KTT Trump-Xi Minim Hasil, Rivalitas AS-China Dinilai Masuk Babak Baru
Presiden China Xi Jinping (kiri) saat menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Aula Besar Rakyat di Beijing, China, 14 Mei 2026.(AFP/BRENDAN SMIALOWSKI)
20:06
16 Mei 2026

KTT Trump-Xi Minim Hasil, Rivalitas AS-China Dinilai Masuk Babak Baru

- Hubungan Amerika Serikat dan China memasuki babak baru usai Donald Trump dan Xi Jinping bertemu pada 14-15 Mei di Beijing.

Ini merupakan lawatan pertama Trump ke China sejak 2017 lalu pada periode kepresidenan sebelumnya.

Namun, pertemuan Trump dan Xi ternyata tidak menghasilkan kesepakatan-kesepakatan besar, seperti tarif dagang, perang di Iran, dan isu Taiwan.

Trump hanya sempat melempar peringatan kepada Taiwan agar tidak mendeklarasikan kemerdekaan secara formal, sebuah pernyataan yang langsung ditanggapi dengan tegas oleh Taipei.

Baca juga: Tak Peduli Peringatan Trump, Taiwan Tegaskan Negaranya Merdeka

Manajemen krisis dua kekuatan besar

Direktur Paramadina Graduate School of Diplomacy (PGSD), Ahmad Khoirul Umam menilai, KTT Trump-Xi merupakan manajemen krisis antara dua kekuatan besar dunia.

Menurutnya, keduanya mencoba menurunkan suhu konflik, tetapi tidak menyelesaikan akar persaingan atas perebutan kepemimpinan global.

"Pertemuan ini memperlihatkan paradoks besar dimana AS dan China saling bersaing keras, tetapi tetap saling membutuhkan," kata Umam dalam keterangannya kepada Kompas.com, Jumat (15/5/2026).

"AS ingin menahan dominasi teknologi China, sedangkan China ingin menjaga akses pasar, investasi, dan rantai pasok global," sambungnya.

Karena itu, hasil pertemuan yang minim terobosan konkret menunjukkan bahwa hubungan keduanya bukan lagi kemitraan, melainkan "competitive interdependence", yakni bekerja sama agar sistem tidak runtuh, sekaligus terus saling membatasi.

Baca juga: Delegasi AS Buang Semua Barang dari China Usai Kunjungan Kenegaraan

Thucydides Trap dan pesan keras China

Umam turut menyoroti penyebutan Thucydides Trap oleh Xi Jinping dalam pidato pembukaannya.

Menurutnya, pernyataan itu merupakan pesan keras bahwa China melihat rivalitas dengan AS sudah memasuki fase struktural, di mana kekuatan lama merasa terancam oleh kekuatan baru. 

"Xi ingin membingkai China sebagai kekuatan yang 'bangkit secara sah', sementara AS diposisikan sebagai hegemon yang harus belajar hidup dalam dunia multipolar," ujarnya.

Baca juga: Mewah tapi Minim Hasil, Ini Poin Penting Kunjungan Dua Hari Trump ke China

Diketahui, alam pidato pembukaannya, Xi turut menggambarkan situasi global yang bergejolak, dengan menyatakan dunia telah sampai pada "persimpangan jalan baru".

"Pertanyaannya sekarang adalah apakah China dan AS dapat melampaui apa yang disebut 'Perangkap Thucydides' dan mempelopori paradigma baru hubungan negara-negara besar?” kata Xi.

Perangkap Thucydides merujuk pada istilah yang menggambarkan kecenderungan konflik ketika kekuatan yang sedang muncul mengancam kekuatan yang sudah ada.

Baca juga: Trump Pulang dari Beijing, China Langsung Pesan 200 Pesawat Boeing

Implikasi global KTT Trump-Xi

Presiden AS Donald Trump (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Balai Besar Rakyat di Beijing pada 14 Mei 2026. 5 Poin Pertemuan Trump dan Xi Jinping, Apa yang Dibicarakan?AFP/Kenny Holston Presiden AS Donald Trump (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Balai Besar Rakyat di Beijing pada 14 Mei 2026. 5 Poin Pertemuan Trump dan Xi Jinping, Apa yang Dibicarakan?

Meski tak menghasilkan terobosan besar, Umam berpendapat, pertemuan Trump dan Xi memiliki tiga implikasi secara global.

Menurutnya, dunia akan semakin masuk ke dalam fragmentasi geoekonomi, dengan rantai pasok, teknologi, energi, dan mineral kritis akan makin dipolitisasi. 

Selain itu, negara-negara menengah seperti Indonesia akan menghadapi tekanan untuk memilih standar, pasar, dan mitra strategis.

Baca juga: Kebuntuan Diplomatik, Ironi Perdamaian, dan Hukum Abadi Perang

"Forum multilateral makin melemah karena keputusan besar semakin ditentukan lewat deal langsung antar-kekuatan besar," jelas dia.

Karena itu, pertemuan ini bukan menjadi sinyal meredanya rivalitas AS-China, melainkan upaya mengatur kompetisi agar tidak berubah menjadi perang terbuka.

"Justru karena kedua pihak kini secara sadar berbicara tentang 'jebakan perang besar', dunia sedang memasuki fase yang lebih berbahaya," tuturnya.

"Krisis Taiwan, Iran, energi, teknologi, dan perdagangan kini saling terhubung dalam satu arena konflik geopolitik global," pungkasnya.

Tag:  #trump #minim #hasil #rivalitas #china #dinilai #masuk #babak #baru

KOMENTAR