Propaganda di Zaman Artificial Intelligence
Ilustrasi AI.(Dok. Freepik/DC Studio)
12:02
20 Mei 2026

Propaganda di Zaman Artificial Intelligence

MEDIA letsdatascience.com, edisi 8 Mei 2026, mengabarkan soal rencana Pemerintah Vietnam, yang secara massif hendak memanfaatkan artificial intelligence (AI) beserta para ahlinya.

Pemanfaatan itu dalam bingkai komunikasi “positif” negara, untuk menciptakan 'kekebalan ideologis' bagi seluruh warganya.

Kekebalan terhadap informasi yang berbahaya, beracun, dan salah. Komunikasi positif ini, tak lain adalah propaganda

Kabar lengkap yang termuat dalam “Vietnam Recruits Influencers and AI Experts for Propaganda” itu, merupakan kutipan dari laporan yang diunggah Reuters.

Disebutkan, komite propaganda partai yang berkuasa di Vietnam hingga tahun 2030 berencana membangun jaringan: 1.000 influencer dan 5.000 pakar AI.

Dalam dokumennya yang disusun pada bulan April, juga disebutkan: saat komunikasi posistif telah dijalankan hingga akhir dekade, setidaknya 80 persen unggahan online --yang disajikan dalam bahasa Vietnam-- akan menjadi “positif”.

Ini lantaran, AI dalam 24 jam akan menghapus hingga 90 persen materi yang melanggar pedoman partai.

Juga dilakukan interaksi yang berformat podcast, video pendek, maupun berbagai bentuk unggahan bagi khalayak berusia muda.

Adapun pelaksaaan interaksinya, ditunjang oleh penggunaan perangkat berbasis AI yang dikembangkan oleh perusahaan teknologi Vietnam.

Baca juga: Harga Mahal Menjaga Rupiah

Untuk memosisikan secara tepat pengertian propaganda, Terence H. Qualter, 1962, dalam bukunya "Propaganda and Psychological Warfare” menyebutnya sebagai upaya yang sengaja dilakukan individu maupun kelompok.

Tujuannya membentuk, mengendalikan, hingga mengubah sikap kelompok lain, dengan menggunakan instrumen komunikasi.

Hasilnya, berupa perilaku sasaran propaganda –bisa warga negara maupun konstituen politik— yang sesuai dengan keinginan produsen propaganda.

Sedangkan Harold D. Laswell, 1927, dalam “The Theory of Political Propaganda” menyebut, propaganda adalah pengelolaan sikap kolektif melalui manipulasi simbol-simbol penting.  

Masih banyak pengertian lain yang disebutkan para ahli soal propaganda. Namun seluruhnya bermuara pada pabrikasi perilaku khalayak, yang diakibatkan oleh pengiriman pesan satu pihak.

Maksud pengirman pesannya, lebih untuk menciptakan tanggapan yang diinginkan produsen pesan dibanding kebenaran informasinya.

Dan ketika menyampaikan kebenaran bukan menjadi bagian penting pesan, propaganda adalah disinformasi, misinformasi atau malinformasi yang disebarkan secara luas.

Peradaban hari ini, menyebutnya sebagai hoaks.  

Apa akibat yang ditimbulkan propaganda yang didukung negara, terlebih dengan memanfaatkan AI?

Baca juga: Ekonomi Indonesia dari Sawah, Bukan Wall Street

Morgan Wack, Carl Ehrett, Darren Linvill, Patrick Warren, 2025, dalam laporan penelitiannya, “Generative Propaganda: Evidence of AI’s Impact from a State-Backed Disinformation Campaign” mengemukakan keadaan-keadaan yang mengkhawatirkan.

Penelitian ini berusaha menyibak konsekuensi adopsi AI dalam propaganda yang didukung Rusia, dilakukan dengan metode kuasi-eksperimental, berbasis teks, dan survei. 

Ditemukan, propaganda yang didukung negara lewat adopsi teknologi berbasis AI generative, memungkinkan situs web yang digunakan dapat memperkuat dan meningkatkan produksi disinformasi.

Temuan rincinya, pertama, perangkat Gen-AI memfasilitasi produksi disinformasi dalam jumlah yang lebih besar dibanding dengan hanya mengandalkan tenaga manusia.

Kedua, penggunaan Gen-AI sangat terkait dengan pergeseran volume maupun cakupan unggahan yang dipublikasikan. Volumenya lebih besar dan cakupannya lebih luas.

Dan ketiga, ini merupakan temuan yang menyibak kekuatan propaganda berbasis AI --dalam realitas yang mengacu pada eksperimen survei-- artikel yang dibantu AI daya persuasinya bertahan hingga periode pascaadopsi.

Ini dilakukan dengan membandingkan persepsi terhadap artikel yang diproduksi sebelum dan sesudah adopsi perangkat AI.

Dari seluruhnya nyata, pemanfaatan perangkat Gen-AI mengubah volume cakupan maupun daya persuasi propaganda yang didukung negara.

Keadaan di atas tampaknya telah disinyalir Tate Ryan-Mosley, 2023, lewat laporan temuannya yang berjudul “How Generative AI is Boosting the Spread of Disinformation and Propaganda”.

Dari artikel yang telah mengemuka 2 tahun sebelum penelitan Morgan Wack dan timnya itu, disebutkan: banyak pemerintah maupun aktor politik di seluruh dunia -- di negara demokrasi maupun otokrasi-- menggunakan AI untuk menghasilkan teks, gambar, dan video, guna memanipulasi opini publik.

Tindakan itu juga diikuti penyensoran online, terhadap unggahan yang kritis. 

Dicontohkannya: media pemerintah Venezuela menyebarkan propaganda negaranya melalui video yang dihasilkan AI dengan pembawa berita deepfake, di saluran berbahasa Inggris internasional.

Video yang diproduksi Synthesia --perusahaan yang memproduksi deepfake—disiarkan oleh saluran yang tak pernah ada.

Sedangkan di Amerika Serikat video dan gambar pemimpin politik yang dimanipulasi AI, kerap beredar di media sosial.

Ini termasuk video yang menggambarkan Presiden Joe Biden berkomentar transfobik, maupun Donald Trump yang memeluk Anthony Fauci.

Baca juga: Generasi Tanpa Profesi

Pada kehidupan nyata, kedua tema itu mustahil terjadi.  

Operasi negara dalam melancarkan propaganda, mengingatkan pada novel-novel George Orwell.

Karenanya secara salah kaprah, tindakan propaganda negara itu kemudian diistillahkan sebagai Orwellian.

Istilah yang alih-alih mengapresiasi George Orwell sebagai sosok yang mengungkap praktik propaganda, justru mendudukkannya seakan sebagai pelopor komunikasi manipulatif itu. 

Pada “Animal Farm: A Fairy Story” yang terbit di tahun 1945, ditunjukkan operasi-operasi propaganda itu.

Praktiknya berupa disinformasi, operasi menyebarkan ketakutan, maupun revisi sejarah demi kepentingan penguasa.

Ketika seluruhnya dilakukan secara sistematis, kendali yang dirancang untuk memanipulasi kognisi maupun emosi target propaganda –dalam hal ini hewan-hewan yang diceritakan—dapat dipertahankan.

Pada novel disebutkan: operasi dikelola Squealer --yang berkedudukan sebagai sekretaris pers-- lewat pemutarbalikkan fakta dan membenarkan tindakan egois elit.

Dalihnya sebagai hal yang diperlukan untuk pencapaian tujuan yang lebih besar.

Praktik disinformasinya, misalnya dilakukan lewat manipulasi bahasa "Four legs good, two legs bad."  Empat kaki baik, dua kaki buruk.

Juga “all animals are equals but some animals are more equal than others.” Semua hewan sama, tetapi beberapa hewan lebih sama daripada yang lain.

Ungkapan-ungkapan macam itu merupakan upaya penyederhanaan dari ideologi yang rumit.

Tujuannya memanipulasi khalayak, agar membenci manusia dan patuh pada babi-babi yang berkuasa.

Bahasa disederhanakan agar mudah diingat, kerumitannya direduksi, dan pengulangannya diringankan.

Khalayak jadi senang menggunakannya, tanpa terancam bahaya di baliknya: hilangnya daya kritis, akibat pilihan kata yang telah diseleksi.

Sedangkan pada novel “1984”, yang terbit pada 1949, Orwell mengemukakan propaganda yang dilakukan melalui partai yang berkuasa secara total.

Ini termasuk mengendalikan pikiran, ingatan, maupun realitas, melalui pengawasan 24/7.

Tak putus selama 24 jam sehari, dan 7 hari dalam seminggu. Juga dilakukannya revisi sejarah maupun manipulasi psikologis, untuk menciptakan ketundukan.

Baca juga: Ketika Prabowo Menantang Logika Pasar

Medium utamanya telescreen, yang mengumandangkan slogan-slogan: "Perang adalah Perdamaian, Kebebasan adalah Perbudakan, dan Ketidaktahuan adalah Kekuatan".

Sementara Minitrue –The Ministry of Truth, Kementerian Kebenaran-- bertanggung jawab agar kebijakan partai sesuai dengan sejarah. Sehingga jika perlu, catatannya dipalsukan.

Operasi newspeak --yang membatasi dan mempersempit kosakata-- bertujuan mencegah kekritisan dan menghilangkan "kejahatan pikiran".

Sedangkan terhadap pandangan asing, dilakukan ritual “Dua Menit Kebencian dan Pekan Kebencian”.

Ini mewajibkan warga berteriak di depan layar, menumpahkan kemarahannya kepada musuh, sekaligus terpupuknya kebencian kolektif pada pihak asing.

Hari ini ketika AI makin dominan penggunaannya, Pemerintah Vietnam menegaskan rencana pemanfaatannya secara aktual.

Apa yang mungkin dilakukan lewat propaganda dengan melibatkan 1.000 orang influencer dan 5.000 ahli di bidang AI?

Ketika teori dasar propagandanya sama --mempabrikasi khalayak agar berperilaku sesuai dengan kehendak produsen propaganda-- maka aktivitas yang melibatkan AI pun, tak terlalu berbeda dengan propaganda yang meibatkan AI. 

Shaoyu Yuan, 2025, lewat “AI Propaganda and the China-US Race for Influence”, merangkum upaya-upayanya.

Pertama, propaganda memuji diri sendiri dan memojokkan lawan dengan memanfaatkan deepfake.

Kedua, membanjiri ruang perbincangan publik dengan teks, gambar, video, maupun percakapan fiktif, untuk membentuk opini.

Di sini algoritma memegang kunci pembentukan opini khalayak. Ketiga, melipatgandakan narasi-narasi yang propenguasa.

Dengan bantuan AI, dapat diproduksi gambar, video, bahkan isi suara dengan lebih cepat, dibanding mengandalkan manusia belaka.

Baca juga: Pesta Babi Tanpa Babi

Di sini upaya-upaya propaganda yang dilakukan, tak selalu untuk memupuk persatuan antar warga negara sendiri, melainkan juga dengan memecah belah persatuan warga negara bangsa lain. Seraya memojokkannya. 

Tampak, modusnya serupa. Hanya yang membedakan teknologi di baliknya.

Propaganda zaman Orwell terepresentasi lewat ungkapan: Who controls the past controls the future; who controls the present controls the past.

Sedangkan di zaman AI, menjadi: Who controls the algorithm controls the narrative.

Karenanya persoalan hari ini: memastikan realita yang sedang dinikmati, propaganda atau bukan?

Tag:  #propaganda #zaman #artificial #intelligence

KOMENTAR