Saham BBCA Diborong Asing Rp 387 Miliar Saat IHSG Melemah
– Investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 387,96 miliar pada perdagangan Kamis (11/6/2026).
Aksi akumulasi tersebut terjadi di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih dibayangi tekanan jual.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup turun 15,86 poin atau 0,27 persen ke level 5.886,03 pada Kamis (11/6/2026). Pada saat yang sama, investor asing masih membukukan jual bersih sebesar Rp 252,65 miliar di seluruh pasar.
Baca juga: Asing Net Sell Rp 78,33 Triliun, Analis Sarankan Investor Ritel Akumulasi Saham Selektif
Meski demikian, investor asing tetap mengakumulasi sejumlah saham pilihan. Saham BBCA menjadi saham dengan pembelian bersih terbesar, disusul PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp 97,18 miliar dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebesar Rp 87,77 miliar.
Masuknya dana asing turut mendorong penguatan harga saham BBCA. Saham emiten perbankan tersebut naik 3,1 persen atau Rp 175 menjadi Rp 5.825 per saham pada penutupan perdagangan.
Kenaikan itu sekaligus memperpanjang tren penguatan saham BBCA selama tiga hari berturut-turut.
Tidak hanya menjadi saham dengan net buy asing terbesar, saham BBCA juga mencatatkan nilai transaksi tertinggi di pasar reguler.
Nilai transaksi saham perseroan mencapai Rp 3,17 triliun atau sekitar 14,25 persen dari total nilai transaksi saham di BEI sepanjang hari perdagangan.
Baca juga: BCA (BBCA) Lanjutkan Buyback Saham di Tengah Penguatan Sektor Perbankan
Valuasi Dinilai Masih Menarik
Minat investor terhadap saham BBCA muncul di tengah pandangan sejumlah analis yang menilai valuasi saham sektor perbankan masih relatif menarik.
BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA dengan target harga Rp 10.900 per saham.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan menilai, valuasi BBCA saat ini berada di kisaran mendekati minus dua standar deviasi (-2SD) dibandingkan rata-rata price to book value (P/BV) selama 10 tahun terakhir yang berada di level 2,1 kali.
"Kondisi tersebut dinilai menciptakan ruang valuasi yang menarik bagi investor. Selain itu, posisi BBCA sebagai bank dengan franchise yang kuat dan neraca keuangan yang dominan dinilai mampu memberikan bantalan terhadap pandangan pertumbuhan yang lebih moderat," tulis Erindra dalam riset tertanggal 2 Juni 2026.
Menurutnya, posisi fundamental BCA yang kuat membuat perseroan tetap memiliki daya tarik di tengah dinamika pasar yang masih berlangsung.
Baca juga: IHSG Terkoreksi Tipis, Asing Serok Saham TLKM, BBCA, TPIA, Hingga ANTAM
Buyback dan Dividen Perkuat Sentimen
Sentimen positif terhadap saham BBCA juga datang dari aksi korporasi yang tengah dijalankan perseroan.
Bank swasta terbesar di Indonesia itu kembali merealisasikan program pembelian kembali (buyback) saham pada Kamis (11/6/2026), melanjutkan program yang telah diumumkan sebelumnya.
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong mengatakan, pelaksanaan buyback merupakan bentuk keyakinan perseroan terhadap prospek pasar modal Indonesia sekaligus mencerminkan optimisme terhadap fundamental perusahaan.
"Pelaksanaan buyback merupakan sinyal optimisme kami di pasar modal Indonesia. Aksi korporasi ini juga sudah mempertimbangkan kondisi fundamental perseroan," ujar Hendra, Kamis.
Baca juga: IHSG Terkoreksi Tipis, Asing Serok Saham TLKM, BBCA, TPIA, Hingga ANTAM
BCA menyiapkan dana maksimal Rp 5 triliun untuk program buyback tersebut, termasuk biaya transaksi terkait. Program ini akan berlangsung selama 12 bulan, mulai 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027, kecuali dihentikan lebih awal sesuai ketentuan yang berlaku.
Manajemen menyatakan pelaksanaan buyback tidak akan memberikan dampak material terhadap kondisi keuangan maupun kegiatan operasional perseroan. Seluruh proses juga dilakukan dengan tetap mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik.
Selain buyback, BBCA juga akan membagikan dividen interim termin pertama sebesar Rp 20 per saham.
Dividen tersebut dijadwalkan dibayarkan pada 26 Juni 2026. Adapun cum dividen di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 15 Juni 2026.
Pembagian dividen itu didukung oleh kinerja keuangan perseroan yang tetap solid pada kuartal I-2026. Hingga Maret 2026, BCA membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 14,68 triliun.
Pada periode yang sama, perseroan mencatat saldo laba ditahan sebesar Rp 239,07 triliun dan total ekuitas mencapai Rp 259,35 triliun.
Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul Dana Asing Masuk Rp 387 Miliar ke BBCA, Buyback dan Dividen Jadi Penopang Sentimen
Tag: #saham #bbca #diborong #asing #miliar #saat #ihsg #melemah