Iran Janji Picu Perang hingga ke Luar Timur Tengah jika AS Kembali Menyerang
Iran mengancam akan memperluas konflik hingga ke luar kawasan Timur Tengah apabila Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap negara tersebut.
Ancaman itu disampaikan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di tengah upaya diplomatik yang masih rapuh untuk mengakhiri konflik terkait program nuklir Teheran.
Dalam pernyataan yang dikutip media pemerintah Iran pada Rabu (20/5/2026), IRGC memperingatkan bahwa jika “agresi terhadap Iran kembali dilakukan,” maka mereka akan memberikan serangan “di tempat-tempat yang bahkan tidak bisa kalian bayangkan.”
Baca juga: Kondisi Terkini Mojtaba Khamenei, Iran Sebut Hanya Terluka Ringan di Bagian Telinga
Trump sebut serangan besar ditunda
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa dirinya menunda “serangan yang sangat besar” terhadap Iran setelah dibujuk oleh para pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar.
Dilansir New York Times, Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan bahwa dirinya menunda “serangan yang sangat besar” terhadap Iran setelah para pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar meminta tambahan waktu untuk mencari kesepakatan terkait program nuklir Iran.
Trump menyebut masih ada “peluang yang sangat bagus” untuk mencapai kesepakatan. Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci berapa lama Iran diberi waktu untuk kembali ke meja perundingan, selain menyebut hanya “periode waktu yang terbatas.”
Milisi pro-Iran diduga rencanakan serangan di Barat
Pekan lalu, sebuah dakwaan pidana di Amerika Serikat mengungkap bahwa seorang warga Irak yang disebut sebagai komandan senior Hizbullah, milisi dukungan Iran di Irak, diduga membantu merencanakan serangan di AS, Eropa, dan Kanada sejak perang dimulai.
Sementara itu, negosiasi untuk mengakhiri konflik masih mandek akibat persoalan program nuklir Iran dan Selat Hormuz, jalur penting distribusi minyak dan gas dunia.
Iran disebut secara efektif telah menutup jalur perairan tersebut sejak awal perang, sehingga mengguncang pasar energi global.
Kebuntuan itu juga menambah tekanan terhadap gencatan senjata yang telah berlangsung selama sebulan.
Pakistan ikut terlibat dalam upaya menjaga gencatan senjata tersebut. Menteri Dalam Negeri Pakistan, Mohsin Naqvi, tiba di Teheran pada Rabu untuk kunjungan keduanya dalam sepekan, menurut laporan penyiar pemerintah Iran, IRIB.
JD Vance: “Ada kemajuan dalam perundingan”
Dalam beberapa hari terakhir, Trump dan Wakil Presiden AS JD Vance sama-sama menyampaikan optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan, meski kedua negara tetap saling mengancam.
Dalam pengarahan di Gedung Putih pada Selasa (19/5/2026), Vance mengatakan “banyak kemajuan” telah dicapai dalam pembicaraan tersebut. Ia juga menyebut Washington percaya bahwa “Iran ingin mencapai kesepakatan.”
Namun, proposal terbaru dari Teheran dilaporkan masih memuat tuntutan yang sebelumnya ditolak Washington, termasuk kompensasi kerusakan perang dan jaminan hak Iran untuk memperkaya uranium.
“Selalu ada opsi B, dan opsi B adalah kami bisa memulai kembali operasi militer,” kata Vance kepada wartawan.
Baca juga: Trump Batalkan Lagi Serangan ke Iran, Klaim Telah Dibujuk Negara Teluk
“Tetapi itu bukan yang diinginkan presiden, dan saya rasa itu juga bukan yang diinginkan Iran.”
Iran klaim masih menahan diri
Dalam pernyataannya, IRGC juga mencoba menggambarkan respons Iran terhadap serangan militer AS-Israel sebagai tindakan yang masih terkendali.
Menurut mereka, Amerika Serikat dan Israel telah menggunakan “seluruh kemampuan” militer mereka, tetapi Iran “belum mengerahkan seluruh kapasitasnya” untuk membalas.
Para analis menilai, jika kembali diserang, Iran dapat mencoba mengendalikan Selat Bab al-Mandeb, jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan dilalui sekitar sepersepuluh perdagangan maritim global.
Jalur tersebut berada di dekat wilayah Yaman yang dikuasai kelompok Houthi, milisi dukungan Iran yang sebelumnya pernah menyerang kapal-kapal di Laut Merah.
Selain itu, Iran juga berpotensi meningkatkan serangan terhadap negara-negara Arab Teluk beserta infrastruktur energinya.
Serangan terhadap ladang minyak, kilang, dan pelabuhan di kawasan Teluk dianggap sebagai salah satu cara paling efektif bagi Iran untuk menekan ekonomi global sekaligus memberi tekanan kepada Trump.
“Ancaman pembalasan Iran terhadap produsen minyak utama tetap menjadi salah satu dari sangat sedikit faktor yang menahan perilaku AS terhadap Iran,” kata Ali Alfoneh, peneliti senior di Arab Gulf States Institute yang berbasis di Washington.
Pejabat militer AS juga disebut khawatir Iran masih menjadi lawan yang tangguh dan mampu menimbulkan kerugian besar bagi kawasan maupun ekonomi global meski telah berbulan-bulan digempur serangan.
Seorang pejabat militer AS yang berbicara secara anonim mengatakan, Teheran memanfaatkan masa gencatan senjata untuk menggali kembali lokasi rudal balistik yang dibom, memindahkan peluncur bergerak, dan menyesuaikan taktik menghadapi kemungkinan serangan baru.
Baca juga: Bagaimana Iran Bisa Nyaris Punya 11 Bom Nuklir di Era 3 Presiden AS?
Tag: #iran #janji #picu #perang #hingga #luar #timur #tengah #jika #kembali #menyerang