Partisipasi Politik Generasi Digital dalam Jingle ''MBG Mas Bahlil Ganteng''
DI TENGAH kepercayaan Generasi Z terhadap politik formal yang mengalami fase krisis saat ini, ada suatu hal yang menarik dan menjadi perhatian publik.
Budaya meme dan humor politik. Fenomena ini memberikan ruang komunikasi baru yang lebih cair.
Salah satu contoh baru-baru ini adalah fenomena viralnya jingle “MBG Mas Bahlil Ganteng” yang melekat pada sosok Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia.
Fenomena tersebut semakin menguatkan bahwa komunikasi politik hari ini tidak hanya berada pada retorika di atas panggung, manifesto, atau forum-forum institusional, melainkan juga melalui sirkulasi simbol di ruang digital.
Sound TikTok, potongan video, hingga komentar jenaka di media sosial kini menjadi ruang baru produksi makna politik.
Di titik ini, publik tidak lagi sekadar audiens, melainkan ikut menjadi produsen narasi politik itu sendiri.
Baca juga: Kemenangan Como, Cermin yang Tidak Nyaman
Realitas ini kemudian dilihat sebagai pergeseran signifikan dalam komunikasi politik era kontemporer saat ini.
Dari komunikasi yang bersifat top-down menuju budaya partisipatif digital yang horizontal.
Di mana fenomena ini menemukan bentuk barunya dalam budaya meme politik.
Fenomena ini kemudian dinilai dapat ditelisik melalui kacamata teori komunikasi massa yang berkaitan erat dengan cultural studies, apa yang disebut oleh Henry Jenkins (2006) sebagai participatory culture.
Dalam konteks ini, meme dari jingle “MBG Mas Bahlil Ganteng” bukan sekadar humor internet.
Lagu tersebut merupakan bentuk partisipasi politik baru. Ringan untuk dicerna, namun kuat dalam membentuk kedekatan, citra, dan persepsi publik terhadap figur politik.
Dalam ekosistem digital, masyarakat yang diposisikan audiens tidak lagi pasif seperti yang diasumsikan dalam teori-teori komunikasi massa klasik. Teori Jarum Hipodermik salah satunya.
Masyarakat di ruang digital saat ini telah menjadi prosumer, produsen sekaligus konsumen informasi.
Sebuah istilah yang pertama kali dikemukakan oleh Alvin Toffler (1980) dalam bukunya The Third Wave.
Kondisi ketika masyarakat memiliki kemampuan untuk ikut menciptakan, memodifikasi, dan mendistribusikan konten secara kolektif ini, selaras dengan pemikiran Henry Jenkins tentang participatory culture.
Budaya partisipatif di ruang digital seperti saat ini, menjadikan meme politik tidak lagi hanya sebagai bentuk hiburan dan lelucon.
Meme politik berubah menjadi bentuk ekspresi publik yang dianggap penting.
Meme berubah menjadi medium komunikasi yang memungkinkan masyarakat berpartisipasi dalam percakapan politik dengan cara yang ringan, cepat, dan mudah dibagikan.
Baca juga: Menanti Ketegasan Presiden
Fenomena jingle MBG Mas Bahlil Ganteng, merepresentasikan bagaimana masyarakat digital khususnya kalangan Gen Z, mampu mengonstruksi citra politik melalui partisipasi kolektif.
Lagu, potongan video, editan wajah melalui AI, hingga komentar-komentar lucu yang beredar di TikTok, Instagram, dan X menjadi bagian dari proses produksi makna terhadap sosok Bahlil.
Menariknya, citra yang terbangun tidak sepenuhnya dikendalikan oleh institusi politik formal. Justru publik internetlah yang berperan besar dalam membangun narasi tersebut.
Hal ini kemudian dinilai sebagai pergeseran penting dalam komunikasi politik digital.
Jika di era media konvensional citra politik lebih banyak diproduksi oleh televisi atau tim konsultan politik, maka di era media sosial citra justru terbentuk melalui interaksi horizontal antar pengguna.
Politik menjadi semakin decentralized. Narasi tidak lagi sepenuhnya dimonopoli elite itu sendiri.
Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa Generasi Z mengonsumsi politik melalui pendekatan yang berbeda. Mereka lebih dekat dengan komunikasi visual, humor, ironi, dan budaya remix.
Politik yang cenderung formal kerap kali terasa jauh dari budaya mereka. Sebaliknya, budaya meme justru lebih akrab di kalangan generasi digital native seperti mereka.
Fenomena ini kemudian sejalan pula dengan pandang Manuel Castells (1996), yang menyebut bahwa kekuasaan dalam era digital bekerja melalui jaringan komunikasi.
Media sosial menjadi ruang di mana makna dipertukarkan secara cepat dan masif.
Dalam masyarakat jaringan, viralitas mempunyai kekuatan simbolik yang besar karena mampu melahirkan atensi publik dalam waktu singkat.
Karena itu, viralnya meme jingle MBG Mas Bahlil Ganteng tidak bisa dipisahkan dari logika algoritma media sosial.
Algoritma bekerja dengan mendorong konten yang mengundang interaksi tinggi.
Semakin banyak meme dibagikan, dikomentari, dan direproduksi, semakin besar pula jangkauan simboliknya. Politik akhirnya bergerak mengikuti ekonomi perhatian digital.
Kemudian yang menjadi menarik, kerap kali Bahlil ketika memberikan respons terhadap meme dirinya, justru memperkuat partisipasi publik.
Alih-alih menolak atau menjaga jarak, ia terlihat santai dan menerima budaya meme yang berkembang.
Sikap ini yang kemudian dinilai mampu membuat publik merasa memiliki kedekatan emosional dengan figur politik tersebut.
Ada kesan bahwa batas antara elite politik dan masyarakat digital menjadi lebih cair.
Dalam komunikasi politik modern, respons semacam ini menjadi sangat penting.
Tokoh politik yang mampu masuk ke ruang budaya digital cenderung lebih mudah diterima oleh audiens muda.
Politik tidak lagi hanya berbicara tentang kekuasaan, tetapi juga tentang kemampuan membangun koneksi emosional di ruang digital.
Baca juga: Ketika Prabowo Menantang Logika Pasar
Meski demikian, fenomena ini juga menghadirkan persoalan kritis. Politik yang terlalu bergantung pada budaya viral berisiko mengalami simplifikasi.
Kompleksitas persoalan kebijakan publik bisa hanyut dan tenggelam di balik humor, persona, dan tren sesaat. Politik berubah menjadi performa yang terus mengejar engagement.
Demokrasi digital dalam kondisi ini tekontradiksi. Media sosial memberi ruang partisipasi publik yang lebih luas.
Masyarakat dapat ikut memproduksi narasi politik secara aktif. Di sisi yang berseberangan justru memberikan ancaman. Logika algoritma lebih mengutamakan popularitas daripada kualitas narasi.
Fenomena jingle “MBG Mas Bahlil Ganteng” pada akhirnya memperlihatkan bagaimana budaya partisipasi digital telah mengubah wajah komunikasi politik kontemporer.
Meme bukan lagi sekadar hiburan, melainkan medium partisipasi publik dalam mengonstruksi citra, makna, dan kedekatan politik di ruang digital.
Politik hari ini tidak hanya diproduksi oleh partai, negara, atau media mainstream. Politik juga diproduksi oleh pengguna media sosial. Oleh netizen. Oleh budaya viral itu sendiri.
Tag: #partisipasi #politik #generasi #digital #dalam #jingle #bahlil #ganteng