Takut Dicap Sombong, Orang Mapan Pura-pura Pernah Hidup Susah
- Di tengah perbincangan publik soal ketimpangan sosial, istilah privilese kerap muncul dengan nada sinis.
Mereka yang lahir dalam keluarga mapan atau tumbuh dengan akses pendidikan dan dukungan ekonomi memadai, sering kali merasa serba salah untuk mengakuinya.
Sebagian bahkan memilih untuk membuat narasi palsu terkait latar belakangnya agar tidak dicap sombong atau tidak pantas atas pencapaian yang diraih. Dalam situasi ini, mengakui kehidupan yang relatif nyaman sejak kecil dianggap sensitif, bahkan berisiko menuai kritik.
“Pada masyarakat yang sensitif terhadap ketimpangan, privilese bisa diasosiasikan dengan ketidakadilan. Individu mungkin merasa bersalah (privilege guilt) atau takut dianggap tidak pantas,” kata Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Syaifudin, M.Kesos, saat diwawancarai pada Senin (23/2/2026).
Ia menjelaskan, dinamika tersebut berkaitan dengan relasi kelas dan stigma sosial yang berkembang di masyarakat.
Baca juga: Fenomena Berangkat dari Nol, Pencitraan Pernah Hidup Susah
Dinamika kelas dan stigma sosial
Menurut Syaifudin, ketika ketimpangan sosial meningkat, identitas kelas atas menjadi semakin rentan terhadap kritik. Privilese tidak lagi dipahami sebagai bagian dari struktur sosial, melainkan kerap dibaca sebagai bentuk ketidakadilan personal.
Dalam kondisi tersebut, pengakuan atas privilese tanpa refleksi, dapat ditafsirkan sebagai kesombongan.
“Mengakui privilese tanpa refleksi dapat dibaca sebagai kesombongan. Maka, sebagian orang memilih menyamarkannya agar tetap diterima,” ujar dosen Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNJ itu.
Selain itu, budaya kerja keras yang ekstrem turut memperkuat tekanan ini. Keberhasilan yang ditopang dukungan keluarga atau sumber daya ekonomi, kerap dianggap “kurang heroik” dibanding cerita perjuangan dari bawah atau “berangkat dari nol”.
“Ini menunjukkan bagaimana norma meritokrasi menekan individu untuk menampilkan diri sebagai self-made, meskipun realitasnya lebih kompleks,” terang Syaifudin.
Baca juga: Mengapa Cerita Orang Sukses yang Dulunya Hidup Susah Lebih Disukai?
Ilustrasi orang kaya.
Mengapa sukses tanpa penderitaan diremehkan?
Dalam masyarakat yang “mengagungkan” narasi perjuangan, kesuksesan tanpa cerita kesulitan kerap dianggap kurang inspiratif. Padahal, setiap individu tetap menghadapi tantangan, meskipun dalam kadar berbeda.
“Kesuksesan tanpa penderitaan dianggap tidak dramatis dan kurang inspiratif. Pada kondisi ini, masyarakat menyukai cerita dengan konflik dan transformasi. Narasi kemiskinan menyediakan alur perjuangan yang emosional,” ungkap Syaifudin.
“Selain itu, dalam masyarakat yang mengalami ketimpangan tinggi, publik lebih mudah berempati pada mereka yang pernah tertindas dan ‘hidup susah’,” sambung dia.
Sebaliknya, Syaifudin mengatakan bahwa kesuksesan dari privilese kerap dipersepsikan sebagai kelanjutan garis lurus, bukan lompatan yang penuh rintangan atau perintis.
Baca juga: Mengapa Orang yang Punya Privilage Suka Mengaku Pernah Hidup Susah?
Kendati demikian, cara pandang ini problematik karena mengabaikan fakta bahwa setiap manusia tetap menghadapi tantangan, meskipun dalam tingkat berbeda seperti yang disebutkan sebelumnya.
“Mengagungkan satu jenis narasi saja akan dianggap menyederhanakan kompleksitas mobilitas sosial dan menutup diskusi tentang struktur yang mempermudah sebagian orang,” kata Syaifudin.
Dengan kata lain, fokus pada satu sudut pandang saja dapat menutupi kenyataan bahwa realitanya ada sistem yang mempermudah jalan bagi sebagian orang.
Baca juga: Mengapa Banyak Orang Bekerja Tak Kunjung Kaya? Ini Kata Sosiolog
Perlukah privilese dirayakan?
Pertanyaan lain kemudian muncul: apakah kehidupan yang relatif stabil sejak kecil juga layak dirayakan? Sebab, tidak sedikit yang menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak pantas untuk dibanggakan.
“Secara sosiologis, ya, tetapi dengan kesadaran reflektif. Kehidupan yang stabil dan penuh dukungan keluarga bukan dosa. Itu hasil distribusi sumber daya dalam struktur sosial,” tutu Syaifudin.
Ia menekankan, merayakan privilese tidak identik dengan pamer. Yang menjadi persoalan bukan keberuntungan itu sendiri, melainkan ketidakpekaan terhadap ketimpangan.
Ilustrasi orang kaya.
“Merayakan privilege bukan berarti pamer, melainkan mengakui adanya modal sosial, ekonomi, dan budaya yang membantu perjalanan hidup. Yang menjadi masalah bukan privilege itu sendiri, melainkan ketidakpekaan terhadap ketimpangan,” terang dia.
Syaifudin mengatakan, perayaan yang sehat adalah yang disertai tanggung jawab sosial. Dengan demikian, narasi keberhasilan tidak harus selalu lahir dari penderitaan, tetapi dari kesadaran bahwa kesempatan adalah hasil relasi sosial, dan bukan murni usaha individual.
Baca juga: Kenapa Fenomena Flexing di Media Sosial Tidak Selalu Negatif? Ini Kata Psikolog
Mengakui privilese termasuk pamer?
Mengakui privilese yang dimiliki bisa menjadi langkah awal membangun kesadaran kritis. Pengakuan tersebut menurut Syaifudin, membuka ruang untuk memahami bahwa keberhasilan tidak pernah sepenuhnya berdiri sendiri.
“Dengan memahami bahwa keberhasilan dipengaruhi modal keluarga, jaringan, dan struktur sosial, individu dapat mengembangkan empati terhadap mereka yang tidak memiliki akses serupa,” jelas dia.
Perihal mengakui privilese dianggap sebagai perilaku pamer, Syaifudin menerangkan, yang membedakan terletak pada niat serta konteksnya.
“Jika pengakuan disertai kerendahan hati dan komitmen berbagi, itu menjadi praktik etis. Sebaliknya, jika digunakan untuk menegaskan superioritas, ia berubah menjadi simbol dominasi yang berujung pamer,” jelas dia.
“Secara ideal, kesadaran privilese dapat menjadi fondasi solidaritas sosial dan tanggung jawab kolektif, tetapi dalam konteks praktik etis dan bukan untuk ajang dominasi serta pamer,” sambung Syaifudin.
Baca juga: 5 Dampak Konten Flexing di Media Sosial pada Kesehatan Mental, Termasuk Menurunkan Kepuasan Hidup
Tag: #takut #dicap #sombong #orang #mapan #pura #pura #pernah #hidup #susah