Cara Pandang Terhadap Candaan Seksual Dibentuk di Rumah
- Percakapan bernada seksual di grup obrolan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia viral beberapa hari terakhir. Ruang digital yang semuanya diisi oleh laki-laki itu bertransformasi menjadi arena pelecehan verbal dan obyektifikasi terhadap mahasiswi dan dosen perempuan.
Banyak pihak mempertanyakan bagaimana sekelompok mahasiswa hukum bisa dengan mudah melontarkan obrolan yang melecehkan perempuan.
Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Syaifudin, M.Kesos, menjelaskan bahwa perilaku tersebut bukan muncul begitu saja, melainkan imbas dari proses sosialisasi keliru yang ditoleransi.
"Cara pandang seseorang terhadap candaan seksual tidak terbentuk secara tiba-tiba, melainkan melalui proses sosialisasi yang panjang di lingkungan keluarga dan pertemanan," kata Syaifudin yang merupakan dosen Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNJ ini, saat dihubungi pada Kamis (16/4/2026).
Baca juga: Perlu Tahu, Ini Bentuk-bentuk Pelecehan Seksual, dari Catcalling, Lirikan, hingga Komentar Unggahan
Kebiasaan di rumah yang dinormalisasi
Pemahaman mengenai batasan etika, empati, dan penghormatan terhadap privasi sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat individu tumbuh. Proses internalisasi nilai secara konstan ini perlahan membentuk sebuah habitus.
Dalam sosiologi, habitus membuat seseorang secara spontan merespons sesuatu berdasarkan pengalaman sosial yang terus berulang.
Kebiasaan merendahkan pihak lain yang telanjur ditoleransi bertahun-tahun pada akhirnya dianggap sebagai sebuah kewajaran.
Rumah sebagai "sekolah" pertama soal etika gender
Lingkungan keluarga memegang peran penting dalam menentukan cara pandang dasar seorang anak terhadap relasi antargender.
"Keluarga sebagai agen sosialisasi primer berperan dalam menanamkan nilai, norma, dan persepsi tentang relasi gender," ujar Syaifudin.
Baca juga: Kenapa Pelecehan Seksual di Grup Chat Dianggap Bercanda? Sosiolog Soroti Ruang Aman yang Salah
Sikap permisif orangtua terhadap candaan yang merendahkan perempuan bisa berdampak buruk bagi pembentukan karakter empati anak di masa depan. Ketiadaan batasan dari orangtua membuat anak kehilangan kompas moralnya.
"Ketika dalam keluarga terdapat toleransi terhadap humor yang merendahkan perempuan, atau tidak ada penegasan batas etika, individu cenderung menginternalisasi hal tersebut sebagai sesuatu yang biasa," jelas dia.
Ketiadaan figur otoritas di rumah yang bersedia mengoreksi tutur kata keliru tersebut akan membuat perilaku anak mengendap menjadi refleks otomatis saat ia bersosialisasi.
"Dalam kerangka habitus, pengalaman berulang ini membentuk disposisi yang membuat seseorang secara spontan menganggap candaan seksual sebagai hal lumrah," lanjut Syaifudin.
Baca juga: Sosiolog: Obrolan Seksual di Grup Chat Pria Bukan Hal Wajar
Dilema "ingin diterima" dalam lingkaran pertemanan pria
Pola pikir yang terbentuk dari rumah tersebut kemudian diperkuat secara masif ketika anak masuk ke pergaulan sebayanya.
Di lingkungan sosial, pola pikir tersebut bisa semakin kuat karena pengaruh dari teman-temannya, atau sebaliknya teman-temannya terpengaruh oleh individu tersebut, yang memperluas pola pikir itu.
Di dalam sebuah kelompok pertemanan pria yang eksklusif seperti ini, kebutuhan untuk diakui secara sosial sering kali mendesak anggota untuk mengabaikan prinsip pribadinya.
"Dalam kelompok sebaya, terdapat dorongan kuat untuk menyesuaikan diri agar diterima, termasuk dengan mengikuti pola humor yang dominan," terang Syaifudin.
Dalam konteks budaya patriarki, candaan bernuansa pelecehan dijadikan sebagai cara untuk "membuktikan kejantanan" agar tidak mendapat stigma lemah dari teman satu grup.
"Konsep hegemonic masculinity menjelaskan bahwa laki-laki sering didorong untuk menunjukkan identitas maskulin melalui candaan yang menegaskan dominasi terhadap perempuan," imbuh Syaifudin.
Baca juga: Diamnya Korban Kekerasan Seksual Apakah Berarti Consent?
Respons positif dari teman melegitimasi perilaku keliru
Candaan yang merendahkan perempuan, misalnya, jadi terasa wajar ketika disambut tawa atau anggukan setuju. Lama-kelamaan, batas antara sekadar bercanda dan pelecehan pun menjadi semakin kabur.
Ketika dalam satu kelompok memiliki pandangan yang sama, meski keliru, dapat muncul fenomena groupthink, di mana kritik atau teguran terhadap candaan seksis sengaja ditekan demi menjaga kekompakan.
Selain itu, tanggung jawab moral dirasakan tersebar merata ke seluruh peserta obrolan (diffusion of responsibility). Akibatnya, tidak ada satu pun anggota yang merasa murni bersalah dan bersedia meluruskan batasan etika.
"Dengan demikian, normalisasi tersebut merupakan hasil interaksi antara nilai keluarga dan tekanan sosial dalam pertemanan yang terus direproduksi tanpa refleksi kritis," pungkas Syaifudin.
Baca juga: Marak Kekerasan Seksual di Ruang Digital, Pemerintah Perketat Pengawasan Platform Digital
Tag: #cara #pandang #terhadap #candaan #seksual #dibentuk #rumah