Generasi Tanpa Profesi
DALAM kehidupan masyarakat luas, pemaknaan terhadap profesi memang begitu mendalam.
Profesi merupakan label sosiologis dan antropologis yang disematkan oleh masyarakat kepada seseorang.
Rujukan sebuah profesi biasanya didasarkan pada asal-mula bagaimana seseorang memperoleh kecakapan tersebut.
Kita mengenal profesi dokter, arsitek, tukang pijat, bidan, hingga pembuat konten (content creator).
Semua label tersebut merujuk pada kecakapan spesifik yang dimiliki individu dan berfungsi secara sosial.
Secara kultural, label ini menandakan posisi atau keahlian seseorang di dalam struktur masyarakat.
Baca juga: Tuntutan Hukum Nadiem, Respons Publik, dan Fenomena Diving Politics
Dengan kata lain, profesi adalah identitas sosial yang mencerminkan status keahlian, sandaran ekonomi, sekaligus legitimasi sosial.
Profesi yang melekat pada diri seseorang tidak hanya memiliki nilai budaya, melainkan juga nilai ekonomi yang menentukan kesejahteraan.
Namun demikian, jika kita mengamati realitas Gen Z hari ini, basis profesi mereka secara epistemologis kadang tidak dapat dirunut lagi.
Dalam bahasa populer, pekerjaan mereka tidak lagi berakar pada satu bidang keilmuan tertentu yang jelas dan baku.
Kita tidak jarang melihat seorang sarjana hukum menjadi content creator, sarjana pendidikan menjadi affiliate marketer, sarjana teknik menjadi chef di restoran, atau sarjana komunikasi menjadi admin e-commerce.
Bahkan, satu orang bisa memiliki empat sampai lima pekerjaan sekaligus.
Fenomena ini menunjukkan bahwa identitas profesi mulai mencair. Inilah konsekuensi dari liquid modernity yang digagas Zygmunt Bauman, sebuah kondisi yang mencairkan bukan hanya hubungan antarmanusia, tetapi juga hal-hal yang berkaitan dengan keahlian.
Apa yang bisa kita baca dari realitas "generasi tanpa profesi" ini?
Pertama, kita sedang menyaksikan runtuhnya linearitas pendidikan.
Pada masa lalu, jenjang kehidupan seseorang dapat dilacak dengan mudah: di mana dia kuliah, profesi apa yang dihasilkan dari perkuliahan tersebut, dan bagaimana dia berkarier.
Dari sana, kita dapat memprediksi stabilitas ekonomi dan tingkat kesejahteraannya.
Kedua, hari ini, bangku kuliah tidak lagi menentukan profesi seseorang. Seorang sarjana agama bisa saja beralih menjadi content creator.
Realitas ijazah formal ini berkorelasi dengan pernyataan Rocky Gerung: ijazah sekadar penanda bahwa seseorang pernah menyelesaikan suatu jenjang persekolahan, bukan penanda bahwa dia pernah berpikir di bidang tersebut.
Mengapa ruang profesi mengalami pencairan yang begitu masif, terutama di kalangan Gen Z?
Jawabannya adalah karena profesi telah digantikan oleh fleksibilitas.
Kita tahu bahwa Gen Z hidup dalam ekosistem gig economy, freelance economy, creator economy, dan algorithmic economy.
Mereka seperti sedang hidup dalam ekonomi keterampilan yang sifatnya sementara (temporary skill economy).
Berbagai model ekonomi baru ini menuntut individu untuk mampu beradaptasi dengan tuntutan yang ada, walau hanya sekadar untuk bertahan hidup.
Selain itu, identitas profesi kini tidak lagi menjadi pelekatan tunggal pada diri seseorang. Seorang guru, misalnya, mengajar di sekolah dari pagi hingga sore, namun pada malam hari dia berubah menjadi pelaku UMKM yang mengelola ruko kecil bersama istrinya.
Seorang akuntan, sepulang dari kantor, langsung bekerja sebagai content creator pada malam hari.
Seorang konsultan hukum yang bekerja pada jam resmi, mungkin memanfaatkan hari Sabtu dan Minggu menjadi MC atau mentor online dengan klien-klien yang tidak kalah besar.
Pergantian dari satu profesi ke profesi lain, termasuk pergantian subjek yang dilayani, menjadi sangat mungkin terjadi hari ini.
Dampaknya, dari fenomena generasi tanpa profesi ini, kita mungkin tidak perlu lagi berimajinasi tentang profesionalisme klasik.
Dunia digital melahirkan kultur serba cepat, serba instan, dan validasi yang bertumpu pada viralitas.
Baca juga: Persib dan Seni Menjaga Sense of Belonging di Era Sepak Bola Modern
Kondisi ini didukung oleh pengetahuan yang dangkal karena individu tidak memiliki kesempatan untuk mendalami satu bidang secara tekun.
Di sinilah letak ironisnya. Saking banyaknya profesi baru dan orang-orang yang mengklaim diri profesional, banyak orang merasa ahli dalam bidang-bidang yang sebelumnya sangat terbatas, hanya karena mereka mengetahui isu tersebut dari media sosial.
Di sisi lain, secara kelembagaan, fenomena ini menjadi ancaman serius bagi organisasi profesi.
Mereka yang merasa profesional di bidang insinyur, arsitek, atau bidang teknik lainnya kini menghadapi tantangan ketika orang awam mampu memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI) untuk menunjang pekerjaan.
Akibatnya, eksistensi profesi yang berbasis asosiasi formal lambat laun mulai diabaikan.
Maka, “generasi tanpa profesi”—secara langsung maupun tidak langsung—merupakan ancaman yang akan menghasilkan krisis identitas kerja, sekaligus melemahkan fondasi kelembagaan ekonomi.
Jika semua hal serba cair dan fleksibel, sementara institusi membutuhkan pilar yang kokoh dan fondasi yang kuat, maka tatanan ini bisa luluh karena kehilangan pegangan sekaligus kebijakan.
Fenomena ini pada akhirnya juga mengancam model penjenjangan karier masa lalu.
Seseorang kini tidak lagi dihargai berdasarkan bagaimana dia memenuhi tuntutan profesinya, melainkan bagaimana dia mampu mengadaptasikan diri pada tuntutan pekerjaannya.
Oleh karena itu, gagasan mengenai generasi tanpa profesi ini bukan berarti Gen Z sekadar generasi yang kesulitan mencari kerja.
Baca juga: Ironi Dominasi Kebenaran dalam Lomba Cerdas Cermat Pilar Kebangsaan
Lebih jauh dari itu, Gen Z adalah generasi yang tumbuh ketika konsep profesi itu sendiri secara ontologis dan epistemologis mulai kabur, bahkan runtuh.
Mereka memang hidup dalam ketidakpastian label (uncertainty label) karena tuntutan pasar kerja, tetapi mereka juga kelompok yang sangat adaptif dan fleksibel dalam menerapkan budaya kerja maupun menghasilkan output dari pekerjaan tersebut.