Bukan Hanya Perempuan, Pria Juga Bisa Alami Man-opause di Usia 20-an
- Seiring bertambahnya usia, berkurangnya hormon reproduksi sering kali hanya diidentikkan dengan fase menopause yang dialami oleh perempuan.
Padahal, pria juga mengalami proses penurunan biologis serupa yang terbukti berdampak besar pada kualitas hidup, serta kebugaran tubuh mereka.
Penurunan fungsi sistem endokrin pada pria ini umumnya mulai terjadi secara alami dan perlahan saat mereka memasuki usia paruh baya.
Baca juga: Bukan Cuma untuk Vitalitas Pria, Ini Peran Penting Hormon Testosteron
Sayangnya, spesialis urologi dari Dermalogia Kind Clinic dr. Wempy Supit, Sp.U, FACS mengungkap, gaya hidup modern yang serba cepat, kurang gerak, dan penuh tekanan mental, justru membuat fenomena ini menyerang kelompok usia yang jauh lebih muda.
"Jadi kalau lihat tren sekarang, yang umur 20-an, sekarang mungkin ini kenyataan (mengalami man-opause). Karena hormonnya sendiri sudah seperti hormon orangtua," tutur dia dalam talkshow Canisius Health Expo 2026 di Jakarta, Minggu (24/5/2026).
Fenomena man-opause dini, ancaman bagi pria usia produktif
Penyebab pergeseran usia penurunan hormon pria
Kondisi menurunnya hormon testosteron pada pria ini dikenal dengan istilah andropause, atau man-opause. Kondisi ini tidak lagi hanya menjadi masalah bagi pria berusia lanjut, melainkan sudah mulai mengintai mereka yang masih berada di usia produktif.
Pemicu utama dari pergeseran usia man-opause ini sangat erat kaitannya dengan rutinitas keseharian pria modern yang sangat melelahkan.
Tingkat stres tinggi yang dipadukan dengan asupan gizi yang buruk mempercepat proses penuaan dari dalam tubuh.
"Ternyata macam-macam ya, karena psychologic stress, karena radiasi (gawai), terus udah gitu unhealthy food, terus kemudian pollutants dan lain-lain, sehingga terjadi yang kita bilang inflamasi dan aging," papar dr. Wempy.
Mengenali tanda skinny fat sebagai indikator masalah hormon
Salah satu tanda paling nyata dari kekacauan hormon testosteron pada pria muda dapat dilihat secara kasatmata melalui perubahan komposisi tubuh mereka.
Baca juga: Hormon DHT Jadi Penyebab Utama Kebotakan Pria, Dokter Jelaskan Cara Mencegahnya
Dokter Wempy mengatakan, banyak pemuda yang dari luar tampak memiliki postur tubuh normal atau kurus, tetapi pada kenyataannya menimbun lemak visceral yang sangat berbahaya di area perut.
Padahal, lemak tersembunyi ini sangat berisiko bagi kesehatan tubuh. Alhasil, perut mereka buncit, meskipun mereka tampak langsing.
"Ini yang kita bilang skinny fat. Jadi, skinny tapi lihat (punya) fat belly. Ini ternyata ada problem juga dengan endokrin dan hormones," jelas dia.
Tumpukan lemak sentral di perut ini merupakan sinyal bahaya bahwa sistem metabolisme sedang tidak berjalan dengan baik akibat ketersediaan hormon yang tidak stabil.
"Begitu dicek, metabolic problem. There has to be a problem, entah free testosteron, total testosteron, atau sex hormone-binding globulin," sambung dr. Wempy.
Dampak penurunan testosteron terhadap kesehatan mental
Selain merombak komposisi fisik, menurunnya kadar testosteron di usia belia juga sangat memengaruhi kondisi psikologis dan keseimbangan mental pria.
Ketidakseimbangan hormon ini terbukti memicu penurunan motivasi kerja, meruntuhkan rasa percaya diri, hingga membuat pria menjadi jauh lebih mudah tersinggung.
"Lower motivation, confidence, competitiveness itu berubah. Lebih gampang depresi, irritable, burnout, nervous, anxiety," tutur dr. Wempy.
Tingkat energi yang terkuras habis membuat pria kehilangan antusiasme dalam bersosialisasi dan sering kali terlihat kelelahan secara kronis, meskipun mereka tidak sedang melakukan aktivitas fisik yang berat.
"Mood-nya jelek sekali bahkan sebelum kita dengar dia ngomong, kita baru lihat raut wajahnya. Atau very tired. Dikit-dikit diajak (beraktivitas) juga sudah capek," kata dr. Wempy.
Oleh karena itu, evaluasi gaya hidup secara menyeluruh bagi pria muda yang mulai merasakan gejala-gejala tersebut sangat ditekankan guna mencegah memburuknya fungsi organ di masa depan.
"Something's wrong dengan lifestyle. Screen time, lack of exercise. So it's not a good thing," pungkas dia.
Baca juga: 7 Makanan Penambah Hormon Testosteron untuk Pria
Tag: #bukan #hanya #perempuan #pria #juga #bisa #alami #opause #usia