Alami Momen Canggung di Hadapan Orang? Menertawakan Diri Sendiri Bisa Mengubah Suasana
- Pernahkah kamu tersandung kaki sendiri, tanpa sengaja menabrak pintu kaca, atau kentut saat mengikuti kelas yoga?
Alih-alih merasa malu hingga wajah memerah, cobalah untuk segera menertawakan momen canggung tersebut.
Merespons kecerobohan dengan humor terbukti membuatmu terlihat lebih hangat, kompeten, dan jauh lebih otentik di mata orang lain, dibandingkan jika kamu terus merasa bersalah setelahnya.
Baca juga: LDR Berakhir, Begini Cara Menjalani Transisi Hubungan agar Tak Canggung
“Untuk kesalahan sosial yang tidak berbahaya, menertawakan diri sendiri sering kali membuat kamu terlihat lebih baik daripada tersipu malu atau menunjukkan rasa malu,” kata asisten profesor di Cornell University SC Johnson School of Business, Övül Sezer, melansir The Times, Rabu (8/4/2026).
“Mengakui kesalahanmu dan tertawa lebih dulu dapat sepenuhnya mengubah suasana ruangan. Kamu berubah dari dihakimi, menjadi sosok yang manusiawi,” lanjut dia.
Efektivitas tawa dibandingkan rasa malu yang berlebihan
Sebuah penelitian mendalam yang diterbitkan pada akhir Februari 2026 di Journal of Personality and Social Psychology terinspirasi secara langsung oleh ketertarikan Sezer pada bidang manajemen kesan (impression management).
Ia menelaah secara saksama bagaimana perilaku kecil mampu membentuk cara orang lain memandang karakter seseorang.
Secara akademis, para peneliti telah lama menyadari bahwa rasa malu merupakan fenomena sosial yang berguna untuk menunjukkan rasa penyesalan.
Namun, pengalaman Sezer saat tampil sebagai komika stand-up memperlihatkan realitas yang sedikit berbeda.
Di atas panggung, ia membuktikan bahwa langkah yang sering kali jauh lebih baik adalah menikmati momen canggung tersebut dan melepaskan tawa ringan.
Humor sebagai sinyal positif penerimaan diri
Dalam studi tersebut, para peneliti merancang enam eksperimen yang melibatkan lebih dari 3.000 peserta untuk menilai reaksi individu saat melakukan kesalahan sepele, seperti tak sengaja menjatuhkan gelas di restoran.
Baca juga: 3 Cara Memulai Percakapan di Dating App, Anti Canggung
Ilustrasi tertawa. Kebiasaan saling mengerjai saat April Fools ternyata punya penjelasan dari sisi psikologi dan cara kerja otak.
Sebagian individu merespons dengan raut panik, sedangkan yang lain merespons santai dengan menertawakan diri sendiri. Hasilnya, mereka yang tertawa dinilai secara signifikan lebih positif dalam berbagai aspek.
“Menertawakan diri sendiri menandakan penerimaan diri, dan kita menyukai orang yang menerima diri mereka sendiri,” ungkap Sezer.
Kemampuan membalas dengan humor menunjukkan bahwa kamu tidak terlalu memusingkan penilaian orang lain.
Mencairkan suasana
Tawa juga mengirimkan pesan psikologis yang menenangkan bagi siapa pun di dekatmu. Temuan ini sejalan dengan apa yang diamati oleh psikolog klinis di Los Angeles, Amerika Serikat, Ildiko Tabori.
Baca juga: 7 Tips agar Basa-basi Tidak Terasa Canggung
Saat bekerja dengan pelawak di Laugh Factory Hollywood, ia menyebut panggung stand-up seperti "laboratorium" nyata untuk dinamika sosial. Pelawak yang tertawa berhasil meredakan ketegangan dan memancarkan rasa percaya diri.
“Itu memungkinkan penonton untuk menertawakan mereka juga. Itu memberi mereka (audiens) izin untuk memiliki respons manusiawi (tertawa)," tutur Tabori.
Menyesuaikan reaksi agar tidak berlebihan
Penelitian turut mengungkap bahwa para responden selalu menilai kesalahan sehari-hari sebagai sesuatu yang tidak berbahaya.
Ilustrasi tertawa. Tradisi April Fools ternyata dirayakan dengan cara yang berbeda di tiap negara, dari yang sederhana hingga yang unik.
Jika mereka terlihat sangat malu, ketidaksesuaian reaksi tersebut justru memancarkan rasa tidak aman (insecure) yang terlampau tinggi.
“Rasa malu menandakan kesadaran diri yang meningkat, dan terlihat seperti kamu terlalu fokus pada bagaimana kamu dinilai,” ucap Sezer.
Baca juga: Kurang Bonding Bikin Hubungan Orangtua dan Anak Terasa Canggung
Tertawa menyampaikan pesan bahwa kamu mengerti kesalahan itu sepele dan tidak butuh celaan diri yang dramatis. Reaksi yang proporsional inilah yang sesungguhnya memenangkan hati publik.
Bijak membaca situasi
Kendati demikian, ada hal penting yang tidak boleh terlewatkan, yakni kepekaan dalam membaca situasi. Tawa hanya dinilai positif jika kesalahanmu sama sekali tidak merugikan orang lain.
Jika kamu tersandung dan membuat rekan kerja terjatuh hingga tangannya patah, tertawa adalah reaksi yang tidak pantas.
Hal serupa berlaku jika kamu mengucapkan selamat hamil kepada seorang wanita, lalu baru menyadari bahwa ia tidak mengandung.
“Jika orang lain terluka, tawa tidak lagi terlihat percaya diri. Itu justru terlihat tidak peka, karena menandakan pengabaian. Kuncinya adalah mencocokkan reaksimu dengan keseriusan momen tersebut,” jelas Sezer.
Ketika seseorang dirugikan, fokus responden berubah dari simpati menjadi evaluasi moral. Dalam eksperimen, mereka menilai seseorang yang tertawa setelah melukai rekannya, memiliki moral yang lebih rendah, karena dianggap tidak memahami konsekuensi dari tindakannya.
Tag: #alami #momen #canggung #hadapan #orang #menertawakan #diri #sendiri #bisa #mengubah #suasana