Meta dan YouTube Digugat, Disebut Picu Kecanduan dan Bahayakan Kesehatan Mental Remaja
- Dua raksasa teknologi, Meta dan YouTube, menjadi sorotan setelah juri di Los Angeles, Amerika Serikat, menyatakan keduanya bertanggung jawab atas produk yang dinilai bersifat adiktif dan berdampak buruk pada generasi muda.
Dalam putusan tersebut, juri menilai kedua perusahaan telah lalai serta gagal memberikan peringatan yang memadai terkait potensi bahaya dari platform mereka.
Kasus ini menjadi salah satu gugatan pertama yang secara khusus menyoroti dampak media sosial terhadap kesehatan mental anak dan remaja.
Baca juga: Pemerintah Resmi Batasi Akses Medsos Anak di Bawah 16 Tahun, dari YouTube hingga Roblox
Seorang penggugat yang dikenal dengan inisial KGM mengaku mulai kecanduan YouTube sejak usia enam tahun dan Instagram di usia sembilan tahun.
Ia menyebut penggunaan media sosial tersebut berdampak buruk pada kesehatan mentalnya, bahkan memicu depresi dan perilaku menyakiti diri.
Produk Meta dan YouTube disebut picu kecanduan pada remaja
Fitur tanpa batas yang membuat pengguna sulit berhenti
Salah satu sorotan utama dalam persidangan adalah desain fitur yang dinilai sengaja dibuat untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.
Fitur seperti infinite scroll (gulir tanpa akhir) dan autoplay video membuat pengguna terus mengonsumsi konten tanpa jeda.
Hal ini menciptakan pengalaman yang membuat seseorang sulit berhenti, bahkan tanpa sadar telah menghabiskan waktu berjam-jam di aplikasi.
Pengacara KGM, Mark Lanier menyebut desain ini sebagai bentuk rekayasa kecanduan.
“Bagaimana membuat seorang anak tidak pernah meletakkan ponselnya? Itulah yang disebut rekayasa kecanduan. Mereka merancangnya dan memasukkan fitur-fitur itu ke dalam perangkat,” ujarnya, seperti disadur The Guardian, Sabtu (28/3/2026).
Desain semacam ini dinilai tidak hanya meningkatkan waktu penggunaan, tetapi juga berpotensi menciptakan ketergantungan psikologis, terutama pada pengguna usia muda yang masih dalam tahap perkembangan.
“Ini seperti kuda Troya, terlihat menarik dan menyenangkan, tetapi ketika masuk, justru mengambil alih,” tambahnya.
Baca juga: Cara Batasi YouTube Shorts untuk Cegah Anak Doom Scrolling
Dampak serius terhadap kesehatan mental Remaja
Kasus ini juga menyoroti dampak nyata dari penggunaan media sosial secara berlebihan pada kesehatan mental generasi muda.
KGM mengaku mulai mengalami depresi sejak usia 10 tahun dan didiagnosis mengalami gangguan dismorfik tubuh serta fobia sosial pada usia 13 tahun.
Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan penggunaan media sosial yang intens sejak kecil. Pengalaman ini disebut sebagai gambaran dari ribuan kasus serupa yang dialami anak dan remaja.
Paparan konten yang terus-menerus, termasuk standar kecantikan tidak realistis dan tekanan sosial, dapat memengaruhi cara pandang seseorang terhadap dirinya sendiri.
Selain itu, penggunaan media sosial yang berlebihan juga dapat merusak hubungan sosial di dunia nyata, seperti dengan keluarga maupun lingkungan sekolah.
Hal ini memperkuat kekhawatiran bahwa platform digital tidak hanya berdampak pada kebiasaan, tetapi juga pada kesehatan mental jangka panjang.
Perusahaan dinilai mengetahui risiko, tetapi kurang memberi peringatan
Dalam persidangan, juri juga mempertimbangkan apakah perusahaan mengetahui potensi bahaya dari produk mereka.
Hasilnya, mereka menyimpulkan bahwa kedua perusahaan dianggap tidak memberikan peringatan yang cukup kepada pengguna.
Pihak penggugat menilai bahwa perusahaan teknologi seharusnya lebih transparan terkait risiko penggunaan platform, terutama bagi anak-anak dan remaja.
Kasus ini bahkan dibandingkan dengan industri rokok pada 1990-an, di mana perusahaan dituduh mengetahui sifat adiktif produknya tetapi tidak mengungkapkan secara jelas kepada publik.
Meski demikian, pihak Meta dan YouTube membantah tuduhan tersebut. Mereka menilai bahwa kesehatan mental remaja adalah isu kompleks yang tidak bisa disebabkan oleh satu faktor saja.
Perwakilan Meta menyatakan bahwa mereka tidak setuju dengan putusan tersebut dan menegaskan bahwa perusahaan telah berupaya melindungi pengguna remaja di platform mereka.
Baca juga: Sering Dianggap Tak Berbahaya, Kebiasaan Anak Nonton YouTube Bisa Mengubah Perilaku Sosialnya
Awal gelombang gugatan terhadap industri media sosial
Putusan ini disebut sebagai momen penting dalam upaya menuntut pertanggungjawaban perusahaan teknologi atas dampak produknya.
Kasus ini merupakan bagian dari gelombang gugatan yang lebih besar, dengan lebih dari 1.600 penggugat, termasuk ratusan keluarga dan institusi pendidikan, yang mengajukan tuntutan serupa terhadap perusahaan media sosial.
Putusan ini juga berpotensi menjadi preseden hukum bagi kasus-kasus berikutnya yang tengah menunggu proses pengadilan.
Ke depannya, tekanan terhadap perusahaan teknologi diperkirakan akan semakin meningkat, terutama dalam hal perlindungan anak dan transparansi desain produk.
Kasus ini membuka diskusi luas tentang bagaimana teknologi dirancang dan sejauh mana tanggung jawab perusahaan terhadap dampaknya.
Di satu sisi, media sosial menawarkan hiburan dan konektivitas. Namun di sisi lain, jika tidak dikelola dengan bijak, platform ini juga dapat membawa risiko serius, terutama bagi generasi muda yang menjadi pengguna paling aktif.
Baca juga: Sama-sama Nonton YouTube, Kenapa Perilaku Anak Ada yang Positif dan Negatif?
Tag: #meta #youtube #digugat #disebut #picu #kecanduan #bahayakan #kesehatan #mental #remaja