“Double Agent” di Balik Operasi Senyap Penangkapan Xanana Gusmao
Mayor Jenderal (Purn) TNI Mahidin Simbolon dalam sesi wawancara bersama Brigade Podcast Kompas.com, Jakarta, Selasa (5/5/2026).(KOMPAS.com/FREDERIKUS TUTO KE SOROMAKING)
13:38
28 Mei 2026

“Double Agent” di Balik Operasi Senyap Penangkapan Xanana Gusmao

- Di balik operasi senyap penangkapan Xanana Gusmão, terselip peran seorang agen ganda bernama Mariano yang menjadi salah satu mata rantai penting pembuka lokasi persembunyian eks pemimpin gerilya Falintil itu di Kota Dili, pada 20 November 1992.

Jauh sebelum penangkapan, saat itu sedang berlangsung pameran pembangunan di Baucau.

Pengamanan dilakukan oleh Batalyon 315. Di tengah kegiatan, kelompok perlawanan bersenjata menyerang.

Seorang prajurit tewas. Bagi Komandan Satgas Intel Nanggala X/Timor Timur saat itu, Letkol Mahidin Simbolon, serangan tersebut tidak bisa dianggap sekadar insiden keamanan biasa.

Baca juga: “Rakyat Tidak Salah, Saya yang Salah”: Operasi Senyap Penangkapan Xanana Gusmao

Ia memerintahkan anak buahnya menelusuri siapa pelaku penyerangan, siapa yang memimpin operasi, hingga siapa yang berada di balik perintah gerakan itu.

Mahidin kemudian menugaskan seorang perwira muda berpangkat Letnan Satu, Doni Monardo (eks Kepala BNPB), untuk menelusuri jaringan di balik serangan tersebut.

Penyelidikan membawa mereka kepada seorang mahasiswa Universitas Timor Timur, bagian dari jaringan clandestine, organisasi bawah tanah yang menjadi penghubung logistik, informasi, dan komunikasi gerakan kemerdekaan Timor Timur.

Saat diinterogasi, mahasiswa itu tidak langsung bicara.

Ia hanya menyebut, mungkin “si A tahu”. Dari satu nama, muncul nama lain.

Dari satu simpul, muncul simpul berikutnya.

“Jadi kita tidak memutus jaringan clandestine, tetapi mengembangkan,” kata Mayjen (Purn) Mahidin Simbolon, dalam wawancara bersama Podcast Brigade Kompas.com, dikutip Kamis (28/5/2026).

Mahidin mengatakan, jaringan clandestine dilatih untuk bertahan saat tertangkap.

Karena itu, menurut dia, penangkapan dilakukan dengan cara yang berbeda.

Mereka memburu target saat dini hari. Sekitar pukul tiga atau empat pagi.

Menurut Mahidin, orang yang dibangunkan mendadak dari tidur lebih mudah panik dan kehilangan kesiapan mental dibanding ditangkap di ruang publik.

Operasi-operasi kecil dilakukan diam-diam. Dari rumah ke rumah.

Dari satu informan ke informan lain. Semua saling dikaitkan.

“Yakinkan dia bahwa dia pasti tahu,” kata Mahidin, mengenai metode interogasi yang digunakan saat itu.

Dari proses itulah nama lain muncul: Paul Alvez.

Peran agen ganda

Dalam jaringan bawah tanah perlawanan Timor Timur, Paul Alvez disebut sebagai salah satu pintu menuju Xanana.

Mahidin menyebutnya sebagai TLD (Tubit Daret Laki Dalan), orang yang membuka jalur pergerakan Xanana.

Paul akhirnya ditangkap. Tetapi ia tidak membuka lokasi persembunyian pemimpin gerilya itu.

Di titik inilah operasi mulai menemui jalan buntu.

Namun, Mahidin mengaku memiliki jalur lain, yakni seorang agen ganda bernama Mariano, jaringan Xanana yang diam-diam juga bekerja untuk intelijen Indonesia.

“(Sebelum Komandan Satgas Intel Nanggala X/Timor Timur), saya pernah Katim Analis. Ada double agent. Dia juga agennya Xanana, saya manfaatkan juga dia gitu lho. Dan surat (informasi) Xanana disampaikan kepada saya, surat saya juga disampaikan ke sana. Tahu saya,” ungkap dia.

Permainan intelijen itu terus berlangsung sampai satu informasi penting muncul: Xanana pernah berada di Bunaria, daerah pegunungan antara Ainaro dan Same.

Informasi itu kemudian diteruskan ke komando militer.

Wilayah Bunaria sempat dikepung, tetapi Xanana lolos.

Operasi kembali mentok. Di tengah kebuntuan itu, Mahidin memerintahkan anak buahnya mencari seseorang bernama Mariano.

Agen itu pun diburu pada malam hari. Tim mendatanginya diam-diam.

Saat hendak ditangkap, Mariano disebut sempat melawan sambil membawa kapak.

Ia akhirnya ditundukkan dan dibawa menghadap Mahidin.

Baca juga: Eks Kabais TNI: Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Bukan Operasi Intelijen, Hanya Kenakalan

“Begitu ke tempat saya, dia (Mariano) tertawa, kepada saya karena sudah kenal,” ujar Mahidin.

Tetapi, Mariano juga mengaku tidak tahu lokasi terbaru Xanana.

Sudah hampir dua tahun, katanya, ia kehilangan kontak setelah Bunaria dikepung.

“Akhirnya, (tanya ke Mariano), ‘di mana temannya?’. Ditunjukkan di mana, ditangkap lagi. (Tanya lagi), ‘Di mana Xanana?’, ‘Waduh mungkin si Acacio tahu’, gitu lho kira-kira,” ucap Mahidin.

Malam itu juga tim bergerak mencari Acacio. Ketika ditangkap, Acacio ketakutan.

Ia meminta perlindungan untuk dirinya dan keluarganya. Mahidin menjanjikan keamanan.

Dari Acacio, teka-teki yang selama bertahun-tahun diburu akhirnya terbuka.

Xanana ternyata bersembunyi di Dili. Bukan di hutan.

Bukan di pegunungan. Tetapi di sebuah rumah di tengah kota.

Penangkapan

Subuh itu, tim kecil bergerak menuju rumah persembunyian Xanana. Jumlahnya tidak banyak.

Mahidin mengatakan, hanya sekitar 22 personel ditambah Acacio.

Mereka mengenakan pakaian preman.

Hanya Acacio yang disamarkan menggunakan loreng dan penutup tubuh agar tidak dikenali.

Rumah yang dituju ternyata milik seorang polisi.

Ketika tim tiba, pemilik rumah justru keluar menuju kantor tanpa menyadari apa yang sedang berlangsung.

Operasi berjalan cepat. Di sekitar rumah, angsa mulai ribut.

Anjing menggonggong keras.

Baca juga: Eks Jenderal Sebut Baru Kali Ini TNI Ikut Buru Begal: Itu Tugas Polisi

“Jadi Angsa itu juga sebagai early warning system. Ngek ngek ngek gitu kan. Pada saat itu mungkin Xanana langsung masuk ke dalam (bungker),” kata Mahidin.

Tim mengelilingi rumah dengan derap langkah pelan.

Seorang pria melompat keluar dan langsung ditangkap.

Pintu dibuka. Acacio lalu menunjukkan lokasi bungker yang dulu ikut ia bangun sendiri untuk Xanana.

Di dalam kamar terdapat tirai kain. Di baliknya ada lubang menuju ruang persembunyian.

“(Teriakan) ‘Xanana keluar!’, gitu saja. ‘Nanti kalau enggak keluar, diledakkan granat’, diancam. Ya dia keluar, langsung gini dia (angkat tangan). ‘Rakyat tidak salah, saya yang salah’, langsung borgol. Dia pakai celana saja. Tidak pakai baju. Tidak sempat,” ungkap Mahidin.

Tag:  #double #agent #balik #operasi #senyap #penangkapan #xanana #gusmao

KOMENTAR