Oversharing di Media Sosial, Haus Validasi atau Bentuk Minta Tolong?
Ilustrasi(FREEPIK)
21:10
24 Februari 2026

Oversharing di Media Sosial, Haus Validasi atau Bentuk Minta Tolong?

– Media sosial telah menjadi ruang yang sangat personal sekaligus publik. Di satu sisi, platform digital memungkinkan seseorang mengekspresikan diri dan menjalin relasi. 

Di sisi lain, tidak sedikit orang yang membagikan cerita pribadinya secara berlebihan, mulai dari keluh kesah emosional hingga konflik hidup yang seharusnya bersifat privat. 

Fenomena ini dikenal sebagai oversharing. Lalu, apakah perilaku tersebut menandakan seseorang haus validasi, atau justru sedang meminta pertolongan?

Baca juga: Kenapa Orang Gemar Oversharing di Media Sosial? Ini Penjelasan Psikolog

Oversharing jadi teriakan minta tolong yang tidak terucap

Psikolog Klinis Winona Lalita R., M.Psi., memandang oversharing bukan sekadar perilaku mencari perhatian.  Menurutnya, ada dimensi emosional yang lebih dalam dan sering kali tidak disadari oleh pelakunya sendiri.

Winona menjelaskan, oversharing dapat dipahami sebagai sinyal kebutuhan emosional yang tidak tersampaikan secara langsung.

“Daripada bilang mencari validasi, sebenarnya saya lebih suka sama satu istilah, oversharing itu adalah bentuk teriakan minta tolong dari seseorang terhadap orang lain di sekitarnya,” jelas Winona saat dihubungi Kompas.com, Senin (23/2/2026).

Ia menuturkan, teriakan minta tolong tersebut sering kali ditujukan pada reaksi sosial yang muncul setelah seseorang membagikan ceritanya.

Baca juga: Mengapa Banyak Orang Lebih Pilih Komplain di Media Sosial? Ini Kata Sosiolog

“Minta tolong terhadap suntikan dopamin atau reaksi orang lain. Misalkan, respon diyakinkan atau divalidasi emosi yang ia rasakan,” ujarnya.

Dalam praktiknya, batas antara kebutuhan akan pertolongan dan pencarian validasi menjadi sulit dibedakan.

“Memang akan kabur batasan antara teriakan minta tolong dengan mencari validasi, tapi bisa jadi kebutuhan inilah yang mau diteriakan ke orang-orang lain,” kata Winona.

ilustrasi  media sosial.Dok. Unsplash/Jakob Owens ilustrasi media sosial.

Ketika validasi dan eksistensi bertemu di media sosial

Winona menilai, jarang sekali seseorang secara terang-terangan menyampaikan bahwa ia sedang membutuhkan bantuan emosional. 

Akibatnya, media sosial menjadi medium alternatif untuk menyalurkan kebutuhan tersebut.

“Tapi sayangnya, jarang sekali yang langsung teriak minta tolong untuk dilihat emosinya. Alhasil mereka menjadi oversharing untuk meminta tolong dan dianggap eksistensinya bagi orang sekitarnya,” ungkapnya.

Baca juga: Saran Psikolog agar Media Sosial Tak Memicu Munculnya Mom Guilt

Kondisi ini diperkuat oleh perubahan pola relasi di era digital. Seseorang merasa bisa mencurahkan apa yang ia rasakan dan menunjukkan kehadirannya di ranah digital dengan berbagi pengalamannya. 

“Dengan perkembangan zaman yang bisa jalin relasi sama orang lain di sosial media, maka oversharing menjadi salah satu hal yang bisa dilakukan untuk membuktikan kamu itu eksis,” ujar Winona.

Meski begitu, ia mengingatkan, kebutuhan untuk eksis perlu diimbangi dengan kesadaran akan batasan diri. Penting yang namanya punya boundaries atau punya batasan.

Baca juga: Apa Itu Yapping? Ini Arti dan Maknanya yang Viral di Media Sosial

Validasi bisa ada, tetapi tidak selalu bermakna negatif

Pandangan berbeda disampaikan Psikolog Klinis Dewasa Adelia Octavia Siswoyo, M.Psi. 

Ia mengakui, kebutuhan validasi memang dapat menjadi salah satu latar belakang oversharing, tetapi tidak selalu bermakna negatif.

“Ada kemungkinan membutuhkan validasi, karena pembagian informasi di sosial media bisa juga berbentuk pendapat atau pertanyaan yg membutuhkan ruang diskusi,” jelas Adelia.

Menurutnya, membagikan cerita atau pendapat di media sosial tidak otomatis mencerminkan adanya masalah personal yang serius.

“Namun, tidak berarti mencerminkan kondisi rumah dan keluarganya ataupun relasinya,” ujarnya.

Baca juga: Flexing di Media Sosial, Normal atau Berlebihan? Psikolog Ungkap Batasannya

Kebutuhan konektivitas di luar lingkaran terdekat

Adelia menambahkan, oversharing juga bisa muncul karena kebutuhan konektivitas yang belum sepenuhnya terpenuhi dari relasi terdekat.

“Bisa jadi kebutuhan untuk berbaginya tidak cukup hanya dengan relasi terdekat. Selama ini kerap mendapatkan atensi dari lingkungan di luar keluarga dan pasangan, sehingga masih kerap berbagi untuk mendapat konektivitas di luar,” kata Adelia.

Dengan demikian, oversharing tidak bisa dipahami secara tunggal sebagai tanda haus validasi semata. 

Di balik unggahan yang tampak berlebihan, bisa tersembunyi kebutuhan untuk didengar, diakui emosinya, dan merasa terhubung, sekaligus tantangan untuk menjaga batasan diri di ruang digital yang semakin terbuka.

Baca juga: Sering Beda Pendapat dengan Pasangan, Red Flag atau Green Flag?

Tag:  #oversharing #media #sosial #haus #validasi #atau #bentuk #minta #tolong

KOMENTAR