Transisi Energi Diprediksi Membuka Banyak Lapangan Kerja, Apakah Generasi Muda Siap Mengisinya?
Saat dunia berpacu menekan emisi karbon dan beralih ke energi yang lebih bersih, generasi muda kerap disebut sebagai aktor penting dalam proses transisi energi. Mereka dianggap memiliki kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru, mendorong inovasi, dan membangun kesadaran publik mengenai krisis iklim.
Namun, di balik berbagai kampanye yang melibatkan anak muda, muncul pertanyaan: apakah mereka benar-benar dilibatkan dalam pengambilan keputusan, atau hanya menjadi simbol partisipasi?
Pertanyaan itu mengemuka dalam diskusi "Cheap and Clean Energy Now: Dari Persepsi ke Aksi, Dari Suara ke Kebijakan" yang diselenggarakan Generasi Energi Bersih bersama Yayasan Indonesia Bebas Emisi dan METI Energi Muda. Forum tersebut menyoroti bagaimana generasi muda dapat mengambil peran yang lebih substantif dalam transisi energi Indonesia.
Anak Muda Tidak Cukup Hanya Menjadi Simbol
Anggota Dewan Energi Nasional, Satya Widya Yudha, menilai keterlibatan generasi muda harus melampaui peran seremonial. Menurutnya, kebijakan energi nasional terbaru telah memasukkan penguatan sumber daya manusia sebagai salah satu fondasi transisi energi.
Karena itu, generasi muda perlu diposisikan sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar wajah kampanye.
Pandangan tersebut sejalan dengan hasil survei yang dilakukan Generasi Energi Bersih, METI Energi Muda, dan Yayasan Indonesia Bebas Emisi terhadap 903 responden. Sebagian besar responden berasal dari kelompok Gen Z dan milenial.
Survei tersebut menemukan bahwa 59,5 persen responden merasa selama ini hanya dilibatkan sebagai aktor seremonial dalam isu energi dan lingkungan. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara narasi tentang pentingnya peran anak muda dan ruang partisipasi yang benar-benar tersedia bagi mereka.
Transisi Energi Juga Soal Lapangan Kerja
Di sisi lain, transisi energi bukan hanya berbicara tentang pengurangan emisi atau pembangunan pembangkit energi terbarukan. Proses ini juga berpotensi menciptakan peluang ekonomi baru.
Plt Ketua Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Hendra Jaya, mengatakan pengembangan energi baru terbarukan dalam skala besar akan membutuhkan tenaga kerja dari berbagai sektor.
Rencana pemerintah untuk mendorong pembangunan pembangkit listrik tenaga surya hingga ratusan gigawatt, misalnya, tidak hanya membutuhkan insinyur dan teknisi. Sektor pendukung seperti manufaktur, logistik, konstruksi, teknologi digital, hingga komunikasi publik juga diperkirakan akan ikut berkembang.
Artinya, peluang bagi generasi muda tidak terbatas pada mereka yang memiliki latar belakang pendidikan energi atau teknik.
Secretary General METI Energi Muda, Anggi Renaldy Pratama, bahkan menilai banyak anak muda belum menyadari bahwa keterampilan yang mereka miliki saat ini sebenarnya dapat berkontribusi pada pengembangan energi bersih.
Perubahan Tidak Selalu Dimulai dari Teknologi Besar
Meski isu transisi energi sering dikaitkan dengan pembangunan infrastruktur besar dan investasi bernilai triliunan rupiah, sejumlah pembicara mengingatkan bahwa perubahan juga dapat dimulai dari tingkat individu.
Community Action Manager The Climate Reality Project Indonesia, Arifah Handayani, menekankan pentingnya perubahan perilaku sehari-hari sebagai bagian dari upaya menekan konsumsi energi dan emisi karbon.
Langkah-langkah sederhana seperti menggunakan pendingin ruangan secara lebih efisien, mengurangi konsumsi energi yang tidak diperlukan, atau memilih moda transportasi yang lebih ramah lingkungan dapat menjadi bagian dari transisi energi.
Pandangan serupa disampaikan Editor in Chief Jakarta Globe dan Investor Daily, Djaka Susila. Menurutnya, keputusan sehari-hari yang tampak kecil tetap memiliki dampak terhadap konsumsi energi secara keseluruhan.
Dari Kesadaran ke Kebijakan
Tantangan terbesar transisi energi mungkin bukan hanya soal teknologi atau pendanaan, tetapi bagaimana mengubah kesadaran menjadi tindakan kolektif.
Generasi muda saat ini merupakan kelompok yang akan paling lama merasakan dampak perubahan iklim sekaligus menikmati manfaat dari sistem energi yang lebih bersih. Karena itu, keterlibatan mereka menjadi penting, tidak hanya sebagai konsumen energi, tetapi juga sebagai inovator, pekerja, komunikator, dan pengambil keputusan di masa depan.
Temuan bahwa sebagian besar anak muda masih merasa menjadi pelengkap dalam isu energi menunjukkan bahwa ruang partisipasi yang lebih bermakna masih perlu dibuka. Sebab, transisi energi yang berkeadilan tidak hanya membutuhkan teknologi baru, tetapi juga generasi yang diberi kesempatan untuk ikut menentukan arah perubahan.
Penulis: Natasha Suhendra
Tag: #transisi #energi #diprediksi #membuka #banyak #lapangan #kerja #apakah #generasi #muda #siap #mengisinya