Waktu yang Tepat bagi Anak untuk Mulai Belajar Puasa, Ini Saran Dokter
Ilustrasi anak belajar puasa Ramadhan(Shutterstock/arapix)
11:35
22 Januari 2026

Waktu yang Tepat bagi Anak untuk Mulai Belajar Puasa, Ini Saran Dokter

- Sebagian orangtua bertanya-tanya, kapan anak sebaiknya mulai belajar berpuasa? Kekhawatiran ini biasanya muncul karena orangtua takut anak belum cukup kuat menahan lapar dan haus seharian.

Dokter Irwan Heriyanto, MARS, Board of Medical Excellence Halodoc, menjelaskan bahwa anak sebenarnya sudah boleh mulai belajar puasa sejak sedini mungkin, asalkan dilakukan secara bertahap dan atas keinginan anak itu sendiri atau tidak dipaksakan.

Tidak harus langsung puasa penuh

Menurut dr. Irwan, anak tidak harus langsung menjalani puasa penuh sejak awal. Proses belajar puasa dapat dimulai dari durasi yang sangat singkat, sesuai kemampuan anak. Ia menilai, yang terpenting bukanlah lamanya puasa, melainkan niat dan pengalaman anak dalam mencoba.

“Waktu saya kecil, mungkin umur TK, sudah mulai belajar puasa. Enggak harus full, enggak harus setengah hari. Dia punya niat mau puasa saja, itu sudah bagus,” ujar dr. Irwan dalam acara Halodoc Talks di Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026).

Jika mengacu pada pengalaman dr. Irwan yang mulai berpuasa sejak TK, maka usia yang dimaksud adalah empat hingga enam tahun.

Ia mencontohkan, anak dapat memulai puasa hingga waktu tertentu, misalnya sampai zuhur, lalu perlahan ditingkatkan sesuai kemampuan.

Menurutnya, proses ini sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang menyenangkan, bukan dengan tekanan.

“Kalau dia kuat sampai zuhur, ya enggak apa-apa. Nanti bisa ditingkatkan pelan-pelan. Nanti di usia tujuh tahun, mungkin dia sudah bisa full. Itu disemangati saja terus,” katanya.

Mulai sejak dini, tapi tanpa paksaan

Dokter Irwan menekankan bahwa keinginan anak untuk berpuasa harus datang dari dirinya sendiri. Anak yang merasa bangga karena berhasil mencoba puasa akan lebih termotivasi untuk mengulanginya.

Rasa bangga tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan positif pada anak.

“Dimulai dari sejak dini saja. Kalau memang dia sudah mau ikut puasa, ya enggak apa-apa. Mau satu jam, dua jam, yang penting buat dia, ‘eh aku sudah puasa’,” ujarnya.

Perhatikan kondisi gizi anak

Meski anak boleh belajar puasa sejak dini, dr. Irwan mengingatkan bahwa kondisi gizi tetap menjadi faktor utama yang harus diperhatikan.

Orangtua perlu memastikan anak memiliki asupan makanan yang cukup, seimbang, dan tidak mengalami gangguan tumbuh kembang.

“Perhatikan juga intake-nya sehari-hari seperti apa, kandungan makanannya seperti apa. Itu harus bagus dulu,” kata dr. Irwan.

Sementara itu, anak dengan kondisi gizi yang kurang sebaiknya tidak dipaksakan untuk berpuasa.

Suplemen dan vitamin boleh diberikan bila perlu

Di sisi lain, dr. Irwan juga menilai, anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan tetap membutuhkan asupan nutrisi tambahan bila diperlukan.

Orangtua boleh memberikan suplemen pendukung pertumbuhan sesuai kebutuhan anak.

“Anak-anak kan perlu pertumbuhan. Itu juga perlu dibantu dengan suplemen-suplemen untuk pertumbuhan,” saran dr. Irwan.

Namun, ia menegaskan bahwa suplemen hanya bersifat pendukung, bukan pengganti makanan utama.

Kunci utama: tidak memaksa

Dokter Irwan kembali menegaskan bahwa anak tidak boleh dipaksa berpuasa jika belum siap secara fisik maupun mental.

“Artinya, untuk anak-anak kalau ingin memulai puasa, sedini mungkin, kalau memang anaknya sudah mau, jangan dipaksa. Tapi perhatikan juga intake-nya dia,” tegas dr. Irwan

Menurutnya, pendekatan yang lembut dan bertahap akan membuat anak lebih nyaman belajar berpuasa hingga kelak mampu menjalankannya sebagai kewajiban dengan kesadaran sendiri.

Tag:  #waktu #yang #tepat #bagi #anak #untuk #mulai #belajar #puasa #saran #dokter

KOMENTAR