Anak Sulit Lepas dari HP, Ini Perilaku yang Perlu Diwaspadai Orangtua Menurut Psikolog
Di era digital, gawai sudah menjadi bagian dari keseharian banyak keluarga.
Anak-anak pun tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan layar, mulai dari menonton video, bermain gim, hingga belajar melalui aplikasi digital.
Namun, ketika penggunaan gawai mulai sulit dikendalikan, orangtua perlu memberi perhatian lebih.
Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia, Ratriana Naila Syafira, menjelaskan bahwa ada sejumlah perilaku anak yang patut diwaspadai ketika mereka terlalu sering bermain gawai.
Menurut Ratriana, salah satu tanda paling awal terlihat ketika anak tidak mau melepaskan gawai dan menunjukkan reaksi emosional yang kuat saat perangkat tersebut diambil.
“Perkembangan otak pada masa balita terutama yang berkaitan dengan bahasa, emosi, dan relasi sosial itu bergantung pada interaksi langsung. Jika paparan gawai tidak ada batasan, dampaknya bisa cukup signifikan,” ujarnya dikutip dari ANTARA, Kamis (9/4/2026).
Baca juga: Penggunaan Gawai Dikaitkan dengan Memburuknya Kesehatan Mental Remaja
Perilaku ini biasanya tidak berhenti pada keengganan berhenti bermain.
Anak juga dapat menunjukkan kemarahan berlebihan ketika orangtua mulai menerapkan aturan penggunaan gawai atau menawarkan aktivitas lain di luar layar.
Pada beberapa kasus, anak bahkan tampak tidak tertarik lagi pada permainan fisik, aktivitas kreatif, atau interaksi sederhana dengan orang di sekitarnya.
Bila dibiarkan, kebiasaan tersebut dapat mengganggu rutinitas sehari-hari seperti makan, mandi, hingga waktu tidur.
Pada anak usia sekolah, dampaknya bisa berkembang menjadi gangguan konsentrasi yang memengaruhi kegiatan belajar dan prestasi akademik.
Baca juga: Pembatasan Gawai pada Anak Tak Cukup dengan Aturan, Peran Keluarga Penting
Ketika layar lebih menarik daripada interaksi langsung
Menurut Ratriana, anak usia balita sangat membutuhkan stimulasi dua arah untuk mendukung tumbuh kembangnya.
Interaksi seperti berbicara, mendengar respons, menunggu giliran bicara, hingga membaca ekspresi wajah merupakan bagian penting dalam membangun kemampuan sosial.
Sebaliknya, layar cenderung memberikan stimulasi satu arah yang membuat anak terbiasa menerima hiburan secara instan.
Akibatnya, anak bisa menjadi lebih sulit mempertahankan kontak mata, kurang responsif dalam komunikasi langsung, dan mudah frustrasi ketika tidak mendapatkan rangsangan cepat seperti yang biasa diperoleh dari layar.
“Padahal kemampuan-kemampuan ini adalah fondasi dari empati dan keterampilan sosial di kemudian hari,” jelasnya.
Kondisi ini juga dapat membuat anak lebih sulit fokus saat melakukan aktivitas tanpa bantuan visual atau suara dari perangkat digital.
Baca juga: Pembatasan Gawai pada Anak Tak Cukup dengan Aturan, Peran Keluarga Penting
Gawai bukan musuh, tetapi perlu aturan jelas
Meski demikian, Ratriana menilai gawai tidak bisa sepenuhnya dijauhkan dari kehidupan anak masa kini.
Anak yang lahir di era digital akan tetap berinteraksi dengan teknologi, sehingga yang lebih penting adalah cara orangtua mendampingi penggunaannya.
Jika keluarga menerapkan batasan screen time, aturan tersebut sebaiknya dijelaskan secara konsisten dan disertai alternatif kegiatan yang menarik.
Penggunaan gawai juga dianjurkan bersifat interaktif, misalnya dengan mendampingi anak menonton lalu mengajak berdiskusi, bukan membiarkan anak menatap layar sendirian dalam waktu lama.
Menurutnya, durasi penggunaan gawai sebaiknya tidak melebihi waktu interaksi langsung antara anak dan orangtua.
Semakin banyak kesempatan anak berbicara, bermain, dan terlibat dalam aktivitas nyata, semakin baik pula perkembangan sosial emosinya.
Peran aturan digital semakin diperkuat
Di sisi lain, pemerintah juga mulai memperkuat perlindungan anak di ruang digital melalui Pemerintah Indonesia lewat kebijakan Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP Tunas yang mulai berlaku pada 28 Maret 2026.
Aturan ini membatasi akses anak terhadap sejumlah platform digital berisiko tinggi seperti YouTube, TikTok, Instagram, dan Roblox.
Bagi orangtua, aturan tersebut dapat menjadi pengingat bahwa pendampingan digital bukan lagi pilihan, melainkan bagian penting dari pola asuh modern.
Tag: #anak #sulit #lepas #dari #perilaku #yang #perlu #diwaspadai #orangtua #menurut #psikolog