Tantangan dan Impian pada Hardiknas 2026
Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi momentum refleksi sekaligus peneguhan arah masa depan pendidikan di Indonesia.(GENERATED BY GEMINI AI)
07:30
3 Mei 2026

Tantangan dan Impian pada Hardiknas 2026

- Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi momentum refleksi sekaligus peneguhan arah masa depan pendidikan di Indonesia.

Pemerintah, parlemen, hingga pemangku kepentingan sepakat bahwa kemajuan telah dicapai, namun tantangan pemerataan dan kualitas masih menjadi pekerjaan besar.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan bahwa pendidikan tidak bisa hanya dibebankan kepada negara.

Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk terlibat aktif dalam membangun ekosistem pendidikan yang kuat.

“Negara, keluarga, sekolah, kampus, masyarakat, dunia usaha, pendidik, peneliti, pelajar, dan mahasiswa, semuanya adalah arsitek masa depan Indonesia,” kata Brian saat memimpin upacara Hardiknas 2026 di Jakarta, Sabtu (2/5/2026).

Baca juga: Massa Demo Hardiknas Bubar, Jalan Medan Merdeka Selatan Kembali Dibuka

Menurutnya, pendidikan bermutu hanya dapat terwujud melalui gotong royong seluruh pihak.

“Karena pendidikan yang kuat tidak dibangun oleh satu pihak, tetapi oleh gotong royong seluruh bangsa,” ujarnya.

Dalam amanatnya, Brian juga menyampaikan pesan optimisme kepada generasi muda agar berani bermimpi besar.

“Kepada para pelajar dan mahasiswa, teruslah belajar, bertanya, mencoba, dan berkarya. Jangan takut untuk bermimpi besar. Masa depan Indonesia tidak diwariskan, ia dibangun melalui karakter, ilmu, kerja sama dan kolaborasi, serta keberanian untuk melangkah,” tuturnya.

Baca juga: Massa Demo Hardiknas dan Polisi Kembali Ricuh di Jakpus, Saling Lempar Botol

Ia menambahkan, Hardiknas merupakan momentum untuk meneguhkan kembali makna pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia.

Nilai-nilai yang diwariskan Ki Hajar Dewantara, seperti asah, asih, dan asuh, dinilai tetap relevan dalam membentuk karakter dan peradaban bangsa.

“Pendidikan bukan hanya tentang apa yang kita ketahui, tetapi tentang siapa kita menjadi,” kata Brian.

Selain itu, ia juga memberikan penghargaan kepada guru, dosen, tenaga kependidikan, dan peneliti yang dinilai berperan penting dalam membentuk masa depan bangsa.

Dia mengajak seluruh elemen untuk menghadirkan pendidikan yang inklusif, relevan, dan berdampak.

“Mari kita bergandengan tangan menguatkan partisipasi semesta dan menghadirkan pendidikan bermutu yang inklusif, relevan, dan berdampak bagi semua,” ujarnya.

Baca juga: Hardiknas 2026, Pimpinan Komisi X DPR Tegaskan Hak Anak untuk Sekolah

Di sisi lain, Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani menilai telah terjadi kemajuan signifikan di sektor pendidikan pada masa pemerintahan Prabowo Subianto.

Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi masih besar.

“Terkait penilaian saya terhadap kemajuan pendidikan di bawah kepemimpinan Prabowo-Gibran, saya dapat menyatakan bahwa telah terjadi arah perubahan yang nyata, meskipun tantangannya masih sangat berat,” kata Lalu.

Baca juga: Demo Hardiknas di Jakpus Ricuh, Massa BEM SI Dobrak Barikade dan Bakar Ban

Ia menyoroti percepatan pembangunan dan renovasi sekolah sebagai salah satu capaian konkret.

“Jika sebelumnya hanya sekitar 17.000 sekolah yang direnovasi dalam setahun, pada 2026 jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 70.000 sekolah. Pemerintah menargetkan pada tahun 2028 seluruh sekolah di Indonesia akan selesai direnovasi,” ujarnya.

Meski demikian, Lalu menegaskan bahwa pembangunan fisik belum sepenuhnya diikuti pemerataan kualitas pendidikan, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

“Biaya distribusi guru dan fasilitas belajar di daerah terpencil lebih mahal dibandingkan di kota, sehingga banyak sekolah yang masih kekurangan tenaga pendidik dan infrastruktur,” katanya.

Baca juga: BEM SI Demo Hardiknas di Jakpus, Tuntut Kesejahteraan Guru Honorer hingga RUU Sisdiknas

Hal senada disampaikan Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayanti yang menekankan pentingnya keadilan pendidikan bagi seluruh anak Indonesia.

Ia mengingatkan bahwa Hardiknas bukan sekadar seremoni, melainkan momentum memastikan negara hadir bagi semua.

“Saya ingin menegaskan, tidak boleh ada satu pun anak Indonesia yang tidak bisa sekolah. Pendidikan adalah hak dasar setiap anak, bukan pilihan,” tegas Esti.

Ia juga menyoroti kesenjangan akses dan kualitas pendidikan, khususnya di daerah 3T, serta pentingnya dukungan infrastruktur digital yang merata.

“Tantangan yang masih ada bukan hanya soal akses, tetapi juga tentang keadilan dalam kualitas pendidikan,” ujarnya.

Baca juga: BEM SI Demo Hardiknas, Jalan Medan Merdeka Selatan Jakpus Ditutup

Selain itu, Esti menekankan pentingnya kesejahteraan guru sebagai fondasi utama pendidikan.

“Tidak boleh lagi ada guru yang mengabdi dengan penghasilan yang jauh dari cukup dan dalam ketidakpastian ekonomi,” katanya.

Dengan berbagai capaian dan tantangan yang ada, Hardiknas 2026 menjadi pengingat bahwa masa depan pendidikan Indonesia ditentukan oleh kolaborasi seluruh elemen bangsa.

Di tengah upaya pemerataan dan peningkatan kualitas, impian besar tetap digelorakan: menghadirkan pendidikan yang adil, inklusif, dan mampu membentuk generasi unggul untuk masa depan Indonesia.

Tag:  #tantangan #impian #pada #hardiknas #2026

KOMENTAR