga 2025/2026 (pekan 19), Real Madrid bertengger di peringkat dua, hasil dari 14 kali menang, 3 kali seri dan 2 kali keok.
Poin yang dihimpun 45, hanya selisih 4 poin dengan Barcelona yang duduk manis di puncak klasemen.
Gawang Courtois cuma kebobolan 17 gol. Intinya, Jude Bellingham dkk masih on the right track dalam bersaing dengan Barca yang berposisi sebagai juara bertahan La Liga.
Dari segi hasil di La Liga, tak ada alasan untuk mencopot Alonso. Perorongrong Alonso justru kesetiaannya memainkan taktik dengan skema 4-3-3. Pakem ini bisa berubah jadi 4-2-3-1 di saat tertentu dalam laga melawan klub yang cocok.
Selain Vinicius, Federico Valverde pun dikabar mempertanyakan peran yang dimainkan untuk dia. Valverde seorang gelandang, tapi dimainkan sebagai bek kanan oleh Alonso.
Belakangan, Mbappe juga menunjukkan gesture tak hormat saat kalah kontra Barca di Piala Super Spanyol.
Di titik ini pecinta bola masygul. Bagaimana mungkin bekas pemain dengan atribusi lengkap tak dapat memenangkan pertarungan di kamar ganti?
Seluruh pemain El Real itu tak ada yang memiliki trofi selengkap Alonso--termasuk Vinicius dan apalagi Mbappe, yang pernah jawara Piala Dunia bareng Perancis, tapi nol trofi Liga Champions.
Buat saya, Alonso terlalu baik kepada pemainnya. Dia beradaptasi, mengalah dan gagal mengurus kamar ganti.
Alonso adalah seorang juara, meski sebagai pelatih, ia datang ke Real Madrid hanya dengan curriculum vitae (CV) juara Bundesliga dan Piala Jerman.
Pep Guardiola pernah mengingatkan dunia. "Barcelona dan Real Madrid adalah klub paling sulit dilatih. Tekanannya luar biasa, semuanya bergantung pada menang atau tidak," ujar Guardiola sebelum duel Real Madrid versus Manchester City di fase awal Liga Champions, Desember lalu (Suara.com, 10/12/2025).
Guardiola menambahkan, "Pada akhirnya hierarki adalah kekuasaan. Kalau manajemen memberi kekuatan pada pelatih, ia yang memilikinya. Jika pada pemain, ya pemain yang memegangnya.”
Menurut saya, ucapan Guardiola itu terbukti. Dan Alonso terbuang dari Madrid oleh dua hal: Hierarki yang setara kekuasaan (baca: pemilik dan manajemen klub) serta sejumlah pemain yang mengeluh sehingga kamar ganti dalam posisi "hidup tapi dingin".
Alonso kalah dalam perang itu. Ia tak diberi waktu dan diminta pergi. Sebagian pecinta bola mungkin benar ketika menyebut perlakuan terhadap Alonso ini tak adil.
Saat ini, tindakan semena-mena oleh klub bola menjadi penyakit yang dianggap lumrah. Hulu dari semua ini adalah paradigma atau kerangka berpikir yang tersandera keinginan untuk cepat-cepat menuai hasil, tapi tak sabar dengan proses. Itulah sepak bola instan yang makin menggigit industri bola.
Kini menang adalah segalanya dan harus dicapai dalam waktu secepat-cepatnya. Makanan instan (yang sehat) mungkin berguna untuk tubuh, tapi sepak bola instan kerap menempatkan manajer/pelatih serta pemain sekadar sebagai sekrup industri.
Juara sama dengan duit. Saat kalah, apalagi beruntun, seolah-olah kiamat.
Alonso korban dari paradigma itu. Juga Ruben Amorim di Manchester United yang dipecat setelah laga ke-20 Liga Premier Inggris.
Manajemen tak sabar lagi meski MU dibawa pelatih asal Portugal itu ke peringkat 6 klasemen. Kontras dengan musim lalu, di mana di akhir musim, MU terjatuh di klasemen bawah.
Dengan langkah itu, MU masih berada dalam persaingan untuk meraih tiket Liga Champions. Namun, nasib Amorim telah ditetapkan: Harus pergi dari Old Trafford.
Sebelum itu, Enzo Maresca telah berpisah dengan Chelsea di hari pertama tahun 2026. Belakangan Thomas Frank dikabarkan berada di pintu keluar Tottenham Hotspur.
Hingga pekan ke-21, Spurs duduk di peringkat 14. Hasil yang dinilai tak pantas untuk klub yang mengincar tiket Liga Champions.
Oh ya, Frank didapuk menggantikan Ange Postecoglou untuk mengantarkan Spurs ke papan atas. Postecoglu di musim lalu memberi trofi Liga Europa, di final menekuk MU, kepada Spurs sehingga klub asal London ini bisa berpartisipasi di Luga Champions musim ini.
Namun, trofi yang memutus puasa Spurs itu tak membantunya. Pelatih asal Australia itu tetap dipecat. Postecoglu mengalami sekali lagi di musim ini ketika menukangi Nottingham Forest.
Buat manajer dan pelatih sepak bola, kecenderungan manajemen klub yang meminta hasil diraih secara instan serupa krisis iklim yang ditolak sejumlah pemimpin dunia. Sebuah tren yang celakanya dianggap lumrah.