Noe Letto Jawab Tuduhan Independensi Hilang Usai Dilantik Jadi Tenaga Ahli DPN RI
Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe Letto, anak Cak Nun.(Tangkap Layar Youtube Sabrang MDP Official)
12:46
22 Januari 2026

Noe Letto Jawab Tuduhan Independensi Hilang Usai Dilantik Jadi Tenaga Ahli DPN RI

- Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe Letto menjawab soal tuduhan independensinya hilang usai dilantik sebagai Tenaga Ahli Madya Dewan Pertahanan Nasional (DPN) Republik Indonesia (RI).

Jawaban itu dia sampaikan melalui akun YouTube Sabrang MDP Official dan membacakan komentar salah satu warganet yang mempertanyakan keberaniannya mengkritik pemerintah setelah bergabung dengan DPN RI.

Anak budayawan sekaligus cendekiawan muslim Emha Ainun Najib atau Cak Nun itu menegaskan, ia sudah lama memberi masukan dan kritik kepada pemerintah, jauh sebelum diangkat menjadi tenaga ahli DPN RI.

“Menurut Anda kapan saya mulai membantu pemerintah? Dengan memberi input-input masukan? Sejak saya bisa menganalisa sesuatu. Enggak, sejak saya diangkat,” kata Noe, dikutip Kompas.com dari kanal YouTube Sabrang MDP Official, Kamis (22/1/2026).

Noe memberi contoh, pada masa pemerintahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo, ia sudah menyusun analisis tentang bahaya media sosial bagi persatuan bangsa.

Analisis itu bahkan sempat dibahas oleh 12 profesor, meski akhirnya tidak ditindaklanjuti.

Dari situ, ia justru memilih bergerak mandiri lewat platformnya sendiri.

“Perjalanan (analisis) itu tidak menghasilkan apa-apa. Karena kemudian dalam perjalanannya banyak kepentingan yang lain. Akhirnya saya bikin sendiri, yang enggak mampu juga jadi gede juga. (Tapi) itu hasil dari ketika saya mampu melihat ancaman sosial media untuk disintegrasi bangsa ketika tidak dikontrol dengan baik,” ujar dia.

Sabrang menekankan bahwa dalam satu tahun terakhir, periode ketika publik menilai dirinya cukup kritis, ia sebenarnya juga sedang memberi masukan ke DPN dan kementerian lain.

“Ada fakta di belakang layar bahwa dalam satu tahun itu, saya juga kasih input ke DPN. Kasih input bukan sebagai pengin mendapat jabatan, tapi memang saya terus melakukan itu. Saya pernah kasih input ke beberapa kementerian, salah satunya ke DPN juga,” ungkap dia.

Jika tujuannya adalah cari jabatan, menurut logika Noe, seharusnya ia bersikap lunak, tidak banyak mengkritik, dan menjaga citra di depan pemerintah.

Namun, yang terjadi, kata Noe, justru sebaliknya. Dia tetap mengkritik dalam periode tersebut.

“Kalau Anda melihat setahun saya yang terakhir, itulah yang sesungguhnya. Dan besok, ya akan kayak gitu. Mulut saya tidak akan saya gadaikan kepada orang lain. Karena yang kasug mulut ya Tuhan. Jadi ini tanggung jawab saya terhadap mulut saya. Tidak akan bisa dipinjam pemerintah, tidak akan bisa dipinjam netizen juga,” ucap dia.

Menurut dia, berpikir bahwa 'kalau tidak mengkritik berarti mendukung pemerintah' adalah cara berpikir yang tidak sehat.

Noe menegaskan ia akan tetap berbicara sesuai penilaian dan pemahamannya dengan mengkritik hal yang dianggap salah serta menyampaikan masukan atas hal yang masih bisa diperbaiki.

“Jadi, artinya kalau masalahnya adalah soal independensi, ketika berhubungan dengan DPN, sebelum pakai peci itupun saya sudah sambil kritik sambil kasih input,” ujar Noe.

Bergabung dengan DPN bukan keputusan yang mudah bagi Noe, mengingat di luar sistem ia menjalani kehidupan yang relatif nyaman, aman, dan minim risiko.

Namun, ia memilih bersikap objektif dengan menilai apakah keterlibatannya dapat membawa kebaikan yang lebih besar bagi negara dalam jangka panjang, sekaligus menguji apakah objektivitas pandangannya benar-benar dihargai.

Di balik proses wawancara tenaga ahli

Menurut Noe, seorang tenaga ahli harus mengedepankan objektivitas, yakni mampu menyampaikan kritik maupun pujian secara jujur dan seimbang, termasuk dalam proses wawancara yang ia jadikan ruang untuk berbicara apa adanya.

Ia mengungkapkan, dalam wawancara tersebut, dirinya secara terbuka menyampaikan pandangan kritis terhadap kinerja pemerintahan dalam beberapa periode terakhir.

Dalam beberapa periode pemerintahan, Noe menilai, pemerintah lemah secara fundamental karena tidak mengimplementasikan nilai dasar Pancasila, khususnya gotong royong, dalam kebijakan dan sistem pemerintahan modern.

“Karena ketika saya bisa ngomong apa adanya, apapun outcome-nya, saya bahagia. Saya ngomong apa adanya, ternyata enggak diterima, terlalu menyakitkan mulut saya, ya saya di luar (sistem),” ucap dia.

“Tapi ketika saya ngomong apa adanya malah kalimatnya, ‘wah kita butuh input-input seperti itu’. Asem, aku yo enggak iso lari, Rek. Rumangsamu enak to dadi pecinan ngono kuwi,” tambah dia.

Dalam proses wawancara, Noe mengungkapkan bahwa pewawancara menanyakan sikapnya jika atasan tidak menyetujui masukannya.

“(Jawaban saya) not my concern. Kewajiban saya dan tugas ini adalah menyampaikan apa adanya secara sejujur-jujurnya sepanjang pemahaman yang saya pahami. Jadi core view di tempat saya adalah objektivitas tugas saya,” ucap Noe.

Noe mengatakan, pada saat wawancara dirinya belum memutuskan untuk menerima atau menolak tawaran menjadi tenaga ahli.

Oleh karena itu, ia memilih bersikap apa adanya dan tetap menyampaikan pandangan secara terbuka seperti yang selama ini ia lakukan.

Sontak, dia berpikir akan menjadi ramai setelah menerima tawaran ini dan dilantik.

“Tes saya adalah menjadi diri saya sendiri ketika diwawancara. ‘Oh, pedes. Mulut saya pedes’. Tapi ternyata malah itu yang dibutuhkan. Well, menarik nih. Ada sebuah badan pemerintahan di mana enggak alergi ketika saya ngomong negatif,” kata dia.

“Dan saya ngomong negatif bukan karena cuman enggak senang aja. Ada dasarnya, ada buktinya, ada penelitiannya. Ya saya sampaikan. Dan kalau dasarnya jelas harusnya remediasinya juga ada, menyembuhkannya juga harusnya jelas,” tambah dia.

Menurut Noe, perbedaan mendasar antara bekerja dalam sistem pemerintahan dan berpikir dalam kerangka negara terletak pada jangka waktu dampak kebijakan, di mana kepentingan negara menuntut pertimbangan jangka panjang demi keberlanjutan bangsa.

Tag:  #letto #jawab #tuduhan #independensi #hilang #usai #dilantik #jadi #tenaga #ahli

KOMENTAR