Ponsel Tanpa Media Sosial Tetap Bisa Berdampak pada Kesehatan Mental
Ilustrasi main HP. Komunikasi digital sehari-hari seperti notifikasi dan pesan teks ternyata bisa memicu stres dan membuat seseorang merasa lebih kesepian, meski tanpa media sosial.(Unsplash)
20:05
26 April 2026

Ponsel Tanpa Media Sosial Tetap Bisa Berdampak pada Kesehatan Mental

Banyak orang mengira dampak buruk ponsel hanya datang dari media sosial.

Padahal, komunikasi digital sehari-hari seperti pesan teks dan notifikasi juga bisa memicu stres tanpa disadari.

Melansir The Guardian (25/4/2026), profesor Kesehatan Masyarakat Global dari University of Edinburgh, Devi Sridhar, menjelaskan bahwa penggunaan ponsel membuat seseorang berada dalam kondisi “selalu siaga” yang melelahkan secara mental.

Baca juga: Manfaat Digital Detox, Mematikan Internet di Ponsel demi Kesehatan Mental

Tekanan notifikasi membuat otak terus bekerja

Perubahan cara berkomunikasi menjadi salah satu faktor utama meningkatnya tekanan mental.

Jika dulu interaksi lebih banyak dilakukan secara langsung, kini komunikasi berlangsung terus-menerus lewat pesan digital.

Sridhar menjelaskan bahwa notifikasi yang muncul di ponsel dapat langsung memicu respons stres, bahkan sebelum pesan dibaca.

Setiap notifikasi juga menuntut keputusan kecil, seperti membalas sekarang atau nanti. Jika terjadi berulang kali dalam sehari, kondisi ini dapat menyebabkan kelelahan kognitif.

Akibatnya, seseorang merasa lelah secara mental meski tidak melakukan aktivitas fisik berat.

Baca juga: 9 Kebiasaan Pagi yang Bisa Mengubah Hidup, Jangan Langsung Cek Ponsel

Interaksi digital lebih rentan disalahartikan

Ilustrasi media sosial. Komunikasi digital sehari-hari seperti notifikasi dan pesan teks ternyata bisa memicu stres dan membuat seseorang merasa lebih kesepian, meski tanpa media sosial.Freepik Ilustrasi media sosial. Komunikasi digital sehari-hari seperti notifikasi dan pesan teks ternyata bisa memicu stres dan membuat seseorang merasa lebih kesepian, meski tanpa media sosial.

Komunikasi melalui layar juga menghilangkan banyak unsur penting dalam interaksi manusia.

Ekspresi wajah, intonasi suara, dan bahasa tubuh tidak dapat tersampaikan secara utuh dalam pesan teks. Hal ini membuat komunikasi digital lebih mudah menimbulkan kesalahpahaman.

Penelitian yang dikutip dalam tulisan tersebut menunjukkan bahwa hari dengan intensitas pesan teks tinggi berkaitan dengan tingkat stres yang lebih tinggi.

Sebaliknya, interaksi langsung cenderung membuat seseorang merasa lebih positif.

Temuan serupa juga muncul dalam tinjauan studi tahun 2026 yang membandingkan komunikasi digital dan tatap muka.

Hasilnya menunjukkan kesejahteraan mental lebih baik saat seseorang berinteraksi langsung dibanding melalui layar.

Baca juga: 6 Kebiasaan Kecil yang Bisa Bikin Hubungan Lebih Bahagia, Termasuk Membatasi Penggunaan Ponsel

Fitur “dibaca” bisa memicu rasa ditolak

Fitur sederhana seperti tanda pesan sudah dibaca ternyata memiliki dampak psikologis yang besar.

Menurut Sridhar, pesan yang tidak segera dibalas dapat memicu apa yang disebut sebagai “rasa sakit sosial”.

Kondisi ini melibatkan bagian otak yang sama dengan rasa sakit fisik, seperti anterior cingulate cortex dan insula.

Situasi seperti tidak dibalas atau diabaikan dapat memunculkan perasaan ditolak. Fenomena ini juga terlihat dalam kebiasaan ghosting, yaitu menghilang tanpa penjelasan dalam komunikasi.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan stres, detak jantung, hingga tekanan darah.

Bahkan, pesan yang hanya dibiarkan tanpa balasan dalam waktu singkat dapat menimbulkan “penolakan kecil” yang berdampak emosional.

Tekanan untuk selalu merespons semakin besar

Selain rasa ditolak, banyak orang juga merasakan tekanan untuk selalu merespons pesan dengan cepat.

Fitur seperti status online, tanda sedang mengetik, hingga waktu terakhir aktif membuat seseorang merasa harus selalu hadir. Jika tidak merespons, muncul kekhawatiran dianggap tidak sopan atau menjauh.

Kondisi ini menciptakan lingkungan komunikasi yang menuntut keterlibatan terus-menerus. Akibatnya, batas antara waktu kerja dan waktu pribadi menjadi semakin kabur.

Baca juga: 9 Gaya Hidup Sehat ala Jeff Bezos, Termasuk Bebas Ponsel di Pagi Hari

Koneksi meningkat, tapi rasa kesepian juga naik

Ironisnya, meski komunikasi semakin mudah, tingkat stres dan kesepian justru meningkat secara global.

Sridhar menilai hal ini terjadi karena sistem saraf manusia tidak dirancang untuk menghadapi komunikasi digital yang terus-menerus.

Otak manusia lebih terbiasa dengan interaksi langsung dalam kelompok kecil. Sementara itu, komunikasi digital menghadirkan tekanan yang konstan tanpa jeda.

“Kita lebih terhubung dari sebelumnya, tetapi juga lebih stres dan merasa kesepian,” tulis Sridhar.

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa penggunaan ponsel, bahkan tanpa media sosial, tetap perlu dikelola dengan bijak agar tidak berdampak pada kesehatan mental.

Baca juga: Cara Efektif Mengurangi Waktu Bermain Ponsel

Tag:  #ponsel #tanpa #media #sosial #tetap #bisa #berdampak #pada #kesehatan #mental

KOMENTAR