40 Persen Orang Kini Mulai Menghindari Berita, Ini Penyebabnya
Ilustrasi smartphone. Semakin banyak orang merasa stres dan kewalahan setelah terus-menerus membaca berita negatif.(Freepik/Freepik)
18:05
26 Mei 2026

40 Persen Orang Kini Mulai Menghindari Berita, Ini Penyebabnya

Semakin banyak orang mulai menjauh dari berita karena merasa lelah, cemas, hingga kewalahan menghadapi arus informasi negatif yang datang tanpa henti setiap hari.

Fenomena ini ternyata bukan sekadar rasa malas mengikuti isu terkini, melainkan respons alami otak manusia terhadap tekanan informasi modern.

Melansir The Conversation (25/5/2026), laporan Reuters Institute Digital News Report 2025 menemukan bahwa 40 persen orang di dunia kini setidaknya kadang-kadang menghindari berita. Di Kanada, angkanya bahkan mencapai 69 persen.

Banyak responden mengaku berita membuat suasana hati memburuk, merasa tidak berdaya, dan kewalahan menghadapi berbagai krisis global yang terus muncul.

Kondisi ini berkaitan dengan cara kerja otak manusia yang sejak awal memang lebih sensitif terhadap ancaman.

Baca juga: Hampir 1,2 Miliar Orang di Dunia Alami Gangguan Mental, Anak Muda Paling Terdampak

Otak manusia lebih mudah fokus pada hal negatif

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai negativity bias, yaitu kecenderungan otak memberi perhatian lebih besar pada informasi negatif dibanding positif.

Selama ribuan tahun, manusia bertahan hidup dengan cara peka terhadap ancaman.

Di masa lalu, kemampuan cepat merespons bahaya membantu manusia bertahan hidup. Namun kini, sistem yang sama harus menghadapi banjir informasi global setiap hari.

Sebelum siang hari tiba, seseorang bisa membaca soal perang, bencana iklim, krisis ekonomi, hingga kriminalitas dari berbagai negara sekaligus melalui ponsel mereka.

Padahal, otak manusia tidak pernah dirancang untuk memproses ancaman dalam skala sebesar itu.

Baca juga: Bukan Cuma Hemat, Memasak di Rumah Ternyata Baik untuk Mental dan Jantung

Berita negatif lebih mudah menarik perhatian

Ilustrasi ponsel. Semakin banyak orang merasa stres dan kewalahan setelah terus-menerus membaca berita negatif.Freepik/Freepik Ilustrasi ponsel. Semakin banyak orang merasa stres dan kewalahan setelah terus-menerus membaca berita negatif.

Artikel itu juga mengutip studi dalam jurnal Nature Human Behaviour yang menganalisis lebih dari 105.000 judul berita.

Hasilnya menunjukkan bahwa setiap tambahan kata bernada negatif dalam judul berita meningkatkan kemungkinan orang mengklik berita tersebut. Sebaliknya, kata positif justru menurunkan tingkat klik.

Penelitian lain juga menemukan tubuh manusia memberi respons fisiologis lebih kuat terhadap berita negatif dibanding berita positif.

Artinya, tubuh sering kali bereaksi terhadap ancaman bahkan sebelum otak memutuskan apakah informasi itu benar-benar relevan atau tidak.

Baca juga: Ponsel Tanpa Media Sosial Tetap Bisa Berdampak pada Kesehatan Mental

News fatigue bisa berdampak pada kesehatan mental

Sejumlah peneliti kemudian memperkenalkan istilah Problematic News Consumption (PNC), yaitu pola konsumsi berita yang menyebabkan gangguan emosi, stres, hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dalam studi tahun 2022 yang dikutip artikel tersebut, sebanyak 17 persen orang dewasa di Amerika Serikat mengalami tingkat PNC berat.

Di kelompok ini, 61 persen responden mengaku sering merasa tidak sehat secara mental. Sementara pada kelompok yang tidak mengalami PNC, angkanya hanya sekitar 6 persen.

Dampaknya disebut bisa lebih berat bagi kelompok minoritas atau imigran, terutama ketika berita yang muncul berkaitan dengan konflik atau kondisi di negara asal mereka.

Meski begitu, sepenuhnya berhenti membaca berita bukan solusi yang tepat.

Sebaliknya, yang perlu dilakukan adalah mengatur cara mengonsumsi berita agar tidak memicu kelelahan mental.

Cara mengurangi news fatigue menurut psikolog

Terdapat beberapa langkah sederhana untuk membantu mengurangi kelelahan akibat berita.

Salah satunya adalah membatasi waktu membaca berita dalam jam tertentu, bukan terus-menerus sepanjang hari.

Selain itu, pembaca disarankan memilih laporan mendalam dari sumber terpercaya dibanding terus melihat potongan informasi acak di media sosial.

Kenali konten rage bait, yaitu unggahan yang sengaja dibuat untuk memancing kemarahan demi meningkatkan interaksi di media sosial.

Berita mungkin tidak akan menjadi lebih ringan, tetapi hubungan kita dengan berita bisa menjadi lebih sehat dan lebih sadar.

Baca juga: Psikolog Ungkap Ucapan Kakek dan Nenek yang Bisa Melukai Cucu Tanpa Disadari

Tag:  #persen #orang #kini #mulai #menghindari #berita #penyebabnya

KOMENTAR