Arti Kue Keranjang saat Imlek, Bukan Sekadar Hidangan Wajib
Ilustrasi kue keranjang (Pixabay.com)
17:48
16 Februari 2026

Arti Kue Keranjang saat Imlek, Bukan Sekadar Hidangan Wajib

Kue keranjang hampir tak pernah absen muncul di meja perayaan Imlek dari tahun ke tahun. Kue ini tentu mudah dikenali dengan warna coklat gelapnya dan rasa manis serta aroma yang harum.

Hidangan yang akrab disebut sebagai nian gao oleh para masyarakat Tionghoa ini tak hanya legit dan kenyal digigit, namun punya makna mendalam.

Konon, filosofi masyarakat Tionghoa yang sarat akan ajaran budi luhur dan kebersamaan melekat dalam kue yang lengket ini.

Lantas, apa arti dari kue keranjang yang selalu muncul di perayaan Tahun Baru Imlek?

Rasa hingga tekstur punya arti masing-masing

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, kue ini punya nama asli nian gao. Adapun kata nian gao dan aksara Hanzi yang mewakilinya punya arti sama dengan kata "setiap tahun semakin tinggi".

Kata tersebut yang mendasari makna filosofis utamanya, yakni doa agar kehidupan seseorang terus meningkat, baik dalam hal karier, kesehatan, maupun kebahagiaan.

Tiap aspek dari kue ini juga punya nilai filosofis mendalam. Mari bedah satu persatu makna dari kue keranjang dalam tiap aspeknya.

  • Persatuan dan kekeluargaan (Tekstur)

Teksturnya yang sangat lengket melambangkan hubungan keluarga yang erat dan tidak terpisahkan.

  • Keberuntungan yang manis (Rasa)

Rasa manis yang dominan adalah simbol harapan agar di tahun yang baru, hanya hal-hal manis dan menyenangkan yang dialami.

  • Daya tahan dan kesabaran (Proses pembuatan)

Proses pembuatannya yang memakan waktu belasan jam mencerminkan kegigihan dan kesabaran untuk mencapai hasil terbaik dalam hidup.

Membuat kue keranjang sebenarnya menggunakan bahan yang sangat sederhana, namun membutuhkan kesabaran ekstra.

Kunci kekenyalan dan keawetannya bukan terletak pada pengawet kimia, melainkan pada proses pengukusan yang sangat lama.

Proses yang lama ini akan mematangkan tepung secara sempurna dan menyebabkan gula mengalami karamelisasi total.

Hal ini membuat kue berwarna cokelat gelap, mengkilap, bertekstur legit, dan mampu bertahan hingga satu tahun tanpa berjamur.

Masyarakat Tionghoa percaya bahwa saat membuat kue keranjang, seseorang dilarang berbicara kasar atau sedang dalam suasana hati yang buruk agar kuenya "jadi" dengan sempurna dan membawa keberuntungan.

Makanan para dewa

Menurut legenda, kue ini disajikan untuk Dewa Dapur (Zao Jun) agar mulutnya menjadi lengket dan hanya bisa melaporkan hal-hal manis atau baik kepada Kaisar Langit tentang perilaku keluarga yang memasak kue.

Keluarga yang memasak kue keranjang akan mendapatkan penilaian baik oleh Kaisar Langit berkat memanjakan lidah sosok Zao Jun tersebut.

Masuk ke Indonesia

Kue keranjang masuk ke Nusantara seiring dengan gelombang migrasi masyarakat Tionghoa dari wilayah Tiongkok Selatan (seperti Hokkien, Teochew, dan Kantonis) berabad-abad silam.

Para imigran membawa tradisi kuliner ini sebagai bagian penting dari ritual peribadatan dan perayaan Imlek di tanah perantauan.

Penamaan "kue keranjang" sendiri muncul karena wadah cetakannya yang terbuat dari keranjang bambu kecil berlubang.

Pemilihan nama tersebut adalah contoh menarik bagaimana istilah lokal menggantikan nama aslinya, tetapi tetap menjaga esensi tradisinya.

Adapun untuk menyesuaikan diri di selera orang Indonesia, ada beberapa modifikasi dari kue keranjang yang berbeda dari versi aslinya.

Selain rasa original (gula merah), di Indonesia banyak ditemukan variasi rasa seperti pandan atau santan yang menyesuaikan dengan lidah lokal.

Bukan hanya dikonsumsi sendiri, kue keranjang wajib dibagikan kepada tetangga dan kerabat, termasuk yang non-Tionghoa sebagai simbol berbagi keberuntungan.

Kontributor : Armand Ilham

Editor: Agatha Vidya Nariswari

Tag:  #arti #keranjang #saat #imlek #bukan #sekadar #hidangan #wajib

KOMENTAR